Turkistan Timur (Uighur) Sebagai Tunas Peradaban (bag. 2)

39
Anak anak muslim Uyghur dibawah 18 tahun yang dilarang masuk masjid sedang melaksanakan shalat di halaman luar

Oleh: Prof. Dr. Alimcan Inayet (Dosen Institute of Turkish World Studies, Ege University di Turki)
———————————————————————–

Identitas Kebangsaan Turk Uyghur

Tak ada keraguan sedikitpun bahwa bangsa Uyghur yang bertempat tinggal di wilayah Turkistan Timur (Xinjiang) ini adalah bangsa Turki secara etnis maupun kultural; budayanya.

Bilge Kağan dalam Prasasti Orkhon (Orhun Yazıtları) menyebutkan; “Dokuz Oğuz benim kavmim idi” (“Sesungguhnya sembilan Oğuz itu merupakan representasi bangsaku”). Dari sinilah, semakin jelas dan semua tahu bahwa sembilan Oğuz yang dimaksud itu adalah Turk Uyghur.

Sebagaimana penuturan seorang translator masyhur bernama Singku Seling Tutung yg hidup pada abad ke-10, saat beliau menerjemahkan buku “Altın Yaruk” dari bahasa China ke bahasa Uyghur. Beliau menggunakan istilah “Türk tili” (Turkish Language) dan istilah “Türk Uygur tili” (Turkish-Uyghur Language) untuk menjelaskan bahasa yang digunakan oleh bangsa Uyghur.*(2)

Hal ini juga diperkuat dengan berbagai statemen yang ada di buku kuno “Divanü Lügati’t-Türk” karya Mahmud Kaşgarlı. Beliau menyatakan berbagai hal dan bukti otentik yang menyatakan bahwa Uyghur adalah bangsa dan beretnis Turki.

Namun, itu semua ditolak mentah-mentah oleh China. Bukti otentik historis dan fakta ilmiah ini tidak pernah diakui dan dianggap tidak pernah ada. Mereka bahkan mengaku bahwa tak ada yang bernama “Turk Nation (Bangsa Turk)” atau istilah “Turk” di dunia ini.

China meyakini sesuai klaim ‘egois’ mereka bahwa Turk telah meninggalkan jagat sejarah pada zaman akhir Dinasti Tang. Mereka juga mengatakan bahwa konsep “Turk” ataupun “Turkic Nation (Bangsa Turki)” adalah salah satu manipulasi dari agenda politis jaringan jaringan “Pan-Turkic (Pan-Turkisme)”.*(3)

Selain penolakan China terhadap identitas turki untuk etnis Uyghur, China juga secara tegas menolak keras istilah “Turkistan Timur”. Sikap dan Anggapan China tersebut, hanyalah bersifat politis dan kepentingan mereka sehingga tidak akan pernah bisa untuk menutup-nutupi fakta sejarah otentik ini.

————————————————————-
Wallahu Alam. Bersambung insyaAllah
Penerjemah: Al Faqir Akbar Fachreza
————————————————————-
Keterangan Foto:
“Anak anak muslim Uyghur dibawah 18 tahun yang dilarang masuk masjid sedang melaksanakan shalat di halaman luar.”

“Camilere girişi yasak olan çocuklar dışarıda namaz kılıyor (Kaşgar)”


Referensi:

*(1). Istilah “tunas peradaban” mengacu kepada tempat-tempat yang diyakini merupakan tempat munculnya peradaban berdasarkan data-data arkeologis yang tersedia saat ini. Istilah ini biasanya disematkan pada peradaban Mohenjo Daro di Lembah Sungai Indus, juga pada Mesir dengan Lembah Sungai Nil, dan Mesopotamia dengan kedua sungai Tigris dan Eufratnya (Dr. Senta German).

*(2). Yasin Huşur, “Eski Çince Vesikalarda ‘Xiongnu’ Gibi Isimlerin Uyghurcadaki Çevirisi”, Minzu Yuwen, No 1, 2006, hal. 19

*(2). Ottura Asiya ve Cenuby Asiyadiki Millet, Din Tokunuşi, Urumçi: Şincang Helk Neşriyatı, 2003, hal. 375-376

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY