Hizbullat menarik milisinya dari Suriah

2048
Members of Lebanon's Shiite movement Hezbollah hold their flags on March 1, 2016, in the southern town of Kfour, in the Nabatiyeh district, during the funeral of a Hezbollah fighter, Mohammed Hassan Nehme, who was killed while fighting alongside Syrian government forces in Syria. Mohammed Hassan Nehme was killed in the Syrian town of Khanasser, near Aleppo. The Syrian army retook the strategic town from the Islamic State group on February 26, 2016, paving the way for the reopening of its sole supply route to main northern city Aleppo. / AFP / MAHMOUD ZAYYAT

Al-Janoubia mengatakan ratusan milisi Hizbullat telah kembali ke Lebanon

BEIRUT – Hizbullat telah mulai menarik milisi mereka dari Suriah menyusul pengumuman mengejutkan Rusia yang akan mengakhiri keterlibatan militernya di negara yang dilanda perang, menurut media online anti-Hizbullat.

“Ratusan anggota Hizbullat yang telah bertempur di Suriah sejak kemarin sore telah mulai kembali ke rumah mereka di [Beirut] Dahiyeh,” Janoubia menyatakan pada Senin malam.

Janoubiya menambahkan bahwa milisi partai Syiah tersebut dipulangkan tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Janoubia mengatakan informasi mereka telah dikonfirmasi oleh “sumber yang dekat dengan partai,” dimana seminggu yang lalu telah dilaporkan bahwa Hizbullat sedang mengerahkan pasukannya untuk melanjutkan serangan di kota Zabadani, yang termasuk wilayah gencatan senjata sejak akhir September 2015.

“Namun, tampaknya kejutan dari Presiden Rusia Vladimir Putin … adalah faktor utama yang membalik rencana perang Hizbullat dari rencana serangan menjadi menarik mundur,” Janoubia menambahkan.

Sebuah media yang berafiliasi dengan Hizbullat membantah laporan bahwa mereka menarik pasukannya dari Suriah, mengatakan bahwa kelompok bersenjata telah “menyebarkan rumor yang tidak memiliki relevansi dengan realitas.”

“Semua rumor ini datang hanya dalam rangka perang psikologis yang sia-sia, dan kami meminta media untuk tidak terperangkap dengan menyebarkan kebohongan dan rumor tersebut,” kata Media Pusat Militer-Suriah yang memposting berita pada Selasa sore di akun Twitter dan Facebook.

Laporan singkat Janoubia ini diterbitkan tak lama setelah Putin menjatuhkan “bom politik” di TV Rusia dengan pengumuman bahwa ia memerintahkan penarikan atas “bagian utama” dari kekuatan militer Rusia di Suriah.

Keesokan harinya, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa gelombang pertama pesawat tempur Rusia telah meninggalkan pangkalan udara Hmeimim di Latakia, basis utama operasi Moskow di Suriah sejak intervensi militer di mulai pada tanggal 30 September 2015.

Hizbullat belum membuat pernyataan resmi sebagai reaksi terhadap penarikan mengejutkan Rusia, sementara rezim Suriah menegaskan langkah itu telah dikoordinasikan antara Assad dan Putin.

Hizbullat telah terlibat pertempuran di Suriah untuk mendukung pasukan rezim Bashar Assad, yang bertanggung jawab atas pembunuhan lebih dari 300.000 orang dan menyebabkan sekitar 3 juta warga Suriah mengungsi sejak awal perang yang telah berlangsung selama lima tahun terakhir. Hizbullat juga telah mendukung pasukan rezim dalam pengepungan Madaya, memnyebabkan ribuan warga sipil tidak memiliki akses makanan, yang telah memicu kecaman internasional, dan disebut telah melakukan kejahatan perang. Meskipun Hizbullat belum melaporkan jumlah milisi mereka di Suriah, laporan mengklaim bahwa mereka telah kehilangan lebih dari 1.000 milisi di negara itu.

NOW.mmedia

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY