‘Ratusan Muslim Rohingya’ terbunuh di Myanmar dalam aksi pembantaian brutal

2391

Tentara telah melakukan pembunuhan massal terhadap minoritas Muslim, kantor HAM PBB mengatakan, dalam kemungkinan sebuah aksi pembersihan etnis.

Pasukan keamanan Myanmar telah melakukan pembunuhan massal dan pemerkosaan terhadap Muslim Rohingya dan membakar desa-desa sejak Oktober dalam kampanye kejahatan terhadap kemanusiaan dan pembersihan etnis, menurut PBB.

“‘Daerah operasi pembersihan’ memiliki kemungkinan mengakibatkan ratusan kematian,” laporan dari kantor hak asasi manusia PBB mengatakan, mengacu pada tindakan keras militer yang diluncurkan setelah serangan terhadap sebuah pos militer.

Zeid Raad al-Hussein, komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia, mengatakan bahwa pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi berjanji pada hari Jumat untuk menyelidiki laporan ini.

“Dia memberitahu saya bahwa penyelidikan akan diluncurkan. Dia mengatakan bahwa mereka akan memerlukan informasi lebih lanjut,” katanya.

Laporan, yang didasarkan pada wawancara dengan 204 pengungsi Rohingya yang melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh, menceritakan pelanggaran mengerikan yang diduga dilakukan oleh anggota dinas keamanan Myanmar atau milisi sipil yang bekerja bersama tentara dan polisi.

Dari 101 perempuan yang diwawancarai, lebih dari setengah mengatakan mereka telah diperkosa atau diserang secara seksual.

Beberapa wanita mengatakan kepada para penyelidik PBB bagaimana anak-anak mereka, termasuk bayi yang baru lahir, diinjak-injak atau dipotong sampai mati.

Pasukan keamanan juga dituduh menembak orang yang melarikan diri dan membakar seluruh desa, serta melakukan “perkosaan besar dan sistematis dan kekerasan seksual; penghancuran dengan sengaja bahan makanan dan sumber makanan”.

Tun Khin, seorang aktivis Rohingya, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa masyarakat internasional sekarang harus mengubah apa yang disebut “pendekatan lunak” terhadap pemerintah Myanmar.

“Setiap hari Rohingya menghadapi pelanggaran dan pembunuhan di luar hukum yang terus terjadi,” Khin, yang mengepalai Organisasi Rohingya Burma yang berbasis di Inggris, mengatakan.

“[Dewan Keamanan PBB] harus hadir dengan resolusi yang mengikat kuat untuk mengambil tindakan terhadap pemerintah Myanmar,” katanya, menambahkan bahwa ia berusaha keras agar masalah ini segera dibahas di sana.

PBB mengatakan telah ada laporan tentang tiga anak berusia enam atau lebih muda yang “disembelih dengan pisau”.

“Bayi yang baru berusia delapan bulan dilaporkan tewas sementara ibunya diperkosa oleh lima petugas keamanan,” kantor HAM PBB mengatakan, mengutip laporan saksi.

“Jenis kebencian seperti apa yang bisa membuat seorang pria menusuk bayi yang menangis dan masih menyusu kepada ibunya,” kata kepala HAM PBB Zeid Raad al-Hussein dalam pernyataan itu. “Apa jenis ‘operasi pembersihan’ ini? Apa tujuan keamanan nasional yang ingin dicapai dengan ini?”

Melarikan diri melintasi perbatasan

Rohingya, berjumlah sekitar 1,1 juta, dibenci oleh banyak kalangan mayoritas Buddha Myanmar dan hidup dalam kondisi apartheid seperti di negara bagian Rakhine yang merupakan wilayah mayoritas Muslim di utara.

Yangon menolak mengakui Rohingya sebagai etnis minoritas, bahkan menyebut mereka sebagai imigran ilegal dari negara tetangga Bangladesh, meskipun banyak dari mereka telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi.

Penyelidikan pemerintah Myanmar terhadap kekerasan ini mengklaim bahwa pasukan keamanan tidak melakukan kampanye genosida terhadap Rohingya.

Sebanyak 66.000 orang telah melarikan diri dari Rakhine ke Bangladesh sejak militer melancarkan operasi keamanan dalam menanggapi serangan terhadap pos perbatasan polisi pada tanggal 9 Oktober, kata laporan itu. Kantor kemanusiaan PBB baru-baru ini telah menempatkan angka sebanyak 69.000 orang.

Laporan PBB itu dikeluarkan di Jenewa setelah peneliti mengumpulkan kesaksian bulan lalu dari korban dan saksi warga Rohingya yang melarikan diri dari “wilayah terkundi” di Maungdaw di Rakhine menuju Cox Bazar di Bangladesh.

Sumber: Al Jazeera

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY