Turki dan Arab Saudi meningkatkan kerjasama mengenai krisis Suriah

802

Presiden Erdogan disambut hangat oleh Raja Salman setibanya di Riyadh pada Senin malam. Selain agenda politik dan ekonomi, kedua pemimpin diharapkan untuk fokus terutama pada perkembangan terbaru mengenai krisis Suriah, termasuk rencana untuk membangun ‘zona aman’ di Suriah utara.

Presiden Recep Tayyip Erdogan berkunjung ke Arab Saudi pada hari Senin untuk kunjungan resmi dalam rangka memperkuat hubungan politik dan ekonomi serta membahas isu-isu regional; terutama krisis Suriah.

Dia disambut hangat oleh Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi di bandara Riyadh pada putaran kedua tur empat hari di tiga negara Teluk, di mana presiden Erdogan bertujuan untuk meningkatkan hubungan dengan Bahrain, Arab Saudi dan Qatar.

Pada hari Minggu, Erdogan tiba di ibukota Bahrain Manama dan mengungkapkan harapannya bahwa kedua negara akan bekerja sama untuk “stabilitas, perdamaian dan masa depan wilayah tersebut.”

Perkembangan di Suriah mungkin menjadi salah satu titik fokus selama kunjungannya ke Arab Saudi. Sejak Presiden Erdogan, sebelum memulai perjalanan Teluk pada hari Minggu, mengatakan bahwa militer Turki dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) telah memasuki pusat kota al-Bab, Erdogan menekankan bahwa pasukan FSA yang didukung Turki akan melanjutkan operasi untuk membebaskan Manbij, sebuah kota yang dikuasai oleh cabang PKK Suriah- PYD, dan Raqqa yang dikuasai Daesh, mengatakan: “Kami berusaha untuk menghilangkan teror di wilayah tujuan al-Bab sebelum kami melanjutkan ke Raqqa dan Manbij” Juga berbicara di Manama pada hari Senin presiden Erdogan menyerukan “zona aman” di Suriah utara untuk tempat berlindung pengungsi Suriah.

Pembahasan Rencana zona aman di Suriah utara 

“Setelah memahami bahwa Turki dan Qatar berada di posisi yang tepat dalam kaitannya untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di Suriah, Arab Saudi mulai berdiri dengan bersama kedua negara tersebut, terutama setelah Salman naik tahta,” kata Turan Kışlakçı, ahli Timur Tengah dan jurnalis freelance yang berbicara kepada Daily Sabah.

“Jika Ankara, Riyadh dan Doha setuju pada gagasan ‘zona aman’ yang telah disuarakan oleh Presiden Erdogan, itu akan sangat bermanfaat bagi masyarakat di wilayah tersebut, selain itu juga membatasi kebijakan ekspansionis Iran.”

Kışlakçı menegaskan bahwa alasan utama untuk kunjungan Erdogan ke negara-negara Teluk adalah untuk membuat kesepakatan tentang rencana “zona aman” serta untuk menggalang dukungan dari negara-negara Teluk lainnya pada rencana zona penyangga: “Jika pemain yang paling penting di kawasan – Turki dan Arab Saudi – memiliki kesepakatan, maka Rusia harus menyisihkan keberatan dan mencapai kesepakatan dengan Ankara dan Riyadh,” katanya.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan di Ankara bahwa posisi Arab Saudi dan Turki terhadap Suriah adalah “benar-benar identik.” al-Jubeir menghadiri pertemuan pertama dari dewan koordinasi untuk meningkatkan hubungan antara kedua negara.

Selain itu, Duta Besar Arab Saudi untuk Ankara Walid Abdul Karim el-Khereiji mengatakan kepada Anadolu Agency (AA) hari Minggu bahwa Turki dan Arab Saudi, dua sekutu penting regional, berusaha untuk meningkatkan hubungan bilateral di berbagai bidang dan terus bekerja sama dalam upaya untuk meredakan konflik di Tengah Timur.

Turki juga bersikeras bahwa Arab Saudi dan Qatar harus dimasukkan dalam pembicaraan damai Astana, tapi rezim Assad dan Iran dengan keras menentang kehadiran mereka.

Turki, Iran dan Rusia berkumpul di ibukota Kazakhstan untuk menghadiri pembicaraan damai Astana antara oposisi Suriah dan rezim Assad pada 23-24 Januari. Selama pembicaraan, tiga negara menyepakati mekanisme bersama, yang dirancang untuk memantau pelanggaran gencatan senjata, dalam upaya untuk menghentikan pertumpahan darah di Suriah.

Kerjasama militer meningkat antara Turki dan negara-negara Teluk

Turki juga memiliki kolaborasi penting militer dengan negara-negara Teluk. Ankara telah menerima pesawat tempur Saudi di Incirlik Air Base sebagai bagian dari koalisi yang memerangi Daesh. Riyadh dan Ankara juga melakukan empat latihan militer bersama untuk memerangi terorisme dalam satu tahun terakhir. Dalam kunjungannya ke negara-negara Teluk, Erdogan disertai KepalaStaf Umum Turki Jenderal Hulusi Akar.

Kedua negara telah berkolaborasi pada isu-isu ekonomi dan politik sejak Ankara dan Riyadh menandatangani empat kesepakatan di sektor budaya dan media selama kunjungan ke Turki oleh Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Nayef tahun lalu. Juga, pada bulan April 2016, Raja Salman mengunjungi Erdogan, dimana Raja Salman dianugerahi penghargaan tertinggi, Orde Negara.

Koresponden Anadolu Agency di Qatar, Ahmed Yusuf, berbicara dengan Daily Sabah, mengatakan, Turki dan negara-negara Teluk memiliki banyak kepentingan bersama dan itulah sebabnya mereka bertindak bersama-sama pada isu-isu regional seperti Yaman dan Suriah.

“Menjadi ‘faktor keseimbangan regional,’ Turki memegang tempat yang sangat penting di mata negara-negara Teluk, terutama dalam hubungan mereka dengan Iran,” kata Yusuf. “Demikian juga, Turki menangani isu Yaman, Libya dan Mesir melalui negara-negara Teluk.”

Dia menambahkan bahwa meskipun beberapa perbedaan pandangan antara Turki dan Arab Saudi, khususnya mengenai Mesir, aliansi Iran-Rusia menyajikan alasan yang sah untuk Riyadh dan Ankara untuk berdiri bersama-sama, terutama dalam hal Suriah.

“Tidak seperti Iran, Turki tidak menggunakan isu-isu sektarian dan nasionalisme untuk keuntungan sendiri,” katanya.

Dari Riyadh, Presiden Erdogan pergi ke Qatar kemarin malam, negara Teluk lainnya dengan sejarah hubungan yang solid dengan Turki selama bertahun-tahun. Qatar juga menjadi tuan rumah pangkalan militer Turki.

Daily Sabah

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY