Turki membuka fasilitas pelatihan pertahanan terbesar di Qatar

215

Menteri Pertahanan Nasional Turki Nurettin Canikli meresmikan Fasilitas Pelatihan Penerbangan Simulasi Helikopter AW 139

DOHA – Proyek industri pertahanan terbesar di Qatar dibuka secara resmi pada hari Ahad.

Menteri Pertahanan Nasional Turki Nurettin Canikli dan Menteri Pertahanan Qatar Khalid bin Muhammad al-Attiyah menghadiri upacara peresmian Fasilitas Pelatihan Penerbangan Simulasi Helikopter AW 139.

Pada hari Ahad, Canikli diterima oleh Muhammad al-Attiyah di Al-Udeid Air Base, sebelah barat daya ibukota Doha.

Selama acara tersebut, Canikli memberikan presentasi tentang fasilitas yang dibangun oleh perusahaan pertahanan udara dan militer Turki HAVELSAN.

Canikli menggambarkan Turki dan Qatar sebagai dua negara bersaudara yang menjalin kemitraan strategis.

“Hubungan kita di bidang pertahanan akan semakin meningkat dan fasilitas pelatihan baru sesuai dengan tujuan kami,” kata Canikli.

Dia menambahkan bahwa negara-negara yang mengabaikan sektor pertahanan mereka mengalami kesulitan untuk bertahan dalam jangka panjang.

“Pengalaman menyakitkan kami [Turki] telah berkali-kali mengajarkan kepada kami bahwa Anda tidak bisa menjadi penonton belaka tentang teknologi pertahanan. Jika bukan karena usaha kami dalam 10 tahun terakhir, Turki akan mengalami kesulitan besar untuk melawan serangan hari ini. Sekutu kami tidak memberi kami teknologi ini dalam perang melawan terorisme, meski kami bersedia membayar untuk mereka, “katanya.

“Salah satu contoh baru dari kesulitan ini adalah Sistem Pertahanan Udara S-400, yang sangat kami butuhkan. Kami berperang melawan tiga kelompok teror paling berdarah di dunia sekaligus, dan kami melakukan operasi kami melalui senjata yang sebagian besar dikembangkan oleh Turki. Kami telah membuat kemajuan, tapi kami harus memperbaiki diri kami lagi, dengan bekerja sama, “tambahnya.

Canikli mengatakan bahwa di sektor pertahanan Turki banyak mengalami kemajuan, terutama teknologi drone.

“Turki telah berhasil menyusul dunia terutama di bidang UAV [Unmanned Aerial Vehicles],” katanya.

“F-35 mungkin akan menjadi jet tempur terakhir yang menyertakan pilot,” katanya, mengklaim bahwa pertarungan udara masa depan akan dipimpin oleh pesawat tak berawak.

Setelah peresmian tersebut, Canikli dan al-Attiyah memeriksa fasilitas pertahanan tersebut bersama dengan delegasi militer lainnya.

Proyek ini ditandatangani pada 10 Mei 2013, dengan tujuan memenuhi kebutuhan pilot dan operator helikopter AW 139 di Angkatan Udara Qatar. Pada akhir 2016, proyek tersebut pindah ke Qatar.

Sejauh ini, 55 pilot yang beroperasi di Angkatan Udara Qatar telah diberi pelatihan selama 550 jam melalui sistem ini dan 40 insinyur telah bertugas selama tiga tahun dalam proyek yang berharga $ 39 juta.

Pejabat Qatar mengatakan bahwa simulator yang dihadirkan HAVELSAN telah menjadi yang terbaik yang pernah mereka gunakan.

Anadolu Agency

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY