Mantan pejabat rezim Suriah mengatakan adanya kolusi antara Assad, Rusia dan Daesh

1529

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, mantan jaksa agung rezim Suriah dari kota Tadmur mengatakan rezim Assad dan Rusia – berkolusi dengan Daesh – bekerja sama menghancurkan kota kuno Tadmur.

ANKARA

Mohamed Qassim, yang sebelumnya menjabat sebagai jaksa agung di pusat kota Tadmur, Suriah, berbicara kepada Anadolu Agency pada hari Sabtu tentang kolusi – yang dia saksikan sendiri – antara rezim Assad dan sekutunya Rusia dengan kelompok militan Daesh .

Qassim, yang sekarang mendukung pasukan oposisi Suriah memerangi rezim Assad, mengatakan rezim telah membuka jalan bagi Daesh untuk menguasai kota kuno Tadmur di pertengahan 2015.

“Saya menjadi saksi atas hubungan antara rezim Suriah dan Daesh,” kata Qasim, yang ditunjuk sebagai jaksa agung di Tadmur pada 2013.

Dalam kapasitasnya sebagai jaksa agung, Qassim mengatakan ia telah melakukan kontak dengan petugas rezim Suriah dan pejabat di kota tersebut.

“Ini memberi saya informasi tentang adanya saling kerjasama dan perdagangan antara Daesh dan rezim,” katanya.

Mantan jaksa agung mengatakan ia pernah diberitahu oleh kepala intelijen kota, Mazen Abdel-Latif, bahwa agen-agen rezim telah berhasil menyusup di Daesh.

“Agen-agen ini selalu menjalin kontak dengan [rezim], mereka menyampaikan informasi kepada kita tentang kelompok militan tersebut,” Qassim mengutip informasi dari Abdel-Latif.

Mengutip perkataan kepala intelijen lokal, Qassim mengatakan bahwa agen-agen rezim juga telah berusaha untuk melakukan serangan teroris di Turki.

“[Abdel-Latif mengatakan] Turki akan membayar harga untuk intervensi di Suriah dan akan dirugikan oleh terorisme dan bahwa Eropa dan Perancis … juga akan membayar mahal,” kata Qassim.

Suriah menderira kehancuran dalam perang brutal sejak awal 2011, ketika rezim Assad menumpas demonstran pro-demokrasi dengan keganasan tak terduga.

Sejak itu, lebih dari 250.000 orang telah tewas dan lebih dari 10 juta mengungsi, menurut angka yang dirilis oleh PBB.

Demonisasi

Qassim mengingat jatuhnya kota Tadmur ke tangan militan Daesh pada Mei tahun lalu.

“Sebulan sebelum kota itu jatuh ke Daesh, kami telah menerima informasi bahwa Daesh berencana akan menyerang Tadmur dan kota yang berdekatan, Sukhna. Kami menyampaikan informasi ini kepada Assad secara langsung,” katanya.

“Tapi bukannya membuat rencana untuk mempertahankan kota, Assad memerintahkan pasukan militer untuk mengosongkan Tadmur dengan harapan Daesh tergoda untuk mengisi kekosongan tersebut,” katanya.

Qassim melanjutkan dengan mengatakan bahwa tujuan Assad adalah untuk mendorong Daesh bergerak ke daerah Qalamoun di barat Suriah di mana mereka akan menghadapi kelompok oposisi Jaysh al-Islam (Tentara Islam).

“Dia ingin melihat kedua kelompok tersebut saling menghancurkan,” kata Qasim.

Menurut Qasim, Assad ingin memberi kesan bahwa Daesh telah merebut Tadmur, dan membuat seolah-olah kelompok Daesh akan menyerang pusat kota Homs untuk membunuh kelompok Alawit dan Kristen.

“[Assad yakin] bahwa penghancuran monumen kuno di kota Tadmur akan membuat marah publik dunia dan dengan demikian akan mengutuk revolusi,” katanya.

Penyiksaan, kekejaman

Ketika ia menjabat sebagai pengacara-umum kota, Qassim mengatakan, ia telah menemukan puluhan mayat tahanan politik di penjara yang dikekola rezim.

“Kejahatan rakyat Suriah adalah karena mereka menentang rezim kriminal Assad,” katanya.

Qassim menambahkan bahwa tahanan politik telah mengalami berbagai bentuk penyiksaan yang mengerikan.

“Banyak yang dipukuli, dibakar, disiksa atau disalib sampai mati,” katanya.

“[Setelah kematian seorang tahanan] saya dipanggil, bersama dengan pemeriksa medis, untuk memeriksa tubuh tahanan dan kita dipaksa untuk menulis laporan bahwa ia meninggal karena sebab alamiah,” kata Qassim.

Mantan jaksa agung Qassim juga menyebutkan rezim Assad – dan sekutunya, Rusia – melakukan kekejaman di Tadmur.

“Ada kekejaman dan kejahatan yang dilakukan oleh Rusia dan rezim Assad yang tidak pernah diketahui dunia,” katanya.

Ia menegaskan bahwa sebagian besar monumen kota, telah dihancurkan oleh serangan udara Rusia atau bom barel yang dijatuhkan oleh pesawat rezim.

“Pemboman Rusia dan [serangan] rezim tidak menargetkan Daesh, tetapi mereka membunuh warga sipil, menyebabkan ribuan warga kota menjadi tunawisma,” katanya.

Qassim melanjutkan dengan menekankan  bahwa Rusia – yang memulai serangan udara dengan mentargetkan oposisi di Suriah September lalu – tidak pernah berusaha untuk merebut kembali Tadmur dari Daesh.

“Mereka  menghancurkan kota dan membunuh orang-orang dan akhirnya bekerja sama untuk melenyapkan Tadmur,” katanya.

Keterlibatan

Qassim mengatakan puluhan ahli militer Rusia telah tiba di Tadmur ketika ia masih menjabat sebagai pengacara-umum kota.

“Para ahli militer ini mengunjungi ladang minyak dan gas untuk melaksanakan operasi pemeliharaan dan perbaikan di bawah perlindungan militan Daesh,” katanya.

“Ini membuktikan Rusia membantu Daesh mempertahankan aliran minyak dan gas dari daerah yang dikuasai untuk dikirim ke daerah yang dikendalikan rezim,” katanya.

Qassim menambahkan bahwa rezim Assad – melalui perantara – melakukan operasi perdagangan dengan Daesh.

“Rezim bekerja melalui mediator untuk membeli minyak dan melakukan operasi perdagangan dengan Daesh di Tadmur dan sekitarnya,” katanya.

Qassim mengungkapkan bahwa pasukan rezim menjual senjata kepada militan Daesh, menyatakan bahwa seorang perwira rezim Suriah – bernama Mohamed Gaber – telah bertanggung jawab untuk menjual senjata ke kelompok militan.

“Dia [Gaber] menyelundupkan senjata pada malam hari untuk militan Daesh dan dibayar oleh tengkulak,” katanya.

Memberikan sekilas bagaimana senjata-senjata itu diperoleh oleh Daesh, Qassim mengatakan Gaber bertugas untuk memesan senjata tambahan di salah satu pos pemeriksaan militer di bawah kekuasaannya.

“[Tak lama kemudian] militan Daesh akan menyerang pos pemeriksaan, dimana Gaber akan memerintahkan pasukannya untuk mundur dan meninggalkan senjata untuk militan,” katanya.

“Setelah Daesh menarik diri dari pos pemeriksaan, Gaber dan pasukannya akan kembali dan menemukan senjata di pos telah kosong,” kata Qassim.

Penyelundupan barang antik

Ditanya tentang perdagangan gelap artefak kuno di Suriah, Qassim mengatakan praktek itu telah meluas bahkan sebelum pecahnya revolusi.

“Ini telah terjadi selama lebih dari sepuluh tahun,” katanya, menyebut nama Sabra al-Khazen, kepala intelijen militer di Tadmur, sebagai salah satu penyelundup barang antik paling terkenal negara itu.

“Dia [al-Khazen] mengumpulkan ribuan artefak kuno dan menjualnya kepada pembeli di luar negeri. Ia berbagi keuntungan dengan Assad dan anggota lain dari aparat intelijen,” kata Qassim.

Dia menambahkan bahwa banyak perwira militer dan personil keamanan telah terlibat dalam penyelundupan dan penjualan artefak di tengah kekacauan akibat revolusi Suriah.

“Beberapa pedagang ditangkap,” kata Qassim, mencatat bahwa ia sendiri telah didekati oleh kepala keamanan rezim yang berusaha untuk menghentikan penyelidikan dan menghancurkan bukti barang antik hasil penyelundupan ilegal.

Ditanya tentang laporan bahwa rezim telah membebaskan tahanan dan memungkinkan mereka untuk bergabung dengan Daesh, Qassim menegaskan bahwa banyak narapidana telah dibebaskan.

“Saya mendengar narapidana ini telah pergi ke Al-Raqqah [di timur laut Suriah] dan menuju ke daerah Daesh lainnya tanpa disebut di peradilan,” katanya.

“Saya secara bertahap menyadari badan-badan intelijen yang merekrut mereka – terutama penjahat – dengan maksud menggunakan mereka untuk menyusup ke Daesh,” kata Qassim.

‘Salah satu penjara besar’

Qassim melarikan diri dari Suriah pada akhir 2015 ke negara tetangga Turki.

“Saya menjadi saksi atas awal mula revolusi damai di Suriah, saya melihat bagaimana demonstran damai dibunuh oleh [pasukan rezim] di Homs,” katanya.

Mantan jaksa agung lantas menegaskan bahwa Suriah telah menjadi “salah satu penjara besar”.

“Ada kepanikan dan ketakutan di mana-mana,” katanya.

Menurut Qasim, rezim Assad telah di ambang kehancuran sebelum Rusia campur tangan dalam konflik.

“Agresi Rusia menyediakan rezim dukungan moral,” katanya. “Dukungan ini, bagaimanapun, tetap sangat rapuh.”

Qassim menekankan bahwa semua warga Suriah – Sunni dan Alawi – sama-sama membenci Assad dan rezimnya.

“Semua yakin bahwa ia akan melarikan diri atau dibunuh,” katanya. “Semua orang tahu Assad ditakdirkan untuk kalah.”

Anadolu Agency

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY