Erdogan menyerukan untuk berbagi tanggungjawab yang adil atas krisis pengungsi

3027

Berbicara pada sesi pembukaan KTT Kemanusiaan Dunia, Presiden Erdogan menekankan bahwa sistem saat ini untuk bantuan kemanusiaan tidak berfungsi dengan baik dan negara-negara lain harus berbagi tanggungjawab yang adil dalam hal krisis pengungsi.

Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan dalam KTT Kemanusiaan Dunia di Istanbul yang diadakan pada hari Senin bahwa Turki mengharapkan pembagian yang lebih adil atas beban kemanusiaan dari krisis pengungsi yang sedang berlangsung dan mengecam sistem yang sekarang tidak bisa berfungsi cukup baik untuk menangani masalah ini.

Menjelaskan bahwa Turki belum menerima dukungan yang diperlukan dan kontribusi dari masyarakat internasional untuk krisis pengungsi, ia berkata: “Sistem saat ini tidak berfungsi [dan] beban hanya dipikul oleh negara-negara tertentu. Setiap pihak harus memikul tanggung jawab mulai sekarang.”

“Kebutuhan meningkat setiap hari tetapi sumber pendukung tidak meningkat pada kecepatan yang sama. Ada kecenderungan dalam masyarakat internasional untuk menghindari tanggung jawab,” katanya.

“Turki tahu ini berat,” tambahnya, mengatakan Turki telah menghabiskan $ 10 miliar untuk pengungsi Suriah dibandingkan dengan $ 450 juta yang diberikan oleh masyarakat internasional.

“Saya berharap KTT Kemanusiaan Dunia akan menjadi titik balik dalam semua bidang,” katanya.

Dia juga mengatakan bahwa lebih banyak negara perlu didorong untuk berbagi beban. Turki adalah rumah bagi lebih dari 3 juta pengungsi dan menjadi negara dengan populasi pengungsi terbesar di dunia.

Erdogan juga mengatakan bahwa Dewan Keamanan PBB (DK PBB) perlu reformasi mendesak untuk memenuhi fungsi dan menyerukan pembatasan dalam penggunaan veto oleh lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

“Turki telah melakukan yang terbaik untuk berkontribusi pada lima tanggung jawab inti yang disebutkan Sekretaris Jenderal [Ban Ki-moon],” katanya.

Tanggung jawab ini termasuk mencegah dan mengakhiri konflik, menghormati aturan perang, menangani pemindahan paksa, mencapai kesetaraan gender, menanggapi perubahan iklim, mengakhiri kebutuhan untuk bantuan dan investasi dalam kemanusiaan.

Erdogan juga mendesak adanya perubahan di DK PBB, lima anggota tetap yaitu AS, Inggris, Prancis, Rusia dan China. Masing-masing anggota tersebut memiliki hak veto, yang memungkinkan mereka untuk memblokir rancangan resolusi bahkan jika telah memiliki dukungan internasional yang luas.

Dalam sebuah kolom harian Inggris The Guardian pada hari yang sama, Erdogan mengatakan sistem yang ada sangat bergantung pada PBB dan kemurahan hati setiap negara, dan bahwa konsensus global diperlukan untuk membantu jutaan orang yang terdampak oleh perang dan bencana alam.

Dengan menghabiskan sebagian besar dari produk domestik bruto (PDB) untuk bantuan kemanusiaan dibanding anggaran yang lain, Turki adalah negara paling dermawan di dunia, Erdogan mengatakan, dicontohkan dengan Somalia, di mana investasi dan bantuan Turki telah membantu menciptakan stabilitas politik dan memerangi terorisme .

“Peran Turki terhadap krisis kemanusiaan di Suriah adalah kisah sukses yang lain,” tegasnya.

“Pada saat masyarakat internasional gagal melindungi rakyat Suriah – 600.000 di antaranya telah kehilangan nyawa mereka dalam perang, dengan 13 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka – Turki, bersama dengan negara tetangga Suriah lainnya, ditinggalkan berjuang dan berurusan dengan konsekuensi konflik.”

“Saat perang Suriah memasuki tahun keenam, kami menghimbau dunia untuk menciptakan mekanisme yang adil untuk berbagi beban.”

Erdogan menambahkan bahwa masyarakat internasional seharusnya tidak mempertahankan argumen bahwa dengan melengserkan Bashar Assad dari kekuasaan akan menyebabkan eskalasi lebih lanjut dari konflik di negara itu.

Daily Sabah

 

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY