Israel Menghabiskan Dana $ 16,6 Juta Untuk Penggalian di Bawah Masjid Al-Aqsha

223

Pemerintah Israel berencana untuk menghabiskan 60 juta shekel ($ 16,6 juta) untuk proyek penggalian di bawah Masjid Al-Aqsha, di tengah seruan bagi pemukim Yahudi ilegal untuk menyerbu situs suci Muslimin. Sebuah rancangan resolusi tentang masalah ini akan disampaikan oleh Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel ,Miri Regev, dengan dana yang disediakan oleh departemennya dan Departemen Pendidikan selama dua tahun ke depan.

Pasukan penjajah Israel juga telah memerintahkan bahwa bagian dari pemakaman Bab Al-Rahma dipisahkan dari dinding timur kompleks Mulia Masjid suci Al-Aqsa yang lokasinya berhimpitan. Penduduk daerah Silwan telah memprotes aksi pelecehan terhadap makam itu, yang berisi makam dari para ilmuwan,cendekiawan dan syuhada Palestina. Ada peningkatan tajam dalam jumlah pelanggaran Israel terhadap kesucian pemakaman Bab Al-Rahma, dimana pemerintah Israel berencana membangun sebuah taman yang akan didirikan di pemakaman itu.

Israel terus menggali tanah di bawah kompleks Mulia Al Aqsha, dalam pencarian bukti kehadiran situs Yahudi kuno di daerah itu, termasuk keberadaan Kuil Yahudi. Penggalian semacam itu melemahkan fondasi Masjid Al-Aqsha. Kata para kritikus, alasan sebenarnya penggalian adalah karena ekstremis Yahudi ingin menghancurkan masjid suci Al Aqsha dan membangun sebuah kuil Yahudi di tempat itu.

Kelompok-kelompok ekstremis yang didanai pemerintah Israel, seperti ‘Gerakan Bait Suci’, telah membuat cetak biru terperinci dalam persiapan untuk pembangunan bait suci tersebut. Ratusan pemukim Yahudi secara rutin dan sistemis menyerbu kompleks suci itu dan didukung oleh pasukan keamanan Israel, melakukan ritual dan berjanji untuk menghancurkan masjid, sementara jamaah Muslim dihadang/dipersulit untuk masuk Al Aqsha.

Pada bulan April saja, ada sekitar 3.747 pemukim illegal Yahudi zionis menerobos masuk ke dalam kompleks Al-Aqsha, biasanya dilindungi oleh polisi atau tentara Israel. Sejauh ini, selama tahun 2018 telah terjadi peningkatan 30 persen dalam serangan semacam itu dibandingkan tahun lalu.

Gerakan Bait Suci telah meminta para pendukungnya untuk berpartisipasi dalam serangan skala besar ke masjid Al-Aqsha pada hari Ahad (13/05) bertepatan dengan peringatan penjajahan atas kota suci Yerusalem tahun 1967, dan sehari sebelum Amerika Serikat (AS) membuka kedutaan baru di kota itu. “Sudah waktunya untuk menyatakan kemenangan dalam perang,” kata kelompok itu di situs media sosialnya. “Pada Hari Yerusalem kita akan memasuki Temple Mount [kompleks Al-Aqsha] dengan jumlah ribuan.”

Bulan lalu,pengadilan Israel memutuskan bahwa pengunjung Yahudi yang memasuki Masjid Al-Aqsa dapat menyanyikan slogan-slogan patriotik karena hal itu (slogan) tidak dinilai sebagai doa-doa agama. Keputusan itu diberikan setelah seorang aktivis Yahudi sayap kanan ditahan selama beberapa jam pada tahun 2015 karena meneriakkan slogan “Orang-orang Israel akan berjaya” dalam bahasa Ibrani.

Pada bulan Maret 2018, Pengadilan Magistrates Israel di Yerusalem juga memutuskan bahwa pemukim Yahudi dapat melakukan ibadahnya di gerbang Masjid Al-Aqsa, menambahkan bahwa itu akan menjadi “bukti terbaik dari kontrol Israel atas daerah tersebut.” Ini melanggar status quo yang telah disepakati badan pengelolaan situs Wakaf Islam (Agama Wakaf) dan pemerintah Israel.

Middle East Monitor

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY