Turkistan Timur (Uighur) Sebagai Tunas Peradaban (bag. 4)

238
Buku rujukan penulis dalam menerjemah, merupakan kompilasi semua paper ilmiah karya beberapa akademisi dan profesor multi bidang yg membahas persoalan Uyghur pada simposium internasional bertajuk "HÜR DOĞU TURKISTAN", artinya "Bebaskan Turkistan Timur". Simposium dengan 4 bahasa (Uyghur, Arab, Inggris, Turkish) yg digelar di Istanbul tahun 2010 itu terdiri dari 4 bab bahasan pokok; Akar Sejarah Uyghur, Human Right dan Kondisi Uyghur, Resisten China dan Sikap Dunia Internasional serta Gagasan Solusi Untuk Uyghur Turkistan Timur

Oleh: Prof. Dr. Alimcan Inayet (Dosen Institute of Turkish World Studies, Ege University di Turki)
———————————————————————-

Pasca 1.000 tahun lamanya bangsa Turki Uyghur menganut hidup nomaden berpindah-pindah, akhirnya mereka bertransformasi dan menetap dengan melahirkan budaya toleransi yang tiada duanya.

Mereka tidak pernah menolak mentah begitu saja budaya asing, karena mereka dulunya adalah penganut Shamanisme*(1), lalu agama Manichaeism*(2), kemudian menjadi Kristen dan akhirnya masuk Islam. Mereka melalui semua budaya itu dan tetap menjaganya.

Hal ini diperkuat dengan fakta sejarah bahwa selama abad ke-5 dan ke-6 M, Beberapa wilayah Turkistan Timur seperti kota Hotan, Kuça, Turfan menjadi pusat aktivitas dan penyebaran agama Budha.

Ketiga kota tersebut juga menjadi pusat penyebaran agama Manichaeism dan Nasturi Kristen pada abad ke-8 dan ke-9 M. Berbagai literatur dan buku serta lukisan dan gambar-gambar yang ada di dinding kuil Budha yang mencerminkan ajaran Budha dan Manichaeism berasal dari masa ini.

Tatkala Satuk Bughra Khan, penguasa Uyghur dari dinasti Karahanli melakukan konversi menjadi muslim di abad ke-10 M, bangsa Turk Uyghur pun mengikuti beliau.

Beberapa masterpiece literatur seperti Kutadgu Bilig (The Sacred Knowledge) dan Divanü Lügati’t-Türk*(3) (Collection of Turkish Dictionaries) inilah yang menjadi produk dari masa dinasti Islam bangsa Turk Uyghur.

Bangsa Turk Uyghur di Turkistan Timur ini benar benar menjunjung tinggi toleransi dan bernafas dengan penuh harmoni dengan kebudayaan lain yang pernah mereka temui. Mereka so curious dan selalu mengadaptasi kebaikan yang ada di peradaban lainnya bila dirasa cocok.

Sebagai contoh konkretnya adalah, bagaimana ketika sebenarnya mereka menggunakan alfabet Göktürk tapi juga masih doyan memakai alfabet Soǧd Kökenli Uyghur, alfabet Çagatay, Cyrillic dan Latin. Adapun saat ini, mereka menggunakan alfabet derivasi dari huruf Arab.

————————————————-
Wallahu’alam. Bersambung insyaAllah
Penerjemah: Al Faqir Akbar Fachreza
————————————————-

Keterangan foto:

Buku rujukan penulis dalam menerjemah, merupakan kompilasi semua paper ilmiah karya beberapa akademisi dan profesor multi bidang yg membahas persoalan Uyghur pada simposium internasional bertajuk “HÜR DOĞU TURKISTAN”, artinya “Bebaskan Turkistan Timur”. Simposium dengan 4 bahasa (Uyghur, Arab, Inggris, Turkish) yg digelar di Istanbul tahun 2010 itu terdiri dari 4 bab bahasan pokok; Akar Sejarah Uyghur, Human Right dan Kondisi Uyghur, Resisten China dan Sikap Dunia Internasional serta Gagasan Solusi Untuk Uyghur Turkistan Timur.

————————————————————————-
Referensi:

(1). Untuk mendapat gambaran sekilas tentang kepercayan ini bisa melihat pemaparan ensiklopedi fenomenal Britannica yang sudah digitalized https://www.britannica.com/topic/Manichaeism

(2). Untuk mendapat gambaran sekilas tentang kepercayan ini bisa melihat pemaparan ensiklopedi fenomenal Britannica yang sudah digitalized https://www.britannica.com/topic/shamanism

(3). Bagi yang berminat untuk melihat buku kuno ini, silakan klik untuk versi pdf-nya;

ديوان لغات الترك لمحمود بن الحسين الكاشغري : محمود بن الحسين الكاشغري : Free Download, Borrow, and Streaming : Internet Archive
ديوان لغات الترك لمحمود بن الحسين الكاشغري المتوفى سنة 1102م رحمه الله طبعة الدولة…
archive.org

 

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY