Waspadai Jurnalis dan Media Propaganda Andalan Dina Sulaeman, Gembong Syiah Indonesia

341

Pada artikel berjudul Menyanggah Logika Sesat Dina Sulaeman Tentang Aleppo dan Suriah, telah dibahas mengenai siapa Dina Sulaeman dan beberapa bantahan terkait halusinasinya dalam memojokkan kaum muslimin di Suriah. Dalam berbagai tulisannya, Dina kerap merujuk kepada pemberitaan dari jurnalis andalannya, seperti Eva Bartlett dan Vanessa Beeley.

Jurnalis dan media-media rujukan Dina sering kali membuat pemberitaan tidak berimbang terkait Suriah dan terkesan pro-Assad. Sebagai contoh, pada bulan April lalu ketika terbit berita tentang terbunuhnya 27 orang pada serangan pesawat tentara rezim Suriah yang menghancurkan rumah sakit Al-Quds di Aleppo, hal tersebut memicu kemarahan yang secara singkat menempatkan konflik di Suriah sebagai suatu ‘urusan internasional’, sehingga banyak aksi protes digelar di berbagai belahan dunia.

Sebuah media pro-Assad, SANA (Syrian Arab News Agency), menyangkal adanya serangan terhadap rumah sakit Al-Quds. Russia Today (RT), yang juga merupakan media propaganda rujukan Dina, kemudian mengutip insiden terpisah dari video panjang yang direkam oleh seorang jurnalis garis depan di Aleppo, Hadi Al-Abdallah. RT lalu mengeditnya untuk menghilangkan dialog yang menyebutkan tentang bom yang berasal dari sebuah serangan pesawat, kemudian mereka siarkan pada suatu saluran penyiaran Arab dengan headline “Menyalahkan sebuah serangan rumah sakit kepada kelompok pemberontak”.

Klarifikasi Hadi Al-Abdallah terkait penyalahgunaan video yang diambilnya oleh Russia Today
Klarifikasi Hadi Al-Abdallah terkait penyalahgunaan video yang diambilnya oleh Russia Today

Dampaknya mengerikan. Sejumlah kantor berita seperti 21st Century Wire dan Mint Press News, yang juga merupakan media andalan Dina, mengikuti jejak RT dalam mendiskretkan laporan  asli tentang penyerangan rumah sakit oleh tentara Assad. Mereka memojokkan berbagai NGO (Non Government Organization) dan satuan penyelamat yang terlibat dalam pemberitaan dan evakuasi korban serangan pesawat pada rumah sakit Al-Quds. Kampanye tagar #AleppoIsBurning pun tak luput dari pemberitaan miring media pro-Assad bahwa tagar tersebut adalah bagian dari konspirasi barat.

Contoh lainnya ketika terjadi derita kelaparan di Madaya yang terkepung, Eva Bartlett, seorang penulis berkebangsaan Kanada yang bekerja untuk Russia Today, mengklaim bahwa gambar-gambar dari beberapa anak yang kekurangan gizi adalah palsu dan merupakan sebuah propaganda.

Melalui tulisannya yang berjudul Propaganda Alert : Madaya Media Fabrications, Recycled Photos, Bartlett menyatakan bahwa foto-foto yang beredar adalah hasil ‘daur ulang’ dari kampanye propaganda lain dan bahkan dari negara lain, lalu diklaim sebagai foto-foto yang diambil di Madaya. Benarkah?

Hal ini hanyalah sebuah upaya penggembosan fakta agar tidak ada bantuan masuk ke Madaya. Silahkan baca berita pembanding yang ditulis oleh seorang jurnalis bernama Shawn Carrié dengan judul Anatomy of a Siege: The Story of Madaya. Dalam tulisan yang diterbitkan oleh News Deeply tersebut, Carrié memaparkan bahwa derita kelaparan yang terjadi di Madaya bukan propaganda. Bahkan pengepungan Madaya sudah terjadi sejak tahun 2015.

Serupa dengan Eva Bartlett, Vanessa Beeley yang juga merupakan jurnalis favorit Dina secara tendensius sering mengeluarkan pemberitaan miring terkait konflik di Suriah. The White Helmets, sekelompok orang yang secara rutin berjasa mengeluarkan tubuh dari reruntuhan bangunan akibat serangan pesawat, tak luput dari pemberitaan miring Beeley. Menurutnya, kegiatan penyelamatan yang dilakukan The White Helmets adalah suatu ‘aksi propaganda’ untuk mendukung kebijakan Washington terkait pergantian rezim di Suriah. Artikel Beeley bisa dibaca di sini.

Mint Press News mempublikasi ulang artikel yang ditulis Beeley dan kemudian diikuti oleh pernyataan lain : “The White Helmets tidak lebih dari sebuah organisasi penyelamat teroris yang dibiayai dan disutradarai oleh pemerintah barat, agen intelejen, dan yayasan yang bertujuan untuk membantu para ‘teroris’ dalam menghancurkan Suriah yang sekuler. Silahkan baca di sini.

Bartlett dan Beeley adalah anggota komite pengarah dari suatu organisasi bernama Syria Solidarity Movement (SSM) (Lihat di sini), sebuah organisasi aktifis dan terdaftar sebagai organisasi nirlaba yang telah mengumpulkan lebih dari 1,5 juta dolar dari para donatur sejak didirikan pada tahun 2007. SSM pernah menyelenggarakan demonstrasi dalam mendukung rezim Suriah, dan dua tim dari mereka berangkat ke Suriah dengan visa resmi yang diatur oleh sebuah NGO Iran (Baca : https://lists.riseup.net/www/arc/syriasolidarity/2014-05/msg00001.html).

Pada bulan Juni 2014, organisasi ini membiayai seorang delegasi untuk melakukan perjalanan ke Suriah dalam rangka mengobservasi pemilihan presiden, yang dikecam oleh banyak komunitas intenasional sebagai “Panggung palsu yang telah diatur”, dengan Bashar Al-Assad memperoleh 89 persen suara.

Pagi hari di waktu pemilu, delegasi yang bernama Mairead Maguire tersebut, seorang yang ternyata meraih nobel perdamaian, menerbitkan suatu dukungan yang menyatakan “Pemungutan suara adalah tentang menunjukkan skala nyata dari dukungan publik terhadap Presiden Assad untuk menikmati suasana dalam negeri dan yang secara heroik menolak agresi asing yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.”

Bersambung.

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY