Warga Gaza Menderita Krisis Kesehatan Akibat Kekurangan Obat-obatan

21

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menekankan bahwa ratusan pasien di Gaza saat ini dalam bahaya karena daerah ‘kantong’ yang dikepung itu telah menderita kekurangan obat-obatan. Sekitar setengah dari obat-obatan yang dibutuhkan saat ini dalam persediaan terbatas, menurut Wakil Menteri Kesehatan Palestina Yousef Abu-Rish. “Situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuat kehidupan ribuan pasien di Jalur Gaza dipertaruhkan karena kurangnya obat-obatan yang diperlukan,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Pasien kanker di Gaza tidak dapat menerima pengobatan karena sangat kekurangan obat kemoterapi,kesulitan ini merupakan bagian dari krisis kemanusiaan yang berkembang di daerah yang diblokade Israel dan Mesir. Juru bicara Departemen Kesehatan di Gaza, Eşref al-Kudra, memperingatkan sebelumnya bahwa obat yang digunakan untuk pengobatan pasien kanker di rumah sakit Rantisi telah habis, sehingga perawatan di rumah sakit dihentikan, seperti yang dilaporkan oleh media Anadolu Agency (AA ). Rumah sakit Rantisi adalah satu-satunya institusi kesehatan di Gaza yang memberikan perawatan pada pasien kanker. Kudra juga melaporkan bahwa obat yang disebut Neupogen, yang berfungsi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, serta obat-obatan kemoterapi, telah benar-benar habis. Ia menekankan bahwa krisis yang sedang berlangsung saat ini di Gaza harus segera berakhir, Kudra mencatat bahwa kesehatan ratusan pasien berada dalam status bahaya.

Blokade Israel yang sangat lama (lebih dari 1 dekade) di Jalur Gaza telah menciptakan kekurangan obat-obatan secara kronis di fasilitas kesehatan Palestina. Situasi kemanusiaan di wilayah Palestina yang dijajah semakin memburuk karena rumah sakit harus berjuang untuk merawat korban yang semakin banyak sejak berlangsungnya aksi protes di perbatasan Gaza dengan wilayah Palestina yang dijajah dimulai pada 30 Maret. Sistem kesehatan Gaza yang terdiri dari 13 rumah sakit umum dan 14 klinik yang dikelola oleh LSM telah berada dalam kondisi serba kekurangan karena blokade ketat yang terus-menerus. Kekurangan terkait obat-obatan dan persediaan perlengkapan bedah.

Israel mengontrol semua akses ke dan dari Jalur Gaza, ditambah dengan  Mesir yang mengontrol perbatasan Gaza selatan. Faksi Hamas berkuasa di jalur Gaza, dan telah berperang tiga kali melawan teroris Israel sejak tahun 2008. Di bawah blokade ketat Israel yang telah berlangsung selama lebih dari 10 tahun, Gaza tidak memiliki infrastruktur dan peralatan medis utama. Banyak pasien berusaha melakukan perjalanan ke tempat lain (luar negeri) untuk mendapatkan perawatan.

Sejak tahun 2007, Jalur Gaza berada di bawah blokade Israel dan Mesir yang melumpuhkan  dan menghancurkan perekonomian jalur Gaza dan merampas hak-hak sekitar 2 juta penduduk dari banyak komoditas penting, termasuk makanan, bahan bakar dan obat-obatan. Di daerah kantong yang diembargo lama itu, situasi kemanusiaan semakin memburuk setiap hari.

Puluhan warga Palestina telah lama berdemonstrasi menentang tingkat pengangguran yang tinggi di Jalur Gaza, yang telah menderita di bawah blokade Israel yang sangat melumpuhkan. Adanya kemiskinan yang merajalela dan angka pengangguran yang tinggi, banyak dari 2 juta penduduknya bergantung pada layanan yang disediakan oleh badan bantuan PBB UNRWA. Para demonstran meminta pemerintah setempat dan Departemen Tenaga Kerja yang berbasis di Ramallah untuk campur tangan guna menciptakan lapangan kerja bagi warga Palestina yang tidak punya pekerjaan di daerah pantai itu. Bank Dunia sebelumnya memperingatkan bahwa ekonomi Gaza dalam keadaan “terjun bebas,” menyerukan kepada Israel dan masyarakat internasional untuk mengambil tindakan segera untuk menghindari “keruntuhan mendadak” di wilayah Palestina. Menurut bank dunia, pengangguran kini di atas 50 persen dan lebih dari 70 persen diantaranya adalah pemuda Gaza.

Daily Sabah

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY