Ikhwanul Muslimin menjadi kekuatan politik terbesar dan terorganisir terbaik di Yordania

533

Pada tahun 2015, pemerintah Yordania mengumumkan bahwa Ikhwanul Muslimin ilegal

AMMAN, Jordan

Kinerja solid sebuah koalisi yang dipimpin Ikhwanul Muslimin (IM) di pemilihan lokal Yordania dapat menandai era baru bagi kelompok yang masuk dalam daftar organisasi terlarang di sejumlah negara Arab, para ahli mengatakan.

Dalam pemilihan lokal dan provinsi yang diadakan pada hari Rabu, Aliansi Reformasi Nasional, yang dipimpin oleh Front Aksi Islam, sayap politik Ikhwanul Muslimin, memenangkan 25 dari 48 kursi dewan provinsi yang diperebutkan.

Aliansi tersebut juga memenangkan lima dari 12 kursi di Kota Amman, dan memenangkan mayoritas di dewan lokal di tiga kota terbesar di Yordania, termasuk kota industri Zarqa.

Koalisi IM juga merebut 41 kursi dewan daerah dari 88 kandidat yang diterjunkan.

Sekitar 31,7 persen pemilih yang memenuhi syarat memilih, yang berada di bawah “undang-undang desentralisasi” baru, menurut pemerintah bertujuan untuk membantu menyerahkan beberapa kekuasaan ke kota-kota besar dan daerah pedesaan yang terpencil.

“Kemenangan Islam mencerminkan kekuatan dan kesatuan organisasi IM,” Hasan Haniyeh, seorang ahli dalam urusan kelompok Islam, mengatakan kepada Anadolu Agency.

“Semua orang tahu bahwa IM adalah kekuatan politik terbesar dan terorganisir terbaik di Yordania,” katanya.

Pada tahun 2015, pemerintah Yordania mengumumkan bahwa Ikhwanul Muslimin ilegal tapi masih memberikan ijin kepada kelompok sempalan IM.

Langkah tersebut dilakukan saat kelompok utama Ikhwanul Muslimin berada di bawah tindakan keras rezim Mesir menyusul penggulingan Muhamad Mursi, presiden pertama Mesir yang terpilih secara bebas dan pengakapan para pemimpin IM, dalam kudeta militer 2013.

Tahun lalu, sebuah koalisi pimpinan IM memenangkan 15 kursi dalam pemilihan parlemen Yordania setelah kelompok tersebut memboikot pemungutan suara pada tahun 2013 untuk melakukan demonstrasi menentang undang-undang pemilihan.

‘Pesan Pembalasan’

Para ahli percaya bahwa pemungutan suara telah mencerminkan “pesan pembalasan” antara kelompok Islam dan pihak berwenang.

“Kedua belah pihak telah mengirim pesan, namun tanpa melakukan perubahan strategis dalam hubungan mereka,” kata Badr al-Madi, seorang profesor ilmu politik.

Dia mengatakan bahwa pemerintah menginginkan kaum Islamis untuk “mencerminkan pandangan penyeimbang negara” mengenai isu-isu yang berbeda.

Koalisi yang terkait dengan IM menggambarkan pemungutan suara tersebut sebagai “hari nasional yang luar biasa dimana orang-orang Yordania menarik panggung terhormat untuk demokrasi”.

“Ada perkembangan internal, regional dan internasional yang mengharuskan Jordan bekerja untuk menyatukan front dalam negeri demi menjaga stabilitas negara,” kata al-Madi.

Haniyeh, bagaimanapun, mengesampingkan bahwa partisipasi kaum Islamis dalam pemungutan suara merupakan upaya pemerintah untuk mengintegrasikan IM dalam proses politik di kerajaan tersebut.

“Ini hanya upaya untuk memberikan legitimasi pada pemilihan dengan mengizinkan [kelompok Islam] untuk berpartisipasi,” katanya.

Anadolu Agency

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY