Pantang Menyerah, Seorang Pegiat Aksi Mogok Makan Palestina yang Dibebaskan Bercerita kepada Anadolu Agency

1442

thumbs_b_c_760c62e8574740fb2f0359438c11111a

Hebron, Palestina

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Mohammed al-Qeeq, jurnalis Palestina 33 tahun yang melakukan aksi mogok makan selama 94 hari dalam tahanan Zionis Israel –dan telah dibebaskan pekan lalu– menyerukan kepada rekan-rekan tahanan untuk berdiri menentang kebijakan penahanan dari Zionis Israel yang tidak adil.

“Ini adalah pengalaman pahit, tetapi ini mengajarkan saya untuk memperjuangkan hak-hak dan kebebasan saya di hadapan pendudukan Zionis Israel,” tutur al-Qeeq kepada Anadolu Agency, mengacu pada lamanya dia berada di balik jeruji besi dan aksi mogok makan berbulan-bulan lamanya.

Dia mengatakan para tahanan politik Palestina akan melanjutkan “aksi mogok makan” mereka hingga kebijakan Zionis Israel mengenai “penahanan administrasi” dihapuskan.

Di bawah kebijakan penahanan administratif, para tahanan dapat ditahan selama setahun tanpa masa percobaan.

“Aksi mogok makan kami telah mematahkan arogansi Zionis Israel dan menunjukkan bahwa keyakinan akan keadilan kami pada akhirnya akan mencapai kemenangan,” tutur al-Qeeq.

Dia menambahkan para tahanan Palestina akan melanjutkan perlawanan hingga mereka menerima hak-hak sah mereka.

Al-Qeeq memulai aksi mogok makannya pada tanggal 24 November tahun lalu, tiga hari setelah ditahan oleh otoritas Zionis Israel atas tuduhan “menghasut”.

Pria 33 tahun tersebut akhirnya mengakhiri aksi mogok makannya pada awal tahun ini –setelah 94 hari– setelah sebuah persetujuan dicapai untuk membebaskan dia dari penahanan pada tanggal 19 Mei.

Lebih dari 7.000 warga Palestina saat ini mendekam di penjara-penjara Zionis Israel, 750 di antaranya ditahan di penahanan administratif, menurut angka resmi dari Palestina.

Solidaritas

“Pendudukan Zionis Israel –dengan berbagai cara– mencoba mematahkan aksi mogok makan saya,” tutur al-Qeeq, “tetapi aksi mereka gagal.”

Dia lanjut memuji peran rakyat Palestina dalam mendukung dirinya selama aksi mogok makannya yang berbulan-bulan.

Solidaritas populer memainkan peran penting dalam membuat otoritas Zionis Israel menandatangani kesepakatan (membebaskan saya),” tuturnya.

Pada waktu penangkapannya, al-Qeeq –yang dulunya merupakan penduduk asli dari desa Dura, dekat Hebron (al-Khalil), Tepi Barat– kini tinggal di Ramallah, kota tempatnya bekerja untuk al-Majd TV, sebuah saluran televisi berbahasa Arab terkenal.

“Saya akan segera kembali ke pekerjaan saya sebagai seorang jurnalis dan memangku kembali peran saya dalam mengekspos kejahatan pendudukan Zionis Israel melawan rakyat Palestina,” tuturnya.

Dia menegaskan bahwa Israel takut akan para jurnalis Palestina karena peran mereka dalam mengekspos berbagai kejahatan negara Yahudi tersebut.

“Zionis Israel telah menyerang berbagai saluran televisi dan menahan sejumlah reporter –tetapi itu tidak akan membungkam para jurnalis Palestina,” tutur al-Qeeq.

Fayha Shalash, istri al-Qeeq 29 tahun, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa apa yang terpenting sekarang adalah Mohammed telah kembali bersama keluarganya dan rakyatnya.

“Kami telah melalui hari-hari sulit, tetapi kami selalu tahu Mohammed akan dibebaskan dari penjara cepat atau lambat,” tutur istrinya.

“Mohammed telah menjadi lambang martabat dan duta kebebasan untuk seluruh dunia,” tutur Shalash.

Sumber: Anadolu Agency

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY