Setelah baku tembak, Israel melarang sholat Jum’at di Al-Aqsha

601

JERUSALEM

Setelah terjadi aksi baku tembak, pihak berwenang Israel pada hari Jumat melarang pelaksanaan sholat Jum’at di Masjid Al-Aqsa untuk pertama kalinya dalam hampir lima dasawarsa, kata seorang ulama Palestina.

Keputusan tersebut menyusul baku tembak dimana polisi Israel menembak mati tiga warga Palestina yang mereka klaim melakukan serangan bersenjata di dalam kompleks flashpoint Al-Aqsa.

Setelah serangan tersebut, polisi Israel membersihkan masjid tersebut dan menutupnya untuk publik.

Yoram Ha-Levy, komandan distrik kepolisian Yerusalem, mengatakan bahwa pelaksanaan shalat Jumat di Masjid Al Aqsha dibatalkan.

Polisi Israel juga meningkatkan keamanan, mengerahkan ratusan tentara dan mendirikan penghalang jalan di pintu masuk Kota Tua Yerusalem, kata saksi mata.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Omar Qiswani, direktur masjid Al Aqsha, mengecam penutupan Al-Aqsa.

“Ini adalah langkah yang berbahaya dan serangan yang jelas terhadap kebebasan beribadah,” katanya.

Mufti Yerusalem, Sheikh Mohammad Hussein, telah meminta umat Islam untuk berkumpul di sekitar tembok kota tua untuk melaksanakan shalat Jumat.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Sheikh Ekrima Sabri, seorang khatib di Al-Aqsa, mengatakan bahwa sholat Jumat pertama tidak diadakan di masjid tersebut pada akhir Agustus 1969, sehari setelah Michael Rohan, seorang warga Australia membakar masjid tersebut.

Israel menduduki Yerusalem Timur selama Perang Timur Tengah 1967. Yang kemudian mencaplok kota tersebut pada tahun 1980, mengklaim bahwa seluruh Yerusalem sebagai ibukota “abadi” negara Yahudi – sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Tempat suci bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristen, Yerusalem adalah lokasi Masjid Al-Aqsa, yang bagi umat Islam merupakan tempat ketiga tersuci di dunia.

Anadolu Agency

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY