Qatar Membantu Membayar Gaji Pegawai Sipil Palestina di Gaza

203
Warga Palestina di Gaza mengantri menerima gaji mereka di Rafah,Gaza selatan,Jumat 9 November 2018 (AFP/Daily Sabah)

Pegawai negeri sipil Gaza membentuk antrian panjang pada hari Jumat(09/11) untuk menerima gaji yang dana nya berasal dari bantuan pemerintah Qatar, sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi ketegangan dalam masyarakat Gaza yang hidup dibawah kemiskinan akibat blokade ketat zionis Yahudi Israel dan Mesir.

Sebanyak $ 90 juta akan didistribusikan dalam enam kali angsuran,setiap bulan sebesar $ 15 juta, menurut pernyataan dari pihak berwenang yang bekerja untuk Hamas (kelompok Palestina yang memerintah daerah kantong itu).

Pengamat dari Qatar hadir di semua 12 kantor pos di Gaza pada hari Jumat tersebut untuk memantau proses distribusi gaji. Karyawan harus menyerahkan salinan (fotokopi) kartu identitas dan dimintai sidik jari mereka.

Beberapa karyawan memamerkan uang seratus dolar ke kamera, setelah beberapa bulan pembayaran gaji di Gaza mengalami hambatan karena pemerintah kekurangan uang.

“Pernah suatu hari,saya tidak memiliki uang untuk membeli makanan,obat-obatan dan pakaian,” kata Wael Abu Assi,seorang polisi lalu lintas,yang ditanyai saat telah berada di luar kantor pos Kota Gaza, “Hari ini aku bahagia dan aku akan membuat anak-anakku bahagia” Lanjut Wael.

Pemandangan di luar kantor pos Gaza dipenuhi antrian pegawai negeri untuk menarik gaji mereka.

Kantor berita resmi Qatar mengatakan,donasi dari Negara Teluk yang kaya akan bermanfaat untuk 27.000 pegawai negeri. Sedangkan Gaji untuk pegawai yang lain akan dibayar dari pendapatan lokal.

Uang tunai itu berhasil masuk ke daerah kantong Palestina tersebut melalui utusan Qatar untuk Gaza,Mohammad al-Emadi,yang memasuki Gaza melalui wilayah Palestina yang dijajah Israel pada hari Kamis (08/11).

Qatar juga mengatakan akan membagikan $ 100 kepada 50.000 keluarga miskin Gaza, karena banyak diantara warga Gaza yang menderita luka-luka akibat tembakan tentara Israel selama bentrokan di sepanjang perbatasan Gaza dengan wilayah Palestina yang dijajah Israel.

Proses transfer uang yang disahkan oleh Israel ini tampaknya merupakan kesepakatan yang akan memaksa Hamas (yang kehabisan uang) untuk mengakhiri aksi protes rakyat di sepanjang perbatasan yang telah berlangsung selama beberapa bulan ini,sebagai gantinya Israel akan melonggarkan blokade Gaza.

“Ini adalah hasil dari aksi protes ‘March of Return’ ” kata Abraham Baker, seorang perwira polisi yang menerima gaji penuh pada hari itu.

Pejabat Senior Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Ahmed Majdalani menyatakan ketidakpuasan Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat atas kesepakatan itu. “PLO tidak menyetujui kesepakatan untuk memfasilitasi uang kepada Hamas seperti itu” kata Majdalani, yang dekat dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas, mengatakan kepada media AFP.

Lebih lanjut Majdalani mengatakan bahwa Emadi telah ‘menyelundupkan’ uang itu ke Gaza dengan menggunakan koper-koper sehingga kelihatan seperti ‘gangster’.

Kesepakatan seperti itu dapat merusak upaya Mesir untuk mendamaikan Hamas dan PA dan akan memungkinkan Hamas untuk mengkonsolidasikan kontrolnya atas Gaza, kata Majdalani.

Hamas telah mengendalikan Gaza sejak menyingkirkan pasukan yang setia kepada PA (faksi yang diakui secara internasional) dalam perang saudara dekat tahun 2007.

Menteri Pertahanan Israel ,Avigdor Lieberman, juga mengkritik pengiriman uang Qatar ke Gaza. “Ini kapitulasi untuk terorisme, dan pada dasarnya Israel membeli ketenangan jangka pendek dengan uang, sementara sangat merusak keamanan jangka panjang,” kata Avigdor, dikutip oleh koran Yediot Aharonot pada Jumat(09/11).

Dalam kesepakatan lain yang disetujui Israel, Qatar telah mulai membeli bahan bakar tambahan untuk satu-satunya pembangkit listrik di Gaza, yang memungkinkan berkurangnya pemadaman bergilir, yang direncanakan ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Mesir dan PBB telah memperantarai perundingan tidak langsung untuk gencatan senjata jangka panjang dengan Israel, dengan mana Hamas telah berperang tiga kali sejak 2008.

Bentrokan mematikan telah menyertai aksi protes besar yang terjadi disepanjang perbatasaan Gaza dengan wilayah Palestina yang dijajah Israel,yang dimulai sejak 30 Maret lalu ini telah berkali-kali menghasilkan kekhawatiran akan adanya perang baru antara Israel dan Hamas.

Kampanye protes (aksi March of Return) bertujuan menuntut hak untuk kembali ke tanah milik keluarga Palestina yang melarikan diri atau yang diusir selama pertempuran yang terjadi di sekitar tahun pendirian Negara Israel (pada tahun 1948).

Setidaknya 220 warga Palestina telah tewas akibat tembakan tentara Israel,mayoritas tembakan terjadi saat aksi protes dan bentrokan,sementara yang lain telah tewas dalam tembakan tank atau serangan udara. Satu tentara Israel tewas oleh seorang penembak jitu Palestina.
Daily Sabah

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY