Mengenang Abdul Aziz al-Rantissi : Dokter yang Rindu Syahid

1488

Abdul Aziz al-Rantissi lahir pada 23 Oktober 1947 di desa Yibna. Enam bulan setelah kelahirannya, keluarganya dipaksa keluar dari desa mereka, karena pembantaian Zionis berlangsung di desa-desa tetangga.

Keluarga al-Rantissi yang mengungsi di Jalur Gaza, akhirnya menetap di kamp pengungsi Khan Younis yang baru didirikan. Perjalanan selanjutnya akan membentuk kehidupan seorang pria yang membuat sejarah.

Tumbuh sebagai pengungsi, ia dipaksa untuk berkontribusi dan berbagi tanggung jawab memberi makan keluarga, sehingga ia belajar dan bekerja.

Meskipun demikian ia tetap mendapat nilai yang sangat baik, dan setelah unggul dalam ujian matrikulasi, ia diterima untuk belajar kedokteran di Mesir, lulus di Universitas Alexandria pada tahun 1972.

Beliau aktif disejumlah organisasi dintaranya sebagai anggota Komite Islam, Organisasi Kedokteran Arab di Jalur Gaza. Menjadi dosen di Universitas Islam Gaza sejak dibuka pada tahun 1987 dengan memberikan mata kuliah Ilmu Genetik dan Parasit.

Abdul Aziz Rantisi merupakan murid dari Syekh Ahmad Yasin, tokoh spiritual, qiyadah/ pemimpin pejuang Palestina melawan penjajah Zionis Israel di abad modern ini. Di bawah bimbingan Syekh Yasin, Abdul Aziz Rantisi dapat memahami arti kehidupan dan perjuangan untuk meraih kesuksesanyang sesungguhnya, tegar dalam menghadapi cobaan, tidak terbuai dengan godaan dunia dan yang lebih penting lagi adalah bercita-citanya untuk mati syahid.

Beliau pernah dipenjara ditahanan Kaffar Yunah bersama Sang Guru, Syekh Ahmad Yasin dan beberapa pejuang Palestina lainnya dari Hamas. Di penjara tersebut Abdul Aziz Rantisi melakukan muraja’ah (mengulang) Al-Qur’an yang sudah hafal diluar kepalanya sejak tahun 1990. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Untuk merealisasikan cita-citanya untuk mati syahid, selain berdo’a, beliau berjuang dengan ikhlas, tidak cinta dunia, tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah, tidak mau kompromi dengan Zionis Israel, penjajah yang akan menghancurkan masjid Al-Aqsha, kiblat umat Islam pertama.

Al-Rantisi membayar harga yang mahal untuk partisipasinya dalam mendirikan Hamas dan perannya dalam intifada pertama Palestina. Dia dihukum dua tahun di penjara Zionis

Setelah dibebaskan, ia berada di antara nama-nama pertama yang muncul di daftar nama yang akan dideportasi ke Libanon selatan pada tahun 1992. Secara total, ia menghabiskan 7 tahun di penjara Israel.

Al-Rantisi juga menghabiskan 27 bulan di penjara Otoritas Palestina, di mana dia ditangkap beberapa kali karena berbicara melawan perjanjian Oslo.

Ketika Syekh Ahmad Yasin syahid, Senin, 22 Maret 2004 karena dirudal penjajah Zionis Israel. Maka estafet kepemimpinan Hamas diembannya.

Pertama kali IOF mencoba membunuh al-Rantisi pada 1 Ramadan 1, 1992 di tenda media Marj al-Zohour. Seorang pria datang berpura-pura menjadi penerjemah dari seorang wartawan Jepang dan diam-diam meninggalkan tas dengan bahan peledak di tenda, yang kemudian meledak. Tenda itu kosong ketika tas meledak, dan tidak ada korban yang dilaporkan.

IOF mencoba membunuh dia sekali lagi pada 10 Juni 2003. Pengawalnya Mustafa Saleh gugur, dan putranya Ahmad serta seorang gadis kecil yang lewat luka berat.

Syekh Abu Bakar Al-‘Awawidah, anggota Rabithah Ulama Palestina di Suriah ketika berkunjung ke Indonesia, tepatnya hari Jum’at, 28 September 2007/17 Ramadhan 1428H bercerita tentang saat-saat terakhir kehidupan dr. Abdul Aziz Rantisi setelah dihantam roket penjajah Zionis Israel, Ketika badannya dipenuhi darah, kondisi sudah mulai agak lemah, beliau (Abdul Aziz Rantisi) menunjuk ke kantong celananya, pengawalnya tidak paham apa maksudnya, setelah tangan pengawalnya dimasukkan ke kantong celana dr. Abdul Aziz Rantisi tampaklah beberapa uang, dr. Abdul Aziz Rantisi dengan kondisi tubuh yang sudah lemah meyampaikan pesan kepada pengawalnya, berikan uang tersebut kepada si fulan, Subhanallah, Allah memberikan kesempatan dan peluang kepada dr. Abdul Aziz Rantisi untuk meninggalkan dunia tanpa beban dan hutang serta menunaikan amanah untuk disampaikan kepada yang berhak.

Bahkan sehari sebelum dihantam roket penjajah Zionis Israel, beliau sudah mengambil uang tabungan gajinya selama mengajar di Universitas Islam Gaza dan menghitung hutang yang akan dilunasinya. Termasuk beliau memberikan bantuan untuk biaya pernikahan anaknya, Ahmad. Setelah itu beliau berkata, ”Sekarang, jika saya menemui Tuhanku, maka aku dalam keadaan bersih. Saya tidak memiliki apa-apa dan tidak ada tanggungan apa-apa.”

Pada hari Sabtu, 25 Shafar 1425/ 17 April 2004, dokter yang rindu syahid, dr. Abdul Aziz Rantisi dihantam rudal zionis Israel, Innalillahi wainna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali), QS: Al-Baqarah/ 2: 156, maka tercapailah keinginannya seperti kalimat yang pernah dia ucapkannya: Kita akan mati suatu hari nanti, tiada apa yang dapat mengubahnya. Jika maut disebabkan Apache (helikopter tempur buatan Amerika) atau serangan jantung, saya lebih rela memilih Apache…”

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.(QS: Ali Imran/3: 169).

(Ferry nur S.Si/ Sekjen KISPA ferryn2006@yahoo.co.id/rz)

 

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY