Fatah dan Hamas Mencapai Kesepakatan Bahwa Gaza Akan Dibawah Kendali Pemerintah Persatuan

399

“Kelompok Palestina yang selama ini bersaing ,Hamas dan Fatah, telah mencapai kesepakatan awal yang dapat membuka jalan bagi Presiden Palestina ,Mahmoud Abbas, untuk kembali memimpin Jalur Gaza, setelah satu dekade lamanya Hamas menguasai wilayah tersebut”, kata pejabat yang dekat dengan perundingan Hamas-Fatah yang tengah berlangsung beberapa hari ini di Mesir.

Kesepakatan tersebut mencakup serah terima kendali administratif wilayah Gaza kepada pemerintah persatuan mulai tanggal 1 Desember nanti.

Pemimpin Hamas ,Ismail Haniyeh, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kesepakatan tersebut dicapai di bawah “bantuan Mesir yang murah hati,” namun Haniyeh tidak memberikan rincian apapun.

Seorang pejabat senior Palestina mengatakan bahwa Abbas, pemimpin Fatah, mungkin akan mengunjungi Gaza dalam beberapa minggu mendatang, tergantung pada keberhasilan pelaksanaan kesepakatan tersebut. Pejabat tersebut berbicara tanpa menyebut nama sambil menunggu pengumuman resmi di Kairo.

Abbas yang didukung Barat belum pernah menginjakkan kaki di Gaza sejak tahun 2007, ketika Hamas, saingan utama ideologinya, memegang kendali atas wilayah tersebut dalam pertempuran jalanan dengan para loyalisnya.

Pengambilalihan ini terjadi setahun setelah Hamas mengalahkan Fatah dalam pemilihan parlemen Palestina, yang menyebabkan Abbas hanya memegang kendali atas kantong otonom di Tepi Barat yang diduduki Israel.

Hamas, sementara itu, menjadi semakin terisolasi, karena Israel dan Mesir memberlakukan blokade ketat pada perbatasan Gaza di jalur pantai.

Selama beberapa dekade terakhir, masing-masing pihak memperdalam kontrol atas wilayahnya, sehingga semakin sulit untuk membina kerjasama antara kedua belah pihak dan upaya berulang yang dilakukan untuk mencapai rekonsiliasi sering berakhir dengan kegagalan.

Kesepakatan awal yang diumumkan pada hari Kamis (12/10) terjadi setelah dua hari perundingan antara Hamas dan Fatah di ibukota Mesir, Kairo.

Mesir telah berusaha untuk meningkatkan pengawasan di Semenanjung Sinai yang berbatasan dengan Gaza, di mana kelompok militan telah berjuang dalam pemberontakan yang telah berlangsung lama.

Sebuah sumber Mesir yang dekat dengan perundingan tersebut mengatakan bahwa kepala intelijen ,Khaled Fawzi, telah mengikuti pembicaraan tersebut dengan seksama.

Berdasarkan kesepakatan yang muncul, Hamas akan menyerahkan tanggung jawab untuk memegang kendali atas Gaza ke Perdana Menteri Rami Hamdallah yang berbasis di Tepi Barat.

Pejabat yang dekat dengan perundingan tersebut mengatakan bahwa kedua pihak sepakat untuk membentuk komite yang akan menyusun rincian, yang mana di masa lalu ini merupakan sebuah mekanisme yang dengan cepat menyebabkan jalan buntu.

Satu komite akan bekerja dalam waktu empat bulan untuk menentukan siapa di antara ribuan pegawai sipil Hamas yang bisa bergabung dengan pemerintahan baru tersebut. Komite lainnya akan menggabungkan 3.000 orang loyalis Otoritas Palestina (Fatah) ke dalam pasukan polisi Gaza yang dikelola Hamas.

Negosiator juga sepakat bahwa kontrol Gaza dari sisi perbatasan yang melintasi Mesir akan diserahkan ke pemerintahan Rami Hamdallah, kata seorang pejabat senior Hamas yang berbicara tanpa menyebut nama, karena menunggu pengumuman resmi tersebut.

Dia mengatakan kedua belah pihak sepakat bahwa pemantau dari Eropa dapat ditempatkan di sisi persimpangan perbatasan.

Pembukaan permanen penyeberangan Rafah akan berarti berakhirnya blokade ketat pada perbatasan Gaza yang selama ini telah melumpuhkan perdagangan di wilayah itu dan melarang 2 juta orang di Gaza untuk meninggalkan wilayah tersebut. Sebelumnya, pihak Mesir hanya membuka penyeberangan Rafah secara sporadis sejak 2007.

Pejabat Hamas mengatakan bahwa Hamas,Fatah dan faksi-faksi Palestina yang lebih kecil akan mengadakan pertemuan pada awal bulan depan (November) untuk membahas isu-isu lain yang berkaitan dengan rekonsiliasi Palestina, termasuk mengadakan pemilihan parlemen dan presiden yang telah lama tertunda. Hamas dan Fatah akan kembali ke Kairo pada awal Desember untuk menilai pelaksanaan kesepakatan tersebut.

Dalam konteks saat ini, kedua belah pihak mungkin lebih bersedia untuk mencapai kesepakatan daripada di masa lalu.

Berjuang dan memerintah Gaza dalam kondisi blokade ketat pada semua perbatasannya membuat Hamas merasa semakin sulit untuk memberikan layanan dasar kepada orang-orang Gaza, seperti kebutuhan listrik dll.

Sedangkan Abbas yang kini berusia 82 tahun, mungkin sedang memikirkan warisan dan kekuasaannya. Perpecahan politik telah menjadi noda utama pada pemerintahannya, terutama pada saat upaya untuk menegosiasikan persyaratan negara Palestina dengan Israel tampaknya tidak memberikan hasil.

Abbas memimpin kamp politik yang berusaha membangun sebuah negara di Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem timur, yang dikuasai Israel dalam perang 1967.

Hamas menyarankan dalam sebuah manifesto politik baru pada awal tahun ini bahwa mereka mungkin akan mempertimbangkan sebuah negara sesuai dengan batas garis pra-1967 sebagai pilihan sementara, namun Hamas juga mendukung sebuah negara Islam di Palestina yang bersejarah, termasuk wilayah yang sekarang dijajah Israel. Hamas menolak untuk menghentikan perlawanan terhadap Israel atau mengakui kedaulatan Israel.

Nasib Sayap Bersenjata Hamas

Titik tolak utama yang tidak dibahas dalam pembicaraan di Kairo adalah mengenai sayap militer Hamas dan gudang persenjataannya.

Sayap militer Hamas yang beranggotakan 25.000 orang, yaitu Brigade Ezzedine al-Qassam, telah bertempur sebanyak tiga kali dalam perang melawan teroris Israel sejak tahun 2008.

Abbas mengatakan bahwa dia hanya akan kembali ke Gaza jika Hamas menyerahkan kekuasaan, sedangkan Hamas mengatakan bahwa sayap militer tersebut bukanlah untuk didiskusikan. Pejabat Hamas telah meyakinkan para juru runding Fatah bahwa sayap militer akan mempertahankan profil rendah sebagai bagian dari kesepakatan apapun.

Tidak jelas apakah hal ini akan memuaskan Abbas, atau memungkinkan perselisihan akan muncul kembali nanti.

Daily Sabah

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY