Trauma dan terluka ribuan pengungsi Rohingya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh

401

Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan bahwa 18.000 Muslim Rohingya telah meninggalkan desa mereka di Myanmar, dengan banyak diantaranya dalam kondisi terluka.

Lebih dari 18.000 Muslim Rohingya, banyak yang sakit dan beberapa lagi menderita luka tembakan peluru, telah meninggalkan desa mereka menyusul kekerasan terburuk dalam lima tahun terakhir di barat laut Myanmar. Ribuan lagi terjebak di perbatasan Bangladesh.

Dalam kondisi putus asa

Sejak serangan tersebut, sekitar 18.445 Rohingya – kebanyakan wanita dan anak-anak – telah mengungsi ke perbatasan Bangladesh, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan pada hari Rabu.

“Mereka berada dalam kondisi yang sangat sangat menyedihkan,” kata Sanjukta Sahany, yang mengelola kantor IOM di kota selatan Cox’s Bazar di dekat perbatasan.

“Kebutuhan terbesar adalah makanan, layanan kesehatan dan mereka butuh tempat berlindung. Mereka memerlukan setidaknya beberapa penutup, beberapa atap di atas kepala mereka.”

Sahany mengatakan banyak yang menyeberang “dengan luka tembak dan luka bakar.” Beberapa pekerja bantuan telah melaporkan bahwa pengungsi “menunjukkan pandangan mata yang kosong” saat ditanyai, Sahany mengatakan.

“Orang-orang trauma, ini sangat jelas terlihat.”

Penganiayaan terhadap Rohingya

Perlakuan diskriminasi dan kejam terhadap sekitar 1,1 juta Muslim Rohingya di Myanmar merupakan tantangan terbesar yang dihadapi pemimpin nasional Aung San Suu Kyi, yang dikecam oleh kritikus Barat karena tidak berbicara mengenai kondisi kaum minoritas yang telah lama mengalami penganiayaan.

Rohingya ditolak kewarganegaraannya di Myanmar dan dianggap sebagai imigran ilegal, meski telah berdiam disana berabad-abad lalu.

“Situasi sangat mengerikan, rumah-rumah terbakar, semua orang lari dari rumah mereka, orang tua dan anak-anak terpisah, beberapa hilang, ada yang tewas,” Abdullah, 25th, seorang Rohingya dari wilayah Buthidaung, mengatakan, berusaha menahan air mata.

Abdullah mengatakan empat dari enam dusun di desanya Mee Chaung Zay telah dibakar oleh pasukan keamanan, mendorong semua penduduknya untuk melarikan diri ke Bangladesh.

Dia termasuk di antara ribuan orang yang meninggalkan desa mereka untuk berkumpul di kaki pegunungan Mayu.

Bersama istri dan anak perempuannya yang berusia lima tahun, Abdullah membawa beras ketan, mengambil lembaran plastik dan botol air kosong, bersiap untuk melakukan perjalanan dibawah guyuran hujan monsun selama berhari-hari di rute sejauh 20 kilometer (12 mil) melalui pegunungan ke perbatasan. .

“Saya menunggu semua kerabat saya pergi bersama keluarga saya sesegera mungkin,” tambahnya.

Memasuki Bangladesh

Bangladesh telah menampung lebih dari 400.000 pengungsi Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar yang mayoritas beragama Buddha sejak awal 1990an.

Dhaka telah meminta PBB untuk menekan Myanmar atas perlakuannya terhadap minoritas Muslim, dengan mengatakan bahwa hal itu tidak dapat dilakukan lagi.

Sedikitnya 4.000 orang terdampar di perbatasan di antara kedua negara.

Tempat penampungan sementara terbentang selama beberapa ratus meter di jalur sempit antara sungai Naf dan pagar perbatasan Myanmar.

Shaheen Abdur Rahman, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Cox’s Bazar di Bangladesh mengatakan bahwa 15 orang sejak pekan lalu memiliki luka tembak, dengan keparahan bervariasi dari luka gores hingga pendarahan di paru-paru. Sedikitnya empat kasus serius telah dirujuk untuk perawatan ke Chittagong.

Cedera juga termasuk patah tulang yang bisa saja dialami akibat pemukulan atau kecelakaan jatuh saat melarikan diri, katanya.

“Kami tidak membeda-bedakan,” kata Rahman.

“Semua orang yang datang ke rumah sakit ini, entah mereka orang Bangladesh atau tidak dari Bangladesh, kami memberikan pelayanan kepada mereka.”

TRT World

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY