Milisi Syiah Asing Hizbulatt dan Rezim Teroris Assad Menghancurkan Pompa Air Ein al-Fijeh

1222

Rezim teroris Assad dibantu oleh milisi asing dari kelompok syiah Lebanon (Hizbulatt) yang bekerja di Suriah untuk membantai warga sipil Suriah melakukan pemboman di kawasan pemukiman dan fasilitas sipil warga lembah Wadi Barada sehingga menyebabkan hancurnya fasilitas pompa air Ein al-Fijeh pada hari Jumat (06/01),laporan dari sumber-sumber lokal untuk jaringan berita Orient.

Milisi syiah asing Hizbulatt dan rezim teroris Assad juga melakukan beberapa upaya untuk merampas tanah di Ein al-Fijeh tetapi berhasil dilawan oleh pejuang oposisi.

Sumber-sumber lokal melaporkan kepada jaringan berita Orient bahwa pemboman di lembah Wadi Barada tidak berhenti pada hari Jumat (06/01) kemarin meskipun rezim Assad dan milisi syiah asing mengklaim gencatan senjata untuk sementara. Sumber lokal juga mengatakan bahwa tidak ada delegasi Rusia yang memasuki Wadi Barada untuk melakukan negosiasi.

Pada hari Selasa (03/01), milisi syiah asing Hizbulatt dan rezim Assad menyerang Wadi Barada dengan bom bermuatan penuh gas beracun klorin menyebabkan kasus kematian yang luas yang didahului rasa lemas dan sangat sulit bernafas. Lembah Wadi Barada telah diserang dengan serangan udara masif yang sangat brutal dan tembakan artileri selama 17 hari berturut-turut.

Desa yang dikuasai pejuang oposisi di lembah Wadi Barada telah dikepung selama berbulan-bulan oleh rezim teroris Assad dan milisi syiah asing Hizbulatt dari Lebanon. Situasi kemanusiaan di lembah itu sudah sangat mengerikan bahkan jauh sebelum serangan yang dimulai baru-baru ini sejak 17 hari yang lalu. Selain bom, orang-orang di lembah itu sekarang terpaksa harus bertahan hidup tanpa air, listrik atau sarana komunikasi termasuk sambungan telepon rumah, telepon seluler dan internet. Desa-desa itu juga menghadapi kekurangan stok makanan kritis, obat-obatan dan bahan bakar akibat pengepungan panjang.

Wadi Barada, terletak 18 kilometer arah barat laut dari ibukota Damaskus, terdiri dari 13 desa, sepuluh diantaranya berada di bawah perlindungan pejuang oposisi sementara tiga desa lainnya dikuasai oleh rezim Assad.

Sebuah gencatan senjata telah disepakati di Suriah pada Kamis (29 Desember 2016), setelah Turki, Rusia dan kelompok pejuang oposisi mencapai kesepakatan di ibukota Turki ,Ankara. Menurut kesepakatan itu, Turki dan Rusia akan bertindak sebagai negara penjamin pelaksanaan gencatan senjata.

Orient News

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY