Milisi Syiah Mengusir Warga Kristen dan Menjadikan Gereja Sebagai Barak Militer

447

Jaysh al-Izza, kelompok oposisi kuat di pedesaan Hama, merilis pernyataan yang diterbitkan pada hari Sabtu 8 April 2017 tentang perkembangan terbaru di kota Mehardeh, yang penduduknya mayoritas beragama Kristen. Pernyataan itu memperlihatkan apa yang dilakukan oleh kelompok syiah Hizbulatt benar-benar bertentangan dengan klaim rezim Assad bahwa mereka (rezim dan sekutu) melindungi minoritas.

Berikut terjemahan dari pernyataan Jaysh al-Izza kepada jaringan berita “Orient” :

“Sejak awal revolusi Suriah, rezim Assad telah berusaha untuk membangkitkan isu sektarian dan agama dengan mengklaim diri mereka sebagai pelindung dan pembela minoritas. Rezim Assad mengeksploitasi isu ini untuk mengembalikan otoritas dan menumpahkan darah warga Suriah .

Sebaliknya, revolusi Suriah bertujuan untuk melindungi spektrum luas dari rakyat Suriah tanpa pengecualian.

Akhir-akhir ini, ketika pertempuran pedesaan Hama dimulai, pasukan revolusi berusaha untuk mengamankan kota Kristen Mehardeh untuk memblokir rezim Assad dan sekutunya yang berusaha memanipulasi dan mengeksploitasi minoritas.

Untuk tujuan ini, kami mengeluarkan pernyataan resmi menyerukan keamanan kota ini, dengan cara menghindarkan kota ini dari menjadikannya wilayah pertempuran dan melindungi penduduk sipil serta aset pribadi mereka, termasuk rumah, peternakan, pabrik, perusahaan, dll

Namun, ketika kami meninggalkan daerah ini, Hizbulatt dan milisi Iran, seperti biasa, mengambil keuntungan dari krisis dengan mengorbankan penduduk sipil, mengubah kota itu menjadi pangkalan militer dengan menggunakan tempat ibadah umat kristen, biara-biara dan gereja sebagai barak militer di mana mereka menyimpan senjata artileri dan peluncur roket. Milisi sektarian juga membawa tank ke daerah pemukiman penduduk di kota itu.

Kota ini telah menjadi ujung tombak yang dijadikan Iran sebagai landasan untuk memulai serangan ke kota-kota dan wilayah sekitarnya.

Hal ini menempatkan kota dalam konfrontasi langsung dengan pasukan revolusioner.

Milisi Syiah mengungsikan warga sipil keluar dari kota itu di bawah todongan senjata. Warga terpaksa melarikan diri dari terorisme yang dilakukan oleh milisi Syiah.

Hizbulatt dan milisi Iran kemudian membawa keluarga dari pasukan mereka untuk menempati rumah-rumah penduduk secara paksa.

Dalam kasus yang terang ini, kami menyerukan kepada masyarakat internasional untuk memikul tanggung jawabnya dalam melindungi dan menetralkan kota.

Komunitas Internasional harus bekerja untuk mengusir milisi Syiah dalam rangka memblokir rencana Iran dan milisinya serta mencegah mereka mengulangi tragedi perpindahan (eksodus) orang-orang Kristen seperti di Libanon selatan.

Masyarakat internasional harus melindungi dan melestarikan struktur sosial kota, yang hidup berdampingan dan hidup dalam damai serta harmoni dengan daerah sekitarnya selama berabad-abad.”

OrientNews

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY