Perang kata-kata antara delegasi rezim dan oposisi Suriah mengawali pembicaraan ‘damai di Astana

1332

ASTANA, Kazakhstan – Pertemuan tatap muka pertama antara kelompok oposisi Suriah dan pejabat rezim Assad dalam hampir enam tahun perang dimulai pada hari Senin ketika pembicaraan diplomatik dengan cepat berubah menjadi saling serang dalam perang kata-kata.

thumbs_b2_f9b5a312cd9968c313adf8787687a291

thumbs_b2_1bb3a12140e828a6b25cc135c86aaed6

Babak baru pembicaraan diatur oleh Rusia dan Turki di Astana, ibukota Kazakhstan, dimaksudkan untuk menampilkan peran yang semakin dominan dalam diplomasi antara Moskow sebagai pendukung rezim Assad, dalam pemahaman baru dengan pemerintah Turki, pendukung utama oposisi Suriah.

Tapi kedua delegasi segera memulai berdebat dan menolak untuk bernegosiasi langsung.

Muhammad al-Alloush dari Jaysh al Islam, dalam pernyataan pembukaannya, melabeli rezim Assad sebagai “rezim zalim yang berlumuran darah” yang didukung oleh “milisi sektarian penuh dendam,” dan menyerukan untuk melepaskan sebanyak 13.000 perempuan yang ditahan sebagai tahanan politik dan untuk mengakhiri pengepungan dan kelaparan. Hal ini menyebabkan suasana memanas di meja perundingan yang memaksa pejabat Kazakh untuk menyerukan agar kedua pihak tenang.

Pemimpin negosiator rezim Assad, Bashar al-Jaafari, berbicara kepada wartawan setelah sesi pembukaan, merespons dengan menjuluki delegasi oposisi “kelompok teroris bersenjata,” dan menuduh delegasi oposisi berperilaku “kurang ajar” dan “provokatif”.

Ketegangan menunjukkan tantangan untuk Rusia, pendukung paling kuat rezim Assad, karena pemerintah Rusia mencoba untuk menunjukkan pendekatan untuk dapat mencapai lebih dari upaya perundingan tahun lalu di Jenewa yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan PBB, yang sebagian besar sia-sia. Rusia, Iran dan Turki mengadakan pertemuan untuk membahas gencatan senjata dan memprakarsai permbicaraan ‘damai’ tanpa melibatkan Amerika Serikat pada Desember 20 2016.

 

Sekarang, peran Amerika Serikat di Suriah dan di Timur Tengah secara luas dinilai semakin surut di bawah mantan Presiden Barack Obama, dan situasi di masa depan masih belum jelas. Obama, sementara mendukung beberapa kelompok oposisi, menolak keterlibatan lebih dalam Amerika dalam konflik Suriah, menyerahkan peran utama ke Rusia. Penggantinya, Presiden Trump, telah memberi sinyal persetujuan luas atas kepemimpinan dan kebijakan Rusia dan beragam pesan tentang Suriah.

Secara resmi, semua pihak dalam konflik Suriah menjelaskan tujuan dari pembicaraan di Astana sebagai menegaskan kembali gencatan senjata yang rapuh dalam rangka untuk menghidupkan kembali pembicaraan Jenewa. Gencatan senjata, mulai bulan Desember dan dikenal secara resmi sebagai penghentian permusuhan, sebagian besar diabaikan di banyak bagian Suriah dan mengecualikan beberapa kelompok diantaranya Daesh.

 

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY