Temuan investigasi :Jumlah tentara Rusia yang tewas di Suriah mengalami kenaikan tajam

1063

Jumlah tentara Rusia yang tewas dalam pertempuran di Suriah sejauh ini bisa mencapai 40, sebuah penyelidikan menemukan, menempatkan korban tewas empat kali lebih tinggi dari angka resmi pemerintah.

Kematian sepuluh tentara Rusia telah dikonfirmasi oleh Kementerian Pertahanan, namun angka dari keluarga dan teman-teman pejabat yang tewas dan data lokal, Reuters memperkirakan jumlah korban tewas di antara tentara Rusia dan tentara bayaran setidaknya 40 orang.

Penghitungan yang mencakup tujuh bulan melebihi 36 personil dan tentara bayaran bersenjata Rusia yang diperkirakan oleh Reuters telah terbunuh di Suriah selama 15 bulan sebelumnya, mengindikasikan adanya kenaikan yang signifikan dalam tingkat kerugian di medan perang karena keterlibatan negara tersebut semakin dalam.

Tingkat sebenarnya dari korban dalam konflik Suriah adalah subjek sensitif di Rusia di mana liputan positif mengenai konflik menonjol secara mencolok di media.
Para komandan mendorong keluarga mereka yang terbunuh untuk tetap diam, kerabat dan teman dari beberapa tentara yang gugur, baik prajurit dan tentara bayaran, tidak mau disebut namanya.

Rusia juga tidak secara terbuka mengakui bahwa tentara bayaran berperang bersama pasukan resmi; Kehadiran mereka di Suriah tampaknya mencampakkan larangan hukum terhadap warga sipil yang berperang di luar negeri sebagai tentara bayaran.

Ditanya mengenai temuan terbaru Reuters, Kementerian Pertahanan dan Kremlin tidak menanggapi, meski pemerintah sebelumnya telah menolak laporan telah mengecilkan angka korban.

Dari 40 orang yang terbunuh, Reuters memiliki bukti bahwa 21 adalah tentara bayaran dan 17 tentara Rusia. Status dua orang yang tersisa tidak jelas.

Terakhir kali Rusia kehilangan awak kapal di Suriah pada Agustus 2016, dan korban besar pertama kali tahun ini di bulan Januari, ketika enam tentara bayaran meninggal dalam satu hari.

Mempertahankan kontrol

Angka tersebut muncul saat anggota parlemen Rusia dan penasihat Kremlin mengatakan bahwa Rusia menolak memberikan dukungan udara untuk memungkinkan Bashar al-Assad memulai sebuah serangan di benteng oposisi terakhir Idlib, dalam upaya mempertahankan kontrol atas kuasanya di Suriah.

Sikap Rusia, yang bertujuan untuk memperkuat upayanya menetapkan apa yang disebut zona de-eskalasi untuk memperkuat gencatan senjata yang didukung AS di Suriah, menciptakan keretakan yang berkembang dengan Assad.

The New Arab

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY