Hamas menyatakan telah menangkap pembunuh Mazen Faqha

522

Tersangka pembunuh Mazen Faqha bertindak atas perintah ‘Israel’ dan mengaku melakukan kejahatan tersebut, kata pemimpin Hamas Ismail Haniya.

Hamas mengatakan telah menahan pembunuh komandan senior Hamas Mazen Faqha, yang ditembak mati pada bulan Maret, dan mengatakan bahwa tersangka telah melakukan pembunuhan atas perintah Israel.

Faqha, 38, ditembak mati di kepala dan dada di pintu masuk rumahnya di kota Gaza pada 24 Maret.

“Semua bukti yang kami miliki … mengindikasikan pelaku melakukan kejahatan ini berdasarkan perintah dari pendudukan Israel,” Ismali Haniya, pemimpin sayap politik Hamas, mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis, tanpa mengidentifikasi tersangka.

“Dia telah mengaku melakukan kejahatan tersebut,” tambahnya, berbicara di luar rumah Faqha dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri oleh janda komandan tersebut.

Haniya, yang terpilih sebagai kepala politik baru Hamas pekan lalu, mengatakan rincian lebih lanjut akan dirilis dalam beberapa hari mendatang, dan dia memperkirakan tersangka akan dieksekusi.

Hamas telah menguasai Jalur Gaza sejak 2007.

Faqha adalah seorang pejabat senior Hamas di Tepi Barat yang diduduki Israel saat dia dipenjara oleh Israel pada tahun 2003 karena merencanakan serangan terhadap orang-orang Israel.

Dia dijatuhi hukuman sembilan kali masa tahanan seumur hidup namun dilepaskan ke Jalur Gaza sebagai satu dari lebih 1.000 tahanan Palestina yang diizinkan Israel untuk ditukar dengan tentara Gilad Shalit.

Hamas sebelumnya mengatakan bahwa Faqha ditembak dengan senjata dengan peredam dan menuduh Israel dan “kolaboratornya” untuk kematiannya.

Israel belum berkomentar mengenai pembunuhan tersebut.

“Selama 47 hari, aparat keamanan bekerja keras untuk mengungkap benang-benang kejahatan pembunuhan Mazen Faqha, sampai si pembunuh dan orang-orang yang membantunya teridentifikasi,” kata Iyad al-Bozum, juru bicara kementerian dalam negeri Gaza, di sebuah posting Facebook pada hari Kamis

Seorang sumber Hamas mengatakan dengan syarat anonim bahwa tersangka telah “berpartisipasi pada pagi hari dalam rekonstruksi kejahatan tersebut”, setelah sejumlah pasukan keamanan terlihat di depan rumah Faqha pada hari sebelumnya, menurut kantor berita AFP.

Jalur Gaza telah berada di bawah blokade Israel selama satu dekade, sementara perbatasan Mesir dengan daerah kantong tersebut sebagian besar ditutup dalam beberapa tahun terakhir.

Al Jazeera

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY