PM Malyasia: “Trump dapat membangun tembok, kami dapat menolak warga Israel,” 

243

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad pada Selasa mengaskan larangan negaranya untuk menerima atlet Israel, menyamakannya dengan rencana Presiden Amerika Donald Trump untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan AS dengan Meksiko

Malaysia membuat geram Israel setelah mengatakan tidak akan mengizinkan perenang Israel untuk bersaing di turnamen akhir tahun ini yang berfungsi sebagai acara kualifikasi untuk Paralympics Tokyo 2020.

“Setiap negara memiliki hak untuk menerima atau menolak masuknya siapa pun,” kata Mahathir dalam konferensi pers di Wina, Selasa.

“Anda dapat melihat bahwa di Amerika sekarang mereka membangun tembok yang sangat tinggi untuk mencegah orang Meksiko pergi ke Amerika,” katanya.

“Kami memiliki gagasan yang sama, bahwa orang-orang yang tidak diinginkan untuk negara kami akan dijauhkan dari negara kami,” tambah Mahathir.

Pekan lalu, Israel mengecam keputusan Malaysia, dan mengatakan itu dimotivasi oleh “fanatisme Semitisme” Mahathir.

Pemimpin 93 tahun itu, yang menjalankan tugas kedua sebagai perdana menteri, telah menjadi kritikus blak-blakan terhadap Israel atas perlakuannya terhadap rakyat Palestina. Dia di masa lalu Mahatir pernah menerima kritik karena serangan verbal terhadap orang-orang Yahudi.

“Adalah hak saya untuk memberi tahu mereka bahwa mereka telah melakukan banyak hal yang salah. Mengapa kita tidak bisa mengatakan apa-apa terhadap Israel, terhadap orang Yahudi?” Mahathir mengatakan dalam menanggapi tuduhan anti-semitisme baru-baru ini.

Pada hari Selasa Mahathir mencap Israel sebagai “negara penjahat”, menambahkan: “Jika orang-orang mereka ingin bersaing dalam olahraga, mereka dapat pergi ke negara lain.”

Dia mengatakan para atlet Israel berasal dari negara yang beroperasi di luar aturan internasional, termasuk membangun pemukiman di wilayah yang bukan miliknya.

“Mereka telah menyerang kapal kami yang membawa bantuan untuk warga Gaza, ada banyak hal lain yang dilakukan oleh Israel yang bertentangan dengan hukum internasional dan melawan moralitas,” katanya kepada wartawan.

Israel telah meminta Komite Paralimpik Internasional untuk menantang keputusan atau mengubah tempat kompetisi.

Kuala Lumpur, yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, telah menolak permohonan dari badan olah raga dunia untuk menemukan solusi bagi perselisihan itu.

Malaysia telah melarang atlet Israel berkompetisi di sebuah acara olahraga sebelumnya. Dua windsurfers Israel harus mengundurkan diri dari kompetisi di pulau Langkawi setelah visa mereka ditolak pada 2015.

The New Arab

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY