Inilah Metode Pembunuhan Keji Terhadap Para Tahanan di Rumah Sakit Rezim Assad

3832

Abu Saeed, salah seorang yang terusir dari daerah selatan Damaskus ke Daraa, menceritakan kisah penangkapannya yang berakhir di rumah sakit militer rezim Assad dan menyebabkan kelumpuhan permanen pada kakinya.

Pada sebuah wawancara pribadi dengan Baladi News, Abu Saeed mengatakan bahwa Ia ditembak oleh seorang penembak jitu  pada awal tahun 2012, sehingga Ia dirawat di sebuah rumah sakit swasta ketika pasukan milisi rezim Assad menangkapnya, namun karena kondisi kesehatannya, Ia dipindahkan ke sebuah rumah sakit militer yang disebut rumah sakit 601 di Damaskus.

“Di rumah sakit tersebut, detektif mencap saya telah melakukan aksi terorisme bahkan sebelum memastikan alasan cedera yang saya alami, atau apakah saya adalah seorang warga sipil atau seorang militan, sehingga saya dipindahkan ke sebuah sel di rumah sakit di mana saya menderita dan menyaksikan kekejaman yang dilakukan rezim kepada para tahanan”, ungkapnya.

“Saya tinggal dalam sel tersebut selama lebih dari satu tahun dan melihat bagaimana para tahanan diperlakukan. Petugas memborgol semua tahanan tanpa memerdulikan kondisi kesehatan mereka.”

“Rumah sakit tersebut berafiliasi dengan pasukan militer rezim, sehingga kebanyakan menampung para penjahat rezim dan pejuang oposisi, namun para tahanan yang terluka biasanya dibawa ke dalam sel yang ada di rumah sakit tanpa menerima berbagai pengobatan. Kebanyakan dari mereka mati karena penyiksaan dan kelalaian medis. Dalam sel itu, para dokter dan perawat tidak pernah memperhatikan kami”, jelasnya.

Mengenai tahanan yang dibawa dari pos-pos cabang pertahanan, Abu Saeed mengatakan bahwa luka mereka dibiarkan membusuk sehingga mereka mengalami infeksi berat dan gangren, yaitu kondisi serius di mana banyak sel dan jaringan tubuh mengalami nekrosis atau mati setelah seseorang menderita infeksi kronis. Mereka dibawa ke sana untuk dimusnahkan, itulah fungsi utama rumah sakit terhadap para tahanan.

“Metode pembunuhan di rumah sakit bermacam-macam mulai dari pemusnahan secara langsung dengan membunuh tahanan melalui pengacuhan medis yang disengaja, pemukulan brutal menggunakan senjata, memasukkan kapas basah pada hidung dan mulut sehingga para tahanan tidak dapat bernafas, hingga menyuntikkan cairan oksigen ke dalam darah”, ujarnya.

Ia menambahkan, “Sebanyak 1700 tahanan yang berasal hanya dari satu pos cabang pertahanan rezim tewas sepanjang periode saya berada di sana. Setelah membunuh seorang tahanan, mereka menulis nomor di dahinya kemudian mengambil foto tahanan tersebut dan memindahkan jasadnya ke tempat yang tidak diketahui”.

“Selama 7 bulan yang saya habiskan di dalam sel itu, saya tidak pernah mendapat satupun perlakuan medis, sehingga infeksi pada luka saya mencapai saraf dan sebagian daerah pada punggung saya. Saya cukup beruntung untuk bisa mendapatkan pengobatan setelah dibebaskan, sementara ratusan tahanan lainnya meninggal dunia”

Abu Saeed mengakhiri wawancaranya dengan mengatakan bahwa para tahanan di dalam sel bervariasi, mulai dari pasukan rezim yang membelot, dokter, insinyur, mahasiswa, dan instruktur yang disiksa karena mereka diduga sebagai provokator dalam pemberontakan terhadap rezim Assad.

Orient News

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY