Mantan kolonel Irak : Sunni merupakan target utama dari operasi Mosul

2119

Kolonel Salih menggambarkan kebrutalan milisi Syiah Shaabi pada warga sipil di Mosul yang melampaui kekerasan teroris Daesh.

Seorang mantan perwira militer Irak mengatakan bahwa kelompok teroris Daesh bukanlah target utama untuk memulai operasi untuk membebaskan Mosul, dan bahwa pembersihan etnis Muslim Sunni adalah tujuan sebenarnya.

Mantan kolonel militer Irak, Galip al-Salih, mengatakan kemajuan yang dicapai pasukan koalisi yang dipimpin-militer Irak dan didukung oleh kelompok milisi Syiah Hashdi Shaabi, sangat jauh dari harapan, karena hanya beberapa wilayah pemukiman yang berhasil direbut dari Daesh sejauh ini.

Mimpi buruk pasukan Irak

“Operasi Mosul berubah menjadi mimpi buruk bagi militer Irak dan tampaknya akan terus berlanjut sampai tahun depan,” katanya, mengingat pengumuman PM Haidar al-Abadi yang mengatakan militer Irak akan membebaskan Mosul dalam beberapa minggu.
Setelah melewati satu bulan, militer belum menunjukkan kemajuan yang signifikan di Mosul.

“Pasukan yang bergabung dalam operasi itu adalah personil tanpa keterampilan taktis dan supremasi strategis. Satu-satunya tujuan mereka adalah membunuh lebih banyak Sunni, tapi ini tidak cukup untuk meraih kemenangan, “kata al-Salih.
Dia menyatakan bahwa pasukan Irak dan milisi Syiah, yang didukung oleh serangan udara koalisi internasional yang dipimpin AS, telah berusaha untuk memasuki pusat kota dari front timur, tetapi hanya merebut 6 dari 82 wilayah dalam satu bulan terakhir.

Operasi dapat terus berlanjut sampai tahun depan

“Dalam situasi saat ini perang bisa terus berlanjut sampai lebih dari enam bulan. Karena target utama bukanlah membebaskan Mosul dari Daesh tapi untuk membalas dendam kepada Sunni, “tambahnya.
Mantan perwira militer menggambarkan kebrutalan milisi Syiah dapat melampaui teror atau kekejaman Daesh.

Kebrutalan Syiah Shaabi

“Mereka membunuh seorang anak laki-laki 11 tahun dengan menghancurkan dia di bawah tank dengan tangan terikat di belakang punggungnya. Milisi Syiah juga mencambuk perempuan Sunni dengan alasan ‘tidak berperang melawan Daesh’. Di beberapa desa mereka membunuh semua laki-laki dan perempuan, dan anak-anak dengan menembak secara acak. Mereka menyiksa dengan menyeret orang-orang sipil Sunni dengan mengikat mereka di belakang mobil, “katanya, menambahkan kebrutalan itu jauh lebih buruk dari kelompok teror Daesh.
“Warga sipil di Mosul takut ditangkap oleh milisi Syiah hidup-hidup,” menurut al-Salih.

400 tentara Irak tewas

Mantan kolonel mengatakan sedikitnya 400 tentara Irak telah tewas oleh serangan bunuh diri Daesh sejauh ini.
“Puluhan tentara dan anggota Shaabi dibunuh setiap hari, dimana Daesh melakukan serangan bunuh diri yang mengejutkan dengan menggunakan terowongan bawah tanah … Bom bunuh diri adalah senjata yang paling efektif dari kelompok teror Daesh,” katanya.
“Daesh bisa menjangkau setiap sudut kota melalui terowongan dan pasukan Irak putus asa terhadap taktik ini meskipun dukungan udara dari koalisi pimpinan AS,” katanya.
Al-Salih mengatakan bahwa teroris Daesh telah mempersiapkan diri terhadap serangan ini selama beberapa bulan.

Hanya enam dari 82 lingkungan berhasil direbut sejauh ini

“Mereka telah mengembangkan strategi mereka. Mereka telah membangun dinding beton di front utara, selatan dan timur kota, “ujarnya.
“Sumber-sumber lokal mengatakan bahwa menghancurkan dinding ini akan sulit bagi pasukan Irak,” tambahnya.
Pasukan koalisi telah merebut Gökçeli, Semah, Kerame, Intisar, Kudus dan Aden wilayah Mosul timur. Kota-kota tersebut adalah 6 diantara 82 wilayah yang harus direbut militer Irak setelah pertempuran sengit di perkotaan.
Tank dan kendaraan lapis baja tidak berguna dalam pertempuran perkotaan.

Pekan lalu, salah satu komandan Irak dalam operasi Mosul mengakui bahwa tentara mereka tidak memiliki kemampuan untuk pertempuran perkotaan. “Mereka hanya bisa melawan dengan dukungan tank dan kendaraan lapis baja. Tapi setelah mencapai lingkungan padat di pusat kota, tank dan kendaraan lapis baja menjadi tidak berguna, “tambahnya.
Kolonel Mein Sadi, yang merupakan komandan tim pasukan Irak yang bertempur di Mosul, mengatakan mereka telah menghadapi lebih dari 200 serangan bunuh diri setelah memasuki pusat kota. “Daesh juga memiliki beberapa senjata berat,” tambahnya.

Kelompok teror Daesh menguasai wilayah Mosul di utara Irak yang dihuni mayoritas Muslim-Sunni pada tahun 2014, ketika pasukan Irak yang setia kepada pemerintah Syiah menarik diri dari kota tanpa melakukan perlawanan terhadap kelompok Daesh.
Setelah dua tahun di bawah kekuasaan Daesh, pemerintah pusat Irak mengumumkan sebuah operasi gabungan, yang didukung oleh serangan udara pimpinan AS, untuk membebaskan kota itu pada 17 Oktober.

Yeni Safak

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY