Strategi di balik ‘Operation Olive Branch’

71

Setelah AS mencoba untuk menengahi, Rusia mengerahkan pasukan ke daerah tersebut untuk menghentikan sebuah operasi terhadap YPG di Afrin tahun lalu. Pada tanggal 20 Januari, Turki memulai operasinya. Inilah pentingnya strategi mereka.

Afrin, di barat laut Suriah yang berbatasan dengan Turki, dulunya adalah sebuah kota berpenduduk 80.000 orang. Mengambil keuntungan dari kekacauan yang disebabkan oleh perang di Suriah, YPG mengambil alih kendali pada tahun 2012. Selama perang bertahun-tahun, karena tidak ada bentrokan di Afrin, populasinya meningkat hingga 300.000 orang. Dan akhirnya, setelah evakuasi Aleppo pada bulan Desember 2016, orang-orang melarikan diri ke Afrin, meningkatkan populasi menjadi sekitar 750.000. Sekitar 60 persen adalah orang Arab, lima persen di perbatasan Turki di barat laut kota adalah Turkmen, dan sisanya orang Kurdi. Ratusan penduduk asli, yang bisa melarikan diri dari YPG setelah 2012, berada di Turki.

Afrin terletak di antara dua wilayah strategis yang dikontrol oleh Free Syria Army (FSA)- kelompok oposisi Suriah yang didukung Turki: Azaz dan Idlib. Dua komandan FSA yang berbicara dengan TRT World, menceritakan pentingnya posisi Afrin, mereka menyatakan : Kita perlu menghubungkan dua wilayah oposisi untuk saling mendukung. Tapi menggunakan jalan di Turki di sepanjang perbatasan dari Kilis sampai Reyhanlı membutuhkan waktu lima jam. Jika kita berkendara langsung dari Azaz ke Idlib melalui Tel Rifat, hanya butuh waktu kurang dari dua jam.

Hal itu membuat posisi Tel Rifat sangat penting dalam operasi tersebut.

Inilah informasi yang didapat TRT World dari komandan oposisi di lapangan:

1- Azaz, Bandara Tel Rifat dan Minagh di timur

Secara total, sekitar 10.000 pejuang FSA siap untuk operasi Afrin, beberapa sudah aktif mengambil bagian. Lebih banyak tentara dikerahkan ke Azaz dari Idlib. Pasukan di daerah Euphrates Shield tidak dikerahkan untuk operasi Afrin, karena mereka kebanyakan berpatroli untuk menghadapi serangan dari YPG yang berbasis di Manbij.

Salah satu serangan udara pertama oleh jet tempur Turki telah dilakukan di daerah ini. Juga, pasukan FSA siap untuk maju ke Afrin untuk melancarkan serangan darat.

Kepentingan strategis daerah itu berasal dari lokasinya, jika FSA berhasil mengendalikan kawasan tersebut, maka akan mencegah YPG mendapatkan bala bantuan dari wilayah yang dikuasai rezim Assad. Dan juga, ini akan menghubungkan titik pemantauan tentara Turki di utara Idlib di daerah Euphrates Shield.

Pada hari pertama operasi tersebut, tentara Rusia yang berada di Afrin pindah ke Tel Ajar, sebuah kota di barat laut Tel Rifat. Kamp latihan militer rezim Qafrjannah juga dipindahkan ke Tel Ajar.

Pada hari Rabu, ketika bentrokan meningkat di Tel Rifat, sebagian besar tentara Rusia di Tel Ajar mengundurkan diri ke daerah yang dikuasai rezim di selatan, Nubl dan Zahraa.

Nubl dan Zahraa adalah dua desa Syiah, dan milisi Syiah yang didukung Iran juga berada di sana.

Bala bantuan yang datang dari Manbij dan Kobane yang dikuasai YPG bergerak ke Afrin melalui dua desa tersebut. Rezim mendukung dengan memberikan akses untuk bala bantuan.

2-Dar Jammal, selatan Afrin

Di selatan, empat titik pemantauan tentara Turki didirikan di Idlib, yang mencegah pergerakan YPG. Tidak ada pertempuran aktif di daerah ini. Pasukan Turki membalas tembakan YPG dari waktu ke waktu.

Dari Tel Rifat ke Dar Jammal, ada 14 desa Arab, dimana Turki telah merencanakan operasi melawan YPG selama lebih dari satu tahun.

Empat jalan menuju Afrin

1 – Gunung Baraya, Sharran, Qatmah, Qafrjannah di timur laut

Di utara Azaz, di sepanjang perbatasan Turki, terletak gunung Barsaya. Ini telah menjadi basis untuk persenjataan dan amunisi YPG, dan jet tempur Turki menghancurkan sebagian besar basis tersebut dalam beberapa hari pertama. FSA, di sisi lain, telah mentargetkan seranga tembakan ke daerah tersebut sejak tahun lalu.

Sekarang garis depan aktif. Sulit dilalui, gunung merupakan tantangan pertama bagi FSA. Dari Pegunungan Barsaya sampai Qafrjannah, adalah daerah perbukitan dimana jumlah terbesar militan YPG berada, dan juga merupakan jalur menuju Afrin.

Setelah Qafrjannah, perhentian berikutnya adalah pedesaan kota Afrin.

2 – Bulbul, Qarababa di sebelah utara

Pemboman pertama oleh jet tempur Turki dimulai di daerah Bulbul. Mulai dari perbatasan sampai ke pegunungan, sebagian besar desa telah diambil alih oleh FSA. Setelah desa-desa itu, ada pegunungan, yang membentang di depan jalan menuju Afrin di selatan. Daerah pegunungan menjadi arena pertempuran aktif sekarang.

3 – Rajo, Seikh Haddad di barat

Rajo juga merupakan daerah pegunungan, dimana basis YPG menggunakan titik keluar dari selat. Sampai di daerah pegunungan, FSA sekarang menguasai 10 km Rajo. Dari Rajo ke Seikh Haddad, pasukan Turki dan pejuang FSA menunggu ladang ranjau dibersihkan terlebih dahulu.

4- Jandaris di barat daya

Posisi YPG di Jandaris telah banyak dibombardir oleh jet tempur Turki, sejak dimulainya operasi. Dataran Jandaris berlanjut dengan perbukitan dan selat menuju Afrin. Karena itulah FSA di lapangan didukung oleh operasi udara yang intensif.

Setelah kekalahan Daesh, tujuan YPG terungkap

Beberapa minggu setelah perang melawan Daesh di Suriah berakhir, Rusia meminta semua pihak untuk berkumpul di Sochi untuk membicarakan konflik Suriah, termasuk YPG. Turki menentang keras hal ini.

Dan kemudian rencana AS untuk memberikan dukungan permanen kepada YPG terungkap, terlepas dari janji mereka bahwa kerja sama dengan YPG hanya akan berlanjut sampai Daesh dikalahkan. Pada tanggal 13 Januari, koalisi pimpinan AS menyatakan bahwa mereka menciptakan “kekuatan pertahanan perbatasan” baru, dengan melibatkan YPG.

Pada hari yang sama, Presiden Recep Tayyip Erdogan memberi isyarat tentang rencana Turki untuk memulai sebuah operasi di Afrin yang dikendalikan YPG, kota perbatasan Suriah dengan Turki di utara.

Dan operasi udara dimulai seminggu kemudian dari tiga titik berbeda. Keesokan harinya, pasukan darat memulai perjalanan mereka menuju Afrin.

Operasi Afrin telah dibahas sejak 2016

Turki pertama kali menempatkan pasukannya ke perbatasannya dengan Suriah di dekat Afrin pada bulan Juli 2017. Tentara FSA yang didukung Turki, bersiaga di timur.

Saat itu, rencananya adalah untuk merebut Bandara Rim dan Minagh dari YPG, untuk memotong jalan mereka ke wilayah yang dipegang YPG lainnya di timur, dan untuk menghubungkan kelompok oposisi di utara dan di Idlib. Sebelum pembicaraan muncul dengan sebuah solusi, Hayat Tahrir al Sham,  menguasai sebagian besar Idlib, dan rencananya berubah. Di Astana, perundingan yang dipimpin oleh Rusia, Turki dan Iran, memberikan keputusan untuk mengatur titik pemantauan militer di Idlib, sebelum memulai operasinya.

Rusia menghentikan operasi lain yang mungkin dilakukan pada bulan September

Dua bulan kemudian, operasi di Afrin masih sebatas di atas meja. Dan pada tanggal 4 September, Rusia mengerahkan pasukan dan pasukan rezim Assad ke Afrin timur, untuk mencegah bentrokan dengan menciptakan zona penyangga antara pasukan oposisi yang didukung Turki dan YPG.

Menurut situs berita yang berbasis di Moskow, Sputnik, dalam sebuah briefing kepada wartawan, Kepala Direktorat Operasional Utama Angkatan Bersenjata Rusia, Komandan Sergei Rudskoy mengatakan, “Untuk mencegah provokasi dan kemungkinan bentrokan antara detasemen formasi Angkatan Darat FSA di sebelah utara Suriah dan milisi Kurdi [YPG] dengan bantuan pusat rekonsiliasi Rusia, sebuah zona de-confliction telah didirikan di wilayah Tel Rifat.”

Upaya mediasi AS

Rencana Turki untuk Bandara Tel Rifat dan Minagh tidak hanya dimulai Juli lalu. Pada akhir 2016, Turki bersiap-siap untuk melakukan operasi di wilayah tersebut, agar FSA dapat mengambil alih 14 desa Arab di sana. 150.000 pengungsi Suriah yang berlindung di kamp-kamp di Azaz juga akan dikirim ke daerah tersebut setelah operasi selesai.

Namun AS mengambil peran mediasi antara FSA dan YPG, dalam upaya menghentikan kemungkinan operasi Turki melawan sekutunya (YPG). Menurut Mustafa Sajari, perwakilan oposisi yang mengadakan pembicaraan dengan AS, YPG berjanji untuk meninggalkan desa-desa tersebut dan menyerahkan Tel Rifat ke FSA setelah berminggu-minggu negosiasi. Sebuah janji yang tak pernah dipenuhi.

YPG juga tidak menepati janjinya untuk meninggalkan Manbij, sebuah kota yang dikendalikan dengan dukungan dari AS pada Agustus 2016. Pada bulan yang sama, Turki memulai operasi militer pertamanya di Suriah, Euphrates Shield, untuk menumpas Daesh dari perbatasan dan juga untuk mencegah terciptanya koridor antara wilayah yang dikuasai YPG, di Manbij dan Afrin.

AS tidak pernah mengurangi dukungannya terhadap YPG, dengan alasan menggunakan mereka dalam perang melawan Daesh, yang menyebabkan YPG berhasil menguasai seperempat wilayah Suriah yang dulunya dikendalikan oleh Daesh.

Reaksi Turki terhadap kemitraan tersebut adalah karena afiliasi YPG dengan PKK, sebuah kelompok yang masuk daftar teroris oleh Turki, Amerika Serikat dan Uni Eropa, dan yang telah melakukan aksi teror di negara Turki selama lebih dari 30 tahun.

TRT World

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY