Turki-Pakistan Berbagi Kesepahaman Isu Mengenai Suriah,Terorisme dan Pertahanan

21
Presiden Pakistan, Arif Alvi.

Presiden Pakistan,Arif Alvi,berkunjung ke Turki pada akhir Oktober lalu. Alvi menyoroti hubungan historis antara Turki dan Pakistan yang telah tumbuh dalam kerangka saling percaya.

Alvi mengatakan Pakistan mendukung sepenuhnya kepentingan keamanan nasional Turki dalam menangani kelompok teror PKK di Suriah utara. Dukungan dan kepercayaan yang sama juga diberikan Pakistan untuk masalah pengungsi. “Dunia telah melupakan persoalan pengungsi Suriah dan Afghanistan, sementara Turki dan Pakistan menghabiskan energi dan sumber daya nya untuk menangani  krisis yang diciptakan oleh orang lain”, tutur Alvi seraya melanjutkan bahwa kedua negara bertujuan untuk membangun industri pertahanan agar tidak bergantung pada negara lain. Alvi menggarisbawahi bahwa pemerintah Pakistan yang baru sedang melaksanakan proyek bersama dengan Turki.

Persaudaraan historis antara dua negara

Presiden Pakistan mengutip hubungan historis yang kuat antara Turki dan Pakistan, yang tercermin dalam tatanan internasional. Beliau membangkitkan dukungan Turki untuk Pakistan dalam hal posisi Pakistan pada pasokan nuklir. Alvi juga mengatakan bahwa kedua negara berada dalam konsensus untuk mereformasi PBB, untuk menyediakan organisasi global dan suara internasional.

Alvi lebih lanjut menyebutkan dukungan timbal balik antara kedua negara: “Turki telah mendukung posisi Pakistan di Kashmir dan Pakistan telah mendukung masalah Siprus. Pakistan juga berdiri mendukung demokrasi Turki pada percobaan kudeta tahun 2016.”

“Kami mengirim delegasi kami ke sini, kami meloloskan resolusi di majelis kami. Kami telah meloloskan resolusi di dalam majelis untuk mendukung apapun yang terjadi pada 2 negara ini. Turki dan Pakistan selama ini selalu berdiri bersama dalam banyak kasus”, tambahnya. Presiden Pakistan menekankan bahwa Turki dan Pakistan memiliki hubungan yang mesra, “Ankara dan Islamabad telah mengalami situasi serupa mengenai Suriah dan Afghanistan. Pakistan menampung 3,5 juta pengungsi dari Afghanistan selama hari-hari sulit pada perang Sovyet-Afghanistan,begitupun Turki saat ini yang menjadi tuan rumah bagi pengungsi Suriah dalam jumlah yang sama banyak. Saya berpikir bahwa kami memiliki banyak kesamaan dalam situasi,arah dan penyebab. Saya pikir seluruh komunitas Muslim telah melihat Turki dan peran historisnya di dunia serta di dunia Islam, seperti telah menyebarkan demokrasi di dunia seperti yang dilakukan Turki dan Pakistan untuk keluar dari krisis ini karena kami akan menuju ke titik krisis yang besar. Ada begitu banyak pembunuhan, begitu banyak fluktuasi ekonomi dan pengungsi pada kedua negara”, Alvi menambahkan.

Pengalaman yang sama dalam memerangi terorisme

Menyatakan bahwa Pakistan telah menghentikan kehancuran yang mungkin disebabkan oleh terorisme, Alvi mengatakan bahwa Pakistan mampu berdiri melawan tekanan yang bertujuan menciptakan perpecahan.

“Pakistan hari ini memiliki lebih banyak pengalaman dalam menangani terorisme. Kami telah mengorbankan lebih dari 70.000 jiwa, termasuk perwira militer dan lebih dari 100 miliar dolar yang berakibat mempengaruhi perekonomian Pakistan. Oleh karena itu, Turki dan Pakistan memiliki pengalaman yang serupa, Saya pikir kami mengetahui lebih banyak mengenai cara penanganan terorisme daripada negara lain. Turki dan Pakistan akan menangani hal ini bersama” kata Alvi.

Tidak ada toleransi untuk kelompok teror FETÖ di Pakistan

Menegaskan bahwa Pakistan berdiri bersama Turki pada tragedi percobaan kudeta tahun 2016 silam, Alvi mengatakan bahwa negaranya tidak akan mentolerir orang di negara lain berusaha untuk mengguncang kedaulatan negara Turki. Sekolah-sekolah milik kelompok teror Gulen (Gülenist Terror Group-FETÖ) di Pakistan telah dialihkan ke pemerintah Turki sebagaimana permintaan dari Ankara.

Alvi juga menggarisbawahi bahwa organisasi semacam itu tidak spesial untuk negara kami, karena mereka mengoperasikan trans-goverments dan tidak boleh dibiarkan.

Kerja sama pertahanan; tidak bergantung pada kekuatan besar

Sehubungan dengan kerja sama antara Pakistan dan Turki di sektor pertahanan, Alvi mengatakan bahwa kedua negara berpikir sama dan berbagi platform umum tertentu,sehingga memungkinkan untuk saling membantu satu sama lain.

Menggarisbawahi bahwa memperkaya sektor pertahanan hanya untuk tujuan perdamaian dunia, kedua negara telah mengerahkan upaya untuk menjadi independen di sektor ini dan mengurangi ketergantungan mereka pada kekuatan besar.

Alvi mengatakan bahwa ada banyak proyek sekarang yang dalam perencanaan,diskusi sudah dilakukan dan keinginannya adalah untuk melihat finalisasi dari proyek-proyek ini, sementara mengharapkan kehadiran peluang lebih lanjut untuk kedua negara.

Pakistan membuka diri untuk investasi internasional dengan kebijakan yang stabil. Ini dapat memberikan pengembalian yang baik bagi pengusaha Turki. Komunikasi antara pemerintah dapat ditingkatkan untuk membangun jalan seperti jalan intelektual atau Koridor Ekonomi China-Pakistan, “tambahnya.

Dunia telah melupakan masalah pengungsi

Sementara Turki menampung sekitar 3,5 juta pengungsi Suriah, yang telah melarikan diri dari rezim Bashar Assad, Pakistan juga menjadi tempat berlindung bagi pengungsi Afghanistan yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Sehubungan dengan masalah ini, Alvi mengatakan bahwa Turki dan Pakistan berpikir sama tentang masalah pengungsi. Beliau juga mengatakan bahwa dunia telah lupa dan tidak peduli dengan pengungsi. “Saya berpikir kepentingan negara Turki harus dilindungi karena ada destabilisasi, terutama di wilayah utara Suriah. Kami berpikir sama dalam hal kebijakan ini. Jadi, saya tidak melihat ada masalah selain fakta bahwa ada begitu banyak ‘pemain’ di Suriah. Jadi, kami berusaha mencari resolusi akhir di Suriah, dari posisi Turki. Posisi Pakistan selalu cocok dengan posisi Turki. Kami adalah negara bersaudaraan yang baik dan kami mendukung satu sama lain. Memiliki posisi yang sama dengan Turki, kekhawatiran kami di Afghanistan adalah seluruh mengenai kepentingan Pakistan. Turki telah mendukung kami dalam hal ini. Kedua negara menginginkan perdamaian di kawasan, karena hal tersebut mempengaruhi perbatasan dan ekonomi kami. Dapatkah Anda bayangkan Turki menampung 3,5 juta pengungsi? Apakah itu tidak mempengaruhi ekonomi Turki? ” Alvi bertanya.

Menyoroti fakta yang mirip dengan Turki, Pakistan juga menjadi tuan rumah bagi para pengungsi yang melarikan diri dari perang di Afghanistan pada tahun 1980-an, Alvi menyatakan bahwa generasi ketiga yang berasal dari negara tetangganya telah hadir dan itu mempengaruhi ekonomi mereka, namun, Alvi kembali menegaskan bahwa dunia telah melupakan persoalan pengungsi. “Orang-orang menciptakan krisis, kekuatan dunia menciptakan krisis dan kami dibiarkan menjadi penampung dari krisis yang mereka ciptakan. Kami menyayangi para pengungsi. Mereka berhak memiliki kehidupan. Mereka harus didukung,” kata Alvi.

Pembunuhan Khashoggi harus sampai pada resolusi

Menjawab pertanyaan tentang pembunuhan kolumnis Jamal Khashoggi, yang hilang setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada tanggal 2 Oktober, Alvi mengatakan bahwa dia menganggap kematian Khashoggi sebagai isu global yang penting. “Saya pikir perkembangan telah terjadi di mana pemerintah Turki dan pemerintah Saudi bekerja sama dalam penyelidikan. Saya pikir harus ada resolusi pada sesuatu hal tidak baik yang telah terjadi dan saya pikir kedua pemerintah ini harus dapat menyelidiki dan mencapai resolusi tentang krisis ini, krisis yang seharusnya tidak terjadi” kata Alvi.

Turki membuat langkah besar dalam ekonominya

Pada bulan Juli lalu,Pakistan melaksanakan pemilihan umum dan Perdana Menteri Imran Khan merayakan kemenangannya. Alvi menyampaikan pendapatnya dengan menekankan bahwa “Pakistan adalah negara terbesar keenam di dunia dan ekonomi Pakistan memiliki potensi menjadi salah satu dari enam ekonomi terbesar di dunia. Pakistan berada di persimpangan perubahan. Saya pikir Pakistan memiliki prospek cemerlang dengan pemerintahan baru, dengan Perdana Menteri Imran Khan. ”

Menyelaraskan situasi saat ini di Turki dan Pakistan, Alvi menyatakan bahwa negara-negara seperti Turki memiliki sejarah yang panjang. Negara-negara ini berani bertahan, mereka telah memainkan peran mereka sendiri. “Oleh karena itu, pada saat yang sama, saya melihat Turki dan saya berpikir di bawah kepemimpinan Erdogan, Turki telah membuat langkah besar dalam ekonominya, kecuali krisis baru-baru ini yang terjadi di Turki dan krisis Suriah. Turki harus bisa mengesampingkan itu” komentar Alvi.

Daily Sabah

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY