Menteri Sosial Israel Menolak Pembentukan Negara Palestina dan Hanya Boleh Ada di Sinai

21

Menteri Kesetaraan Sosial Israel, Gila Gamliel, dalam beberapa kesempatan telah menegaskan dirinya melawan pembentukan sebuah negara Arab Palestina.

Menurutnya, adalah kerugian bagi warga Israel jika sebuah negara Arab Palestina akan didirikan di kawasan Yudea dan Samaria. Menurut Gamliel, jaminan keamanan yang ditawarkan oleh Amerika Serikat dan masyarakat internasional tidak meyakinkan. “Kami telah belajar selama bertahun-tahun mengenai masalah keamanan” katanya seraya melanjutkan dengan sebuah pribahasa; “jika saya bukan untuk diri saya sendiri, maka siapa yang akan menjadi saya”.

“Keamanan negara Israel adalah tanggung jawab kita sendiri.” tegas Gamliel.

Meskipun dia menentang pendirian sebuah negara Arab baru di tengah tanah yang ia anggap sebagai tanah air Yahudi, Gamliel mengatakan bahwa jika, terlepas dari segalanya, jika memang tidak ada pilihan lain selain menciptakan negara Arab baru, lokasi alternatif untuk pendirian sebuah negara Arab Palestina harus mencari tanah yang bukan bagian dari tanah bukan Yudea dan Samaria.

Dikutip dari media Israel, Arutssheva, Gamliel berkata “Pendirian sebuah Negara Palestina adalah ide yang berbahaya bagi Negara Israel. Kawasan antara Sungai Yordan dan laut tengah tidak dapat dan tidak boleh berdiri sebagai negara Palestina. Dari sudut pandang saya, alternatif yang paling realistis, dan satu-satunya di bawah keadaan yang ada, adalah wilayah otonomi Palestina di Yudea dan Samaria. Namun, jika menjadi jelas bahwa tidak ada alternatif selain membangun negara Palestina yang sebenarnya, maka ini akan menjadi masalah regional, tidak hanya untuk Israel. Oleh karena itu, tempat yang merupakan bagian dari negara-negara Arab, seperti Semenanjung Sinai, harus dipertimbangkan.”

“Mereka (orang Palestina) dapat memilih untuk menjadi warga negara terpencil di Sinai, atau memilih untuk pindah ke sana. Ini adalah yang harus menjadi pilihan mereka. Apa yang kita selesaikan untuk kita adalah masalah kewarganegaraan, yang telah membayangi kita sebagai negara demokratis.” kata Gamliel.

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY