Setelah empat tahun pemboman, rezim Assad menyuruh warga sipil untuk meninggalkan Aleppo

1645

Rusia dan rezim Assad meyatakan akan membuka ‘rute keluar’ untuk warga sipil di Aleppo. Warga Aleppo yang terkepung tidak percaya bahwa Rusia-Assad berencana untuk memberikan jalan keluar yang aman bagi warga sipil dan pejuang oposisi jika mereka menyerah.

Rusia dan rezim Assad mengatakan mereka akan membuka rute untuk warga sipil yang terkepung, serta oposisi yang bersedia untuk menyerah, berupa jalan keluar dari kota utara Aleppo.

Didukung oleh serangan udara Rusia, tentara rezim Assad telah mengepung kota, menargetkan serangan ke pejuang oposisi dan memotong semua rute suplai ke bagian yang dikuasai oposisi di Aleppo.

Dalam pidato televisi pada hari Kamis, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengumumkan rencana bersama antara Moskow dan rezim Damaskus untuk “membuka tiga koridor kemanusiaan untuk membantu warga sipil yang disandera oleh teroris serta para pejuang yang ingin meletakkan senjata mereka” .

Bashar al-Assad juga telah menawarkan “amnesti umum” bagi pejuang oposisi yang ingin menyerahkan senjata mereka dan menyerah kepada pihak rezim selama tiga bulan ke depan.

Rezim Suriah dilaporkan telah menjatuhkan selebaran merinci “rute perjalanan yang aman” untuk lebih dari 300.000 warga sipil yang terperangkap di Aleppo. Dalam pesan teks di selebaran tersebut, rezim juga mendesak warga pada hari Selasa untuk “bergabung dengan rekonsiliasi nasional dan mengusir tentara bayaran asing dari daerah di mana warga berada”, menurut kantor berita rezim SANA.

1469697196

“Selebaran ini memerintahkan warga sipil untuk meninggalkan rumah dan properti mereka. Mereka menyerukan warga sipil untuk membawa selebaran di satu tangan dan membawa serta anak-anak. Ini adalah bukti kuat atas serangan membabi buta terhadap perempuan dan anak-anak di daerah perumahan Aleppo oleh rezim Assad,” seorang aktivis Suriah dari dewan kota setempat menyatakan kepada Orient Net.

“Semua orang yang kami sudah hubungi di Aleppo mengatakan bahwa mereka tidak hanya tidak percaya pada rezim Assad atau Rusia untuk melaksanakan rencana ini – bahwa pasukan oposisi akan aman jika mereka menyerah atau jika warga sipil melarikan diri melalui koridor ini – tetapi mereka juga mengatakan tidak masuk akal bahwa mereka akan bisa keluar dengan cara ini “.

Beberapa aktivis Suriah mengatakan bahwa pesan-pesan ini adalah sebuah intimidasi di mana teroris Assad teroris menyuruh warga sipil pergi hanyalah langkah yang bertujuan mengosongkan Aleppo dari warga seperti langkah yang dilakukan rezim di Homs dua tahun lalu.

Jurnalis Al Jazeera, Muhammad Jamjoom, melaporkan dari Gaziantep, perbatasan Suriah-Turki, mengatakan, bahwa warga sipil Aleppo dan tidak percaya atas rencana yang diusulkan Assad dan Rusia tersebut.

Jamjoom menambahkan bahwa banyak warga Suriah mengatakan mereka lebih suka rencana tersebut dilaksanakan oleh PBB atau badan-badan bantuan.

“Mereka merasa bahwa jika mereka tinggal di dalam Aleppo, pengepungan hanya akan bertambah buruk dan krisis kemanusiaan akan meningkat. Mereka mengatakan jika mereka pergi, mereka khawatir mereka akan diperlakukan kasar oleh pasukan rezim,” kata Jamjoom.

“Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.”

Mengomentari usulan Assad-Rusia, Staffan De Mistura, utusan khusus PBB untuk Suriah, menyatakan seperti biasanya dimana masalah ini tidak dikomunikasikan dengan PBB sebelumnya – bersedia untuk menemukan cara untuk berkoordinasi dengan Rusia tentang rencana ini.

“Kota ini secara de-facto telah dikepung, karena hampir sepenuhnya dikelilingi militer (Rezim),” kata de Mistura, menambahkan hanya ada waktu dua sampai tiga minggu sampai persediaan habis.”

Kelompok kemanusiaan telah memperingatkan akan adanya bencana besar jika pengepungan di sebelah timur yang dikuasai oposisi di Aleppo berlanjut, dengan fasilitas medis, pabrik roti dan gudang dilaporkan telah hancur akibat serangan udara.

Lebih dari 300.000 warga terjebak di bagian timur kota, menurut PBB.

Kota terbesar kedua Suriah, Aleppo telah dibagi antara wilayah yang dikuasai rezim di barat dan yang dikuasai oposisi di timur sejak pertengahan 2012.

Assad telah mengeluarkan penawaran “ampunan” beberapa kali di masa lalu selama perang Suriah, sampai sekarang memasuki tahun keenam. Penawaran ini sebagian besar dinilai oleh pejuang oposisi sebagai aksi publisitas dan perang psikologis melawan revolusi Suriah.

De Mistura mengatakan pekan ini ia berharap perundingan damai yang bertujuan mengakhiri konflik brutal lebih dari lima tahun bisa dilanjutkan pada akhir Agustus.

Dalam beberapa hari terakhir, puluhan warga Suriah telah dilaporkan tewas dalam serangan oleh rezim Assad dan Rusia diseluruh wilayah Aleppo.

 

Sumber: Al Jazeera & Orient News

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY