Jumlah pasukan rezim semakin menipis, Assad memaksa PNS ikut bertempur

3019
Protesters use their shoes to hit a defaced poster of Syria's President Bashar Al-Assad during a demonstration to express solidarity with Syria's anti-government protesters in front of the Syrian embassy in Ankara June 10, 2011. The words on the poster read: "Murderer. Go away". REUTERS/Umit Bektas (TURKEY - Tags: POLITICS CIVIL UNREST IMAGES OF THE DAY)

“Ada 600 orang di kamp kami. Setiap orang akan diberi 6 buah zaitun untuk sarapan. Tentu saja kami masih kelaparan,” kata salah satu PNS rezim Suriah yang dipaksa untuk mengikuti pelatihan militer di Shamsin.

Rezim Suriah mendirikan kamp pelatihan untuk karyawan baru di pusat daerah Hama dan Homs, sebelum mengirim mereka bersama milisi lainnya untuk bertempur di garis depan.

Shamsin terletak di barat daya Homs. Ide di balik kamp itu dan kamp-kamp serupa berkaitan dengan upaya rezim Suriah untuk mengatasi kekurangan jumlah pasukan dalam memerangi kelompok opsisi Suriah.

Rezim Suriah membuka front baru di Latakia, Homs, Hama dan Daraa setelah intervensi militer Rusia, karena milisi asing tidak mampu untuk memasok jumlah yang dibutuhkan di medan pertempuran.

Bashar al-Assad sendiri menyinggung tentang kekurangan jumlah tentaranya di publik pada bulan Juli 2015.

Sejak itu, telah ada beberapa upaya untuk merekrut milisi rezim.

Pos pemeriksaan atau front pertempuran ?

Rezim mengandalkan milisi lokal seperti Baath Brigade, Falcons of the Desert, Angkatan Pertahanan Nasional, Coastal Shield dan Perlawanan Suriah untuk Pembebasan Iskandarun di wilayah pantai.

Beberapa milisi tersebut, seperti Hama Baath Batalyon, terdiri atas buruh dari pabrik-pabrik yang telah tutup , termasuk pabrik tekstil, besi, wol dan pabrik semen.

Tugas batalion itu adalah untuk mengontrol pos pemeriksaan di Hama, setelah pasukan yang sebelumnya bertugas disana dikerahkan ke garis depan.

Pada pertengahan Februari, Jenderal Komando tentara rezim Suriah menyerukan warga Suriah di daerah yang dikuasai rezim untuk mendaftar sebagai “relawan” di brigade.

Brigade ini terdiri dari warga sipil, termasuk PNS, mahasiswa dan relawan untuk dilatih dan kemudian dimasukkan ke dalam komite rakyat untuk melindungi daerah tempat mereka tinggal.

Setelah mengumpulkan ratusan “sukarelawan”, rezim Suriah akan mengirim mereka ke kamp Shamsin.

Kantor berita oposisi Hama Media Centre, mengutip pejabat di kamp, ​​mengatakan kamp pelatihan saat ini memiliki 600 relawan, sebagian besar warga sipil dan pegawai negeri sipil yang dimobilisasi dari departemen mereka bekerja.

Sumber, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan relawan ini akan dikerahkan langsung ke front depan, dan membantah kalau misi mereka adalah untuk ditempatkan di pos pemeriksaan.

Sumber mengatakan kepada The New Arab, relawan yang direkrut akan dikirim untuk bertempur di wilayah pantai, daerah pedesaan utara dan selatan Aleppo dan pedesaan Hama.

Dipaksa untuk menjadi relawan

Sumber-sumber mengatakan sejumlah warga yang sebelumnya direkrut dikirim untuk berperang di Palmyra, di mana mereka semua binasa.

Ada banyak kebencian di antara para relawan, sumber menambahkan, mengatakan mereka menerima perawatan yang buruk.

Sumber tersebut mengatakan bahwa banyak yang direkrut diberitahu bahwa keterlibatan mereka adalah atas dasar sukarela. Tapi ketika beberapa mencoba untuk meninggalkan pelatihan, pasukan rezim memaksa mereka untuk kembali.

Sumber juga mengatakan PNS diberikan waktu 15 hari setelah menerima perintah untuk bergabung di kamp militer, untuk menerima tugas tersebut atau menghadapi pemecatan dari pekerjaan mereka.

“Setiap instansi pemerintah wajib menyampaikan daftar nama karyawan mereka untuk menjadi tentara, bahkan jika ini mengganggu pekerjaan lembaga ini,” kata sumber.

“Prioritas saat ini adalah untuk mengkompensasi kekurangan jumlah tenaga dalam pertempuran melawan “teroris” ,” sumber menambahkan.

The New Arab

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY