Kehancuran Irak dan Kesunyian Barat

1431

Kota Ramadi di Irak tengah dikuasai oleh Daesh (ISIS) pada Mei 2015. Ini adalah kota yang dihuni lebih dari satu juta orang, kebanyakan Muslim Sunni. Bulan lalu, sebagian besar kota tersebut direbut oleh militer Irak, dengan bantuan milisi Syiah, yang didanai dan dipimpin oleh komandan dari Quds Force Iran – yang terdaftar sebagai organisasi teroris.

Sembilan bulan di bawah kendali Daesh cukup menghancurkan Ramadi, namun serangan akhir selama pertempuran untuk merebut Ramadi membuat setiap bangunan di kota hancur; hanya segelintir wanita, anak-anak dan laki-laki tua yang masih menetap di kota. Beberapa pihak menyatakan bahwa populasi Ramadi sekarang kurang dari 1.000 orang. Milisi Syiah dengan kejam telah melancarkan genosida terhadap penduduk Muslim Sunni, menyiksa, membakar dan bahkan menyembelih. Ribuan warga sipil telah menjadi korban.

Laki-laki Ramadi berusia antara 14 dan 70 telah lenyap. Beberapa mengatakan mereka ditahan di penjara rahasia, yang lain mengklaim mereka telah dibunuh. Laporan mengejutkan telah muncul tentang pembantaian terorganisir terhadap  warga Sunni di Provinsi Diyala dan peledakkan masjid Sunni di kota Meqhdadiya. Sayangnya, Pemerintah Irak dan pemerintah AS hanya diam dalam menghadapi kekejaman yang dilakukan oleh milisi yang berafiliasi dengan Iran yang beroperasi di bawah kepemimpinan Hadi al-Ameri, komandan Organisasi teroris Badr. Keheningan Barat atas pembantaian ini telah cukup memberikan kontribusi terhadap lingkaran perang sektarian, yang mengancam akan merobek dan memecah Irak.

Target berikutnya milisi Syiah adalah merebut Mosul di Propinsi Niniwe, Irak Utara; Itu adalah kota kedua Irak dan rumah bagi lebih dari dua setengah juta orang. Daesh telah menguasai Mosul sejak Juni 2014. Pembatasan ketat telah diberlakukan pada penduduk lokal dengan hanya para pedagang yang dipercaya yang diperbolehkan untuk meninggalkan dan kembali ke kota. Sisanya, sebagian besar penduduk Sunni telah disandera. Daesh menguasai  sejumlah besar persenjataan modern Amerika ketika pasukan Irak melarikan diri dan benteng kota berhasil ditembus. Warga Muslim Sunni di Mosul telah menyaksikan nasib saudara-saudara mereka di Ramadi dan sekarang harus bertanya-tanya apakah mereka harus dibantai seperti domba selama pertempuran yang akan terjadi di kota mereka. Kebrutalan mengerikan dari milisi yang dipimpin Iran sebentar lagi akan mereka hadapi. Banyak yang mungkin merasa bahwa kehidupan di bawah Daesh, meskipun keras, lebih baik dari kematian di tangan milisi Iran.

Ini adalah dilema yang sekarang dihadapi Barat. Serangan udara Amerika yang membantu pasukan Irak dalam merebut Ramadi, telah menghancurkan sebagian besar bangunan di kota dan infrastruktur menjadi debu. Sekarang pesawat tempur dari koalisi internasional yang dipimpin AS telah mulai serangan bom yang mentargetkan Daesh di sekitar Mosul. Seorang jenderal Amerika yang terlibat dalam pertempuran bersejarah di kota Hué selama Perang Vietnam menyatakan: “Kami harus menghancurkan kota untuk merebutnya!” Sepertinya sejarah akan berulang kembali di Irak. Daesh telah menjadi kendaraan yang nyaman untuk para pendukung perang melawan teror.

Koalisi internasional yang dipimpin AS telah bergegas untuk memberikan perlindungan udara, sementara milisi Syiah menancapkan kekuatan mereka. Setiap orang kemudian dapat membusungkan dada mereka dengan kebanggaan atas keterlibatan mereka dalam kampanye untuk mengusir Daesh keluar dari Irak. Sayangnya, kemenangan tersebut harus dibayar dengan biaya yang mengerikan, yang ditanggung, oleh sebagian besar Muslim Sunni Irak, dimana mereka akan diburu, ditindas dan dibunuh dengan brutal.

Struan Stevenson

Presiden European Iraqi Freedom Association (EIFA)

Struan Stevenson adalah seorang Anggota Parlemen Eropa 1999-2014 dan Presiden Delegasi Parlemen Eropa untuk Hubungan dengan Irak 2009-2014.

National Council of Resistance of Iran (NCRI)

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY