UMM MUHAMMAD : ‘Suriah tidak akan pernah menjadi seperti dulu lagi’

1279

Di Yordania, satu dari empat penduduk adalah pengungsi, sebagian besar dari mereka berasal dari Suriah. Sebagian besar tidak tinggal di kamp-kamp, ​​tetapi di kota-kota dan desa-desa, mereka sering hidup dalam kondisi mengenaskan.

Di antara yang paling rentan adalah perempuan yang berstatus orang tua tunggal, banyak di antaranya tidak memiliki apapun saat Perang Suriah memasuki tahun keenam – dan mereka semakin merasa putus asa.

Ini adalah salah satu kisah mereka.

Di sebuah apartemen kosong di pinggiran kota Yordania yang sepi di tara Mafraq, Umm Muhammad, 40 tahun tinggal bersama enam anaknya. Ketika dia membuka pintu bagi pengunjung, anak gadis bungsunya, kembar dua tahun, mulai menangis dan memeluk ibunya. Mereka takut; mereka jarang melihat pengunjung.

Putri remaja Umm Muhammad, wajahnya yang pucat di bawah jilbab hitam, mencoba untuk menghibur si kembar saat ibu mereka berbicara.

“Kami dari Homs,” katanya. “Suatu hari, setelah perang dimulai, kami mendapat peringatan. Kami harus meninggalkan rumah kami segera. Saya pikir kami hanya akan pergi selama beberapa jam dan kemudian kembali, untuk tinggal di sana. Tapi ketika kami kembali, lingkungan kami menjadi reruntuhan. ”

Keluarga kami mencoba untuk kembali pada apa yang tersisa dari rumah mereka dengan harapan menyelamatkan beberapa barang-barang mereka, tetapi mereka tidak pernah berhasil.

“Ada mayat di mana-mana,” kata Umm Mohammed. “Semua kami tinggalkan dengan hanya membawa ID dan pakaian yang kami kenakan.”

Keluarga Umm Muhammad melarikan diri ke desa terdekat, dan kemudian lari lagi, dan lagi.

“Seolah-olah perang itu mengikuti kami,” katanya. “Setiap kali kami harus pindah, saya begitu khawatir pada anak perempuan saya karena orang-orang bersenjata akan memperkosa perempuan muda di depan orang tua mereka. Saya tahu apa yang terjadi pada salah satu teman terdekat saya. Dia hamil saat dia diperkosa. Mereka merobek perutnya dan memotong bayinya berkeping-keping. ”

Keluarga itu kemudian melarikan diri ke Yordania, di mana suami Umm Muhammad mulai bekerja secara ilegal untuk menyediakan kebutuhan bagi mereka.

“Dia mengerjakan segala sesuatu yang dia bisa : pekerja konstruksi, menjual sayuran. Tapi dia tertangkap dan mereka mengirimnya kembali ke Suriah, “katanya. “Itu terjadi pada bulan Desember 2014. Saya tidak dapat berita darinya sejak itu. Ada rumor bahwa ia berangkat ke Eropa, tapi kami tidak tahu apakah itu benar. ”

Salah satu putri remajanya memasuki ruangan dengan nampan kopi. Ditanya tentang ayahnya, dia tersenyum malu-malu dan mengatakan dia yakin bahwa suatu hari ia akan melihatnya lagi.

“Dia adalah orang yang peduli dan penuh kasih,” kata Umm Muhammad. “Kami Badui, dan untuk istri Badui, rumahnya adalah kerajaannya. Wanita melakukan tugas rumah tangga; dan para pria menyediakan roti. Suami saya selalu memperhatikan kami dengan sangat baik, tapi sekarang aku sendirian. Tanggung jawab ini terasa sangat berat bagi saya. ”
Sejak suaminya pergi, dia bilang dia telah mulai mengenakan cadar sepenuhnya. “Saya tidak pernah memakainya di Suriah, tapi sekarang saya lakukan. Sebagai seorang wanita yang sedang sendiri, saya merasa saya harus melindungi diri sendiri. ”

Untuk mendapatkan sedikit uang, Umm Muhammad membersihkan tangga di gedung-gedung, tetapi sering juga dia terpaksa harus mengemis pada tetangga untuk sesuatu yang bisa dimakan.

“Mereka memberi kami bantal yang sekarang kita duduki dan sarapan kami pagi ini. Sekarang saya menjadi beban bagi orang lain, “katanya, mengusap matanya.

“Ini sangat sulit untuk diterima. Saya telah kehilangan semua harapan. Jika perang benar-benar berhenti, setidaknya akan memakan waktu 50 tahun untuk membangun kembali Suriah – dan Suriah tidak akan pernah menjadi seperti dulu lagi “.

Refugees live under very poor conditions

Al Jazeera

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY