Turki akan memberikan bantuan untuk seluruh wilayah Rakhine dan meminta Muslim Rohingya diberi kewarganegaraan

14791

Cavusoglu menekankan Turki bertujuan untuk membantu ‘semua pihak’ di Myanmar.
Suu Kyi mengucapakan terimakasih kepada Menlu Turki atas ‘kepekaan’ selama kunjungan di Myanmar, berharap pernyataan Turki akan memberikan pelajaran bagi semua pihak.

Nay Pyi Taw

Menteri luar negeri Turki telah menekankan sejarah bersama antara Turki dan Myanmar selama kunjungan ke ibukota Myanmar pada hari Senin, dan menggarisbawahi tekadnya untuk membantu “semua pihak” di wilayah miskin Rakhine, tidak hanya di wilayah yang dihuni warga Muslim saja.

Mevlut Cavusoglu – berbicara setelah pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Myanmar Aung San Suu Kyi – menekankan kepada wartawan bahwa lembaga bantuan Turki tidak membedakan kelompok masyarakat, “kami akan aktif menjangkau semua daerah yang membutuhkan, membuat jalan dan membuka klinik kesehatan di seluruh negeri . ”

Sejak 2012, Rakhine – rumah bagi lebih dari satu juta Rohingya (disebut oleh PBB sebagai kelompok minoritas yang paling teraniaya di dunia) – telah mengalami teror  kekerasan komunal, dimana muslim Rohingya harus bergantung pada bantuan di kamp pengungsian.

“Perbedaan antara kami dan negara-negara lain adalah bahwa kami tidak memaksakan proyek, bahkan kami meminta proyek dari pemerintah pusat dan daerah,” kata Cavusoglu.

“Pihak berwenang di negara ini tahu apa yang dibutuhkan lebih baik dari kami, itulah sebabnya kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah pusat dalam hal ini.”

Menanggapi pertanyaan dari seorang koresponden Anadolu Agency, Suu Kyi – yang juga mengisi posisi Penasihat Negara – mengucapkan terima kasih kepada menteri luar negeri Turki untuk kepekaan tentang masalah ini dan mengatakan ia berharap bahwa pernyataannya akan memberikan pelajaran bagi semua pihak.

“Saya berterima kasih padanya [Cavusoglu] untuk upaya yang dilakukan dan kepekaan dalam menemukan solusi untuk situasi di Rakhine. Saya berharap masyarakat internasional akan memperlakukan kasus ini dengan sensitivitas yang sama, dan membantu kami maju dalam mencari solusi. ”

Suu Kyi telah berada di bawah tekanan internasional yang luar biasa untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh Rohingya di negara ini, namun tetap bermain aman karena takut mengganggu kelompok nasionalis, banyak dari mereka telah menuduh Muslim berusaha untuk membasmi tradisi Buddhis.

Cavusoglu sebelumnya telah menekankan selama pertemuan bilateral dengan Suu Kyi bahwa Turki akan terus memberikan bantuan kemanusiaan yang mendasar di wilayah tersebut tanpa diskriminasi berdasarkan suku, bahasa atau agama.

“Kami akan menunjukkan dukungan terhadap Arakan [Rakhine] sampai masalah ini diselesaikan,” katanya, menambahkan bahwa pemerintah Turki menyambut langkah yang telah diambil oleh pemerintah baru untuk memberikan hak kewarganegaraan kepada Muslim Rohingya.”

Hubungan diplomatik antara kedua negara secara resmi dimulai pada tahun 1958, tapi baru pada 2012 Turki membuka kedutaan besar di Myanmar.

Menteri Luar Negeri Ahmet Davutoglu melakukan kunjungan pada tahun 2012 dan 2013, tetapi Cavusoglu melakukan kunjungan resmi pertama Turki untuk mengunjungi negara itu sejak Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memenangkan pemilu 8 November.

Pada hari Senin,  Cavusoglu menggarisbawahi bahwa hubungan akan dibangun kembali lebih erat daripada 1958.

“Tentara Turki disandera di Perang Dunia I dibawa ke Myanmar, di mana mereka dipaksa untuk bekerja dan membangun taman nasional serta banyak bangunan lain yang digunakan saat ini dalam kondisi sulit,” katanya, Myanmar adalah bekas koloni Inggris.

Menurut Kementerian Luar Negeri Turki, dua makam prajurit tentara Turki di Myanmar yang ditangkap oleh Inggris selama Perang Dunia I.

“Hari ini, Turki adalah salah satu pendukung terbesar dari perdamaian dan kemakmuran di Myanmar,” tambah Cavusoglu.

“Dengan dibukanya kedutaan kami pada 2012, kerjasama yang lebih besar telah terjalin di antara kami. Dengan cara yang sama, dalam empat tahun terakhir Turki telah meningkatkan bantuan kemanusiaan, memberikan kontribusi $ 13.000.000 terhadap sektor kesehatan dan pendidikan,” katanya.

Rohingya dan Kaman Muslim hanya dua dari banyak kelompok etnis di negara itu, meskipun Rohingya tidak dianggap sebagai kelompok resmi – dimana kaum nasionalis menyebut kelompok itu sebagai “Bengali” yang menunjukkan mereka penyusup dari negara tetangga Bangladesh.

Cavusoglu menggarisbawahi tentang kompleksitas situasi, menyoroti bahwa ada 135 kelompok etnis di Myanmar.

“Ini sebenarnya adalah kekayaan negara ini. Keanekaragaman harus dilihat sebagai sesuatu yang kaya, dan hal penting bahwa umat Islam juga termasuk dalam bagian ini, “katanya, menekankan bahwa pemerintah baru telah memberi perhatian pada masalah ini.

“Turki telah mengalami prosedur yang sama, dan kami bersedia untuk menjadi bekerjasama dengan pemerintah pusat untuk menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi oleh umat Islam. Kami akan mendukung langkah positif yang diambil, dan melalui TIKA [Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki] kami akan terus memberikan bantuan kemanusiaan.

Cavusoglu kemudian disambut oleh Pemimpin sipil pertama Myanmar, Presiden Htin Kyaw, di kediaman resminya.

Dia juga bertemu dengan kepala militer negara itu, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, dalam pertemuan yang dihadiri oleh Duta Besar Turki untuk Myanmar, Murat Yavuz Ates.

Anadolu Agency

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY