Walikota Perancis Mengusir Muslimah Penjaga Kios Karena Memakai Jilbab

46

Seorang muslimah Prancis berdarah Turki dikeluarkan dari kiosnya di pasar Natal oleh Walikota Saint-Gratien di wilayah Val-d’Oise, Prancis utara, pada hari Sabtu (22/12) kemarin.

Menurut laporan dari media setempat, muslimah yang bernama Zekiye Yıldırım itu diminta untuk meninggalkan pasar oleh Walikota Julien Bachard karena melanggar undang-undang sekularisme dengan mengenakan jilbab selama pelayanan publik di pasar.

Yıldırım mengatakan bahwa dia membuka toko roti di pasar Natal lokal, tetapi hasil penjualannya dipotong sebelum ia menyelesaikan hari pertama di pasar tersebut.

Ketika walikota melihat Yıldırım mengenakan jilbab, ia segera memintanya untuk melepaskan jilbab atau akan digantikan oleh orang lain (sebagai penjaga kiosnya).

Menolak melepas jilbabnya, Yıldırım meminta Bachard untuk menyudahi pelarangannya pada hari itu dan tidak melakukannya lagi untuk hari berikutnya, demi menghindari rasa malu di depan umum tetapi walikota menolak tawaran tersebut dan memintanya untuk segera pergi.

Bachard kemudian membela tindakannya itu dengan mengatakan bahwa ia sedang menegakkan hukum. Bachard menganggap Yıldırım bersalah karena telah mengenakan simbol keagamaan yang khas selama pelayanan publik dan ia meminta Yıldırım untuk mengenakan pakaian standar.

Namun, para ahli hukum setempat mengatakan meskipun pasar Natal adalah layanan publik yang disediakan oleh pemerintah kota setempat, apa yang dilakukan Zekiye Yıldırım tidak dapat dianggap sebagai layanan publik, oleh karena itu walikota dinilai melakukan kejahatan diskriminasi publik.

Daily Sabah

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY