Yogi Adityanath Dinilai Akan Sukseskan Program Hindutva, India Tanpa Muslim

515
Pendeta radikal hindu anti-Islam, Yogi Adityanath

Hindutva, secara kasar diterjemahkan sebagai “Hinduness”, yaitu upaya untuk menciptakan tanah air Hindu yang bebas dari para pemeluk agama selain Hindu.

Upaya dikhawatirkan akan terlaksana setelah Perdana Menteri India Narendra Modi menunjuk pendeta Hindu anti-Islam sebagai pemimpin di Uttar Pradesh, negara bagian India yang paling padat penduduknya.

Para pengamat melihat bahwa Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP), partai pengusung Modi berambisi untuk menang dalam pemilu mendatang untuk memenangkannya. Lebih jauh, partai itu akan melakukan agenda Hinduisme yang semakin radikal di India.

Sebelumnya pada 2015, seorang pria Muslim digantung hidup-hidup di desa Bishara, Uttar Pradesh karena menyembelih sapi untuk dimakan dagingnya. Malamnya, msyarakat Hindu merayakan hal itu dengan menyalakan kembang api dan melakukan aksi saling siram satu sama lain dengan bubuk berwarna cerah.

Kondisi tersebut menandai popularitas Yogi Adityanath, pendeta Hindu yang diangkat Modi memimpin Uttar Pradesh. Ia dikenal sebagai sosok anti-Islam dan dipuja-puja masyarakat Hindu di wilayah itu. Dimana penganut Islam hanya menempati 20 persen dari wilayah.

“Dia seperti dewa bagi kami,” kata Kiran Rana, ibu dari salah satu dari 14 orang yang ditangkap atas pembunuhan Mohammad Akhlaq (50 tahun) karena dicurigai membunuh sapi saat itu. Bagi penganut Hindu, sapi adalah makhluk suci yang tidak boleh disakiti.

Warga Muslim di Uttar Pradesh Ketakutan

Untuk diketahui, wilayah Bishara hanya sekitar 30 kilometer (20 mil) dari pusat New Delhi, dengan hanya memiliki akses listrik selama tujuh jam di malam hari. Warga Hindu di Bishara mengatakan kepada AFP bahwa pemerintah sebelumnya berinteraksi baik dengan Muslim untuk alasan pemilu. Hal itu kerap dikampanyekan BJP untuk menang dalam pemilu di Uttar Pradesh. “Mereka bersikeras hubungan antara kedua komunitas tetap baik,” kata AFP.

Namun, warga Muslim memberikan gambaran yang berbeda. Mohammad Akhtar, seorang tukang kayu Muslim yang berencana untuk meninggalkan desa dengan keluarganya ke rumah baru di pegunungan utara, mengatakan bahwa sejak tragedi pembunuhan Akhlaq, ada ketegangan mendasar di desa.

“Tidak ada cinta atau kasih sayang. Beberapa penduduk desa tidak akan berbicara dengan Muslim, bahkan anak-anak mengejek kami. Ada banyak intimidasi. Kami tidak merasa aman,” katanya. Di gang-gang belakang Bishara, bagaimanapun, warga desa memiliki kekhawatiran yang lebih besar.

Hal itu terbukti dalam pidato Yogi Adityanath setelah ditunjuk menjadi pemimpin. Ia berjanji akan bersikap keras terhadap rumah pemotongan hewan, yang telah secara tradisional dijalankan oleh umat Islam.

Kiblat.net

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY