Kilis, sebuah kota teladan dan paling ramah untuk pengungsi Suriah

1437

Kilis, sebuah kota kecil di perbatasan Suriah, telah dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian kerena telah menjadi tuan rumah yang baik untuk sekitar 120.000 pengungsi Suriah. Ayhan Sefer Üstün, seorang anggota parlemen dari AK Party yang menjabat sebagai wakil ketua, mengatakan dinominasikannya Kilis karena telah menjadi tuan rumah teladan dan kota pengungsi yang dikenal di seluruh dunia

Kilis, sebuah kota yang terletak sekitar 10 kilometer dari perbatasan Suriah, secara alami menjadi salah satu tujuan pertama untuk puluhan ribu warga Suriah yang meninggalkan tanah air mereka yang hancur oleh perang. Yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang jarang terlihat di kota-kota lainnya saat menerima pengungsi secara massal di dunia. Meskipun gelombang pengungsi berbondong-bondong masuk ke kota, warga melakukan segala yang mereka bisa untuk membantu pengungsi dan tidak pernah menolak kedatanagan penduduk baru. Ini yang mendorong Ayhan Sefer Üstün untuk menominasikan kota Kilis sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian. Üstün, seorang anggota parlemen dan wakil ketua hak asasi manusia dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party), mengatakan ia akan berusaha agar kota Kilis diakui di seluruh dunia.

Dengan populasi 129.000, Kilis adalah tuan rumah bagi 120.000 pengungsi Suriah, dan jumlah ini dapat meningkat karena gelombang baru pengungsi akibat memburuknya konflik Suriah. Dalam sebuah surat kepada komite Nobel Prize, Üstün mengatakan kota Kilis menjadi teladan dalam hal menangani pengungsi. “Kami berpikir bahwa masyarakat yang bersedia menerima pengungsi dengan baik adalah sesuatu yang hebat dan sebuh hal penting untuk perdamaian dunia saat ini,” Üstün berpendapat dalam suratnya. “Warga kota (Kilis) berbagi pekerjaan mereka, rumah tinggal, perdagangan dan ruang sosial [dengan pengungsi Suriah]. Saya kira itu adalah contoh masyarakat yang cinta damai yang tidak ada di tempat lain di dunia,” tulisnya kepada komite Nobel dimana hadiah bergengsi tersebut terakhir disampaikan ke Kuartet Dialog Nasional Tunisia untuk membangun demokrasi pluralistik di Tunisia.

“Apa yang akan terjadi jika 2,5 juta pengungsi, yang melarikan diri dari perang, datang ke Paris di mana 2,5 juta orang hidup? Apa yang akan Orang inggris pikirkan dan lakukan jika 3 juta pengungsi, yang melarikan diri dari perang atau bencana alam berlindung dan datang ke London, yang memiliki penduduk lebih dari 3 juta? Seperti apakah kriteria untuk toleransi dan pemahaman dalam kasus seperti itu? ” Üstün bertanya dalam surat rekomendasinya.

Berbicara kepada Daily Sabah, Üstün berkata bahwa Kilis adalah kota dengan hampir tidak ada contoh perilaku bermusuhan terhadap warga Suriah. Sebaliknya, Kilis membuka pintu lebar-lebar bagi perdamaian dan persaudaraan dengan warga Suriah. Dalam dunia yang hancur oleh perang, contoh perdamaian seperti ini harus diberi penghargaan,” kata Üstün.

Salah satu alasan yang memotivasi dia untuk mencalonkan kota Kilis sebagai penerima hadiah Nobel karena membandingkan dengan contoh bantuan kepada pengungsi Suriah di negara-negara lain. “Kami telah melihat laporan bahwa seorang wanita Yunani dari sebuah pulau di mana pengungsi tiba, telah dinominasikan hanya karena dia memberi air untuk keluarga pengungsi yang tiba di pulau itu. Tiba-tiba, warga Yunani memberinya dukungan, anggota parlemen dan pejabat senior juga memberi dukungan untuk nominasi nya. Kita tentu menghargai usahanya, tapi kemudian ada kasus Kilis, yang mengurus 120.000 orang sejak konflik dimulai tanpa ada insiden permusuhan. Warga Kilis telah menulis sejarah. Tentu, Turki juga akan ditulis dalam sejarah sebagai negara yang memperlakukan pengungsi dengan cara yang terbaik yang bisa dilakukan, tapi kami ingin membawa Kilis dan menyoroti upaya mereka, “katanya.

Turki adalah rumah bagi lebih dari 2,5 juta pengungsi dari Suriah, dan menjadi tuan rumah terbesar di dunia untuk warga Suriah yang mengungsi. Sebagai negara di utara Suriah, Turki adalah tujuan terdekat bagi jutaan orang yang melarikan diri perang. Hanya sebagian kecil dari mereka-sejumlah 269.672 orang – menurut Kementerian Bencana dan Emergency Management Authority (AFAD) – tinggal di kamp-kamp pengungsian sementara yang lain hidup di kota-kota di seluruh Turki, dari kota-kota perbatasan seperti Kilis ke Istanbul di barat laut. Turki telah dipuji karena keramahannya terhadap pengungsi, terutama untuk negara dengan model kamp pengungsi terbaik dan bantuan kemanusiaan yang terus menerus untuk para pengungsi. Negara ini telah menghabiskan setidaknya $ 8 milyar untuk pengungsi sejak konflik dimulai pada tahun 2011 dan kampanye bantuan nasional untuk membantu Suriah baik yang ada di Turki atau di Suriah telah mengumpulkan miliaran lira Turki. Selain beberapa kasus kerusuhan terpisah beberapa tahun yang lalu di kota padat pengungsi, warga Suriah di negara itu tidak menghadapi tindakan intoleransi.

Hal ini tentunya berbeda dengan Eropa di mana meningkatnya Islamofobia dan rasisme telah menciptakan penolakan terhadap aliran pengungsi. Jerman, misalnya, telah menjadi pusat kritik karena secara acak menjadikan pengungsi sebagai tersangka dalam serangan seksual selama perayaan Tahun Baru di Cologne. “Tentu saja, akan ada penjahat di antara pengungsi, tetapi Anda tidak bisa menggeneralisasi dan menyalahkan jutaan pengungsi. Jika ada kejahatan, maka ada hukum dan mereka akan dihukum. Menyalahkan semua pengungsi benar-benar tindakan tanpa ampun,” kata Üstün. Dia menambahkan bahwa para pengungsi di Turki juga dapat melakukan kejahatan, tetapi menegaskan bahwa adalah hal yang salah jika mencemarkan nama baik populasi pengungsi secara keseluruhan. “Mereka yang melabeli pengungsi sebagai penjahat dan tidak memperlakukan pengungsi dengan baik akan dikenang dengan rasa malu sementara Turki akan dikenang sebagai tuan rumah yang baik setelah krisis ini berakhir,” tambahnya.

Daily Sabah

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY