Pengusaha yang terusir mendirikan ‘Damaskus Kecil’ di barat laut Suriah

23

Di jalan yang ramai di barat laut Suriah, pemilik restoran muda Abdulrahim Abulezz menyajikan roti ayam yang manis yang dibuat sesuai resep tradisional dari kota asalnya Daraya, yang dia tinggalkan tahun lalu.

Restorannya bernama Sultan Daraya berdiri di deretan toko-toko dan restoran-restoran yang dikelola oleh orang-orang Suriah yang terpaksa pergi dari kota-kota yang pernah dikuasai oposisi di sekitar ibu kota Damaskus yang berada di bawah kesepakatan evakuasi dengan rezim Assad.

Dengan nama-nama seperti Supermarket Madaya dan Hidangan Damaskus milik Ibad al-Rahman, toko-toko telah mengubah seperempat Idlib yang dikuasai opisisi menjadi “Damaskus Kecil.”

Susunan sandwich di Sultan Daraya merupakan satu pilihan sajian spesial bagi mereka yang merindukan kampung halaman.

“Kami menamakannya ‘Sultan Daraya’ karena dari situlah asal kami,” kata Abulezz pemilik restoran yang berusia 24 tahun.

Keistimewaannya adalah sandwich shawarma yang lezat, diisi dengan ayam panggang yang disusun vertikal dan dipotong dan dimasukkan ke roti pita yang diisi dengan tomat, paprika pedas dan saus khusus.

“Kami membawa rempah-rempah dan menyiapkan saus pedas tardisional Damaskus. Itu sebabnya shawarma kami jelas khas Damaskus,” kata Abulezz bangga.

“Kami bahkan menambahkan bumbu perendam khas Damaskus ke ayam panggang – resep rahasia yang tidak ada yang tahu di sini.”

Perpaduan itu berasal dari restoran keluarganya di Daraya, salah satu kota pertama yang memberontak melawan rezim Suriah saat terjadi demonstrasi pada tahun 2011.

Pada saat itu, Abulezz meninggalkan universitas untuk bergabung dengan aktivis revolusi yang membela Daraya, yang segera berada di bawah pengepungan rezim yang melumpuhkan.

Pada bulan Agustus 2016, dia termasuk di antara ribuan pejuang dan warga sipil yang dievakuasi ke luar kota menuju Idlib setelah sebuah kesepakatan dengan rezim dicapai.

– ‘Masa lalu yang berharga di Daraya’ –

Puluhan ribu orang telah mengungsi ke provinsi Idlib di bawah kesepakatan “rekonsiliasi” serupa yang mengakhiri pengepungan dan pemboman rezim dengan imbalan perginya pejuang oposisi dan warga dari wilayah tersebut.

Sekitar dua bulan yang lalu, Abulezz membuka Sultan Daraya di kota Idlib.

Dia sekarang memiliki tujuh karyawan: lima dari Daraya, satu lagi dari Homskota ketiga yang dikuasai rezim setelah pejuang oposisi dievakuasi, dan Abu Ali, dari Ghouta Timur dekat Damaskus.

“Sebagian besar pelanggan saya adalah orang-orang dari Madaya, Zabadani, Daraya, dan Moadamiyah al-Sham,” kata Abulezz, menyebutkan nama kota-kota di sekitar Damaskus yang masuk dalam kesepakatan “rekonsiliasi”.

“Semua orang dari pinggiran ibukota telah mengetahui tentang Damaskus Kecil ini,” katanya.

Memang, penduduk asli Daraya berduyun-duyun ke restoran Abulezz setiap harinya.

Abu Hamdan, seorang penjual furnitur yang tinggal di Atmeh dekat perbatasan dengan Turki, mengatakan bahwa dia makan di Sultan Daraya “hanya untuk mengingat aroma Damaskus.”

“Datang ke restoran ini mengingatkan kita pada Daraya, orang-orangnya dan makanan mereka. Karena mengungsi seperti mengisap jiwa dari tubuh,” kata pria berusia 50 tahun itu.

Tukang kayu Abu Imad, 50 th, juga merupakan pengunjung setia restoran tersebut.

“Saya datang ke kota Idlib setiap saat saya perlu membeli beberapa barang dagangan, jadi kami mampir ke tempat teman dari kampung halaman kami,” kata Abu Imad.

“Saya tidak punya makanan favorit, saya datang ke sini untuk mengingat, untuk kembali ke masa lalu Daraya yang indah.”

– Falafel khas Daraya –

Di sepanjang jalan yang sama terletak toko makanan lezat khas Damaskus yang menyajikan hummus, kacang fava disiram minyak zaitun, dan falafel goreng.

Pemiliknya, Mohammad Nuh yang berusia 22 tahun, juga mengimpor resep lezatnya dari restoran keluarganya di Daraya.

“Ketika saya berusia 10 tahun, ayah saya memiliki sebuah restoran di Daraya. Saudara laki-laki saya dan saya dulu bekerja di sana, di situlah saya belajar perdagangan,” katanya kepada AFP.

“Saya menyiapkan makanan di sini dengan cara yang persis sama.”

Di dalam, ketiga pegawainya menumis tomat segar, memotong bunga peterseli, dan mencelupkan campuran kacang tumbuk ke minyak zaitun untuk membuat falafel.

“Saya harus berhutang untuk membuka restoran ini. Butuh banyak kerja keras, tapi akhirnya saya memiliki tempat sendiri,” kata Nuh.

“Qdarullah kita semua berakhir di jalan ini, kebanyakan kita tidak mengenal satu sama lain sebelumnya, dan kita membuka beberapa bisnis yang berbeda,” katanya.

Sama seperti Sultan Daraya, restoran Nuh menarik pelanggan yang ingin untuk merasakan makanan khas Damaskus.

“Warga Idlib sangat menyukai saus pedas – mereka menaruhnya di atas semua makanan, ini merusak rasa makanannya,” kata Nuh.

“Kami mengenalkan mereka resep baru sehingga mereka bisa mencicipi hidangan dan bahan penyusunnya.”

Pengusaha lain adalah Abu Mukhtar, yang berasal dari Madaya, kota lain di dekat Damaskus yang juga telah dievakuasi.

“Kami warga Damaskus dikenal karena kecintaan kami akan makanan enak, yang selalu kami temukan di restoran lokal di Daraya, Madaya, atau daerah lain di pinggiran kota,” kata Abu Mukhtar.

Abu Mukhtar bekerja sama dengan warga Madaya lainnya mendirikan sebuah supermarket yang dinamai menurut kampung halaman mereka yang tercinta.

“Kami memutuskan untuk mengembangkan berbisnis yang juga dimiliki oleh orang-orang terusir dan bahwa kami akan saling berbelanja di tempat masing-masing untuk saling menguntungkan.”

Zaman Al Wasl

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY