Erdogan mengatakan bahwa rencana AS dan Rusia di Suriah hanya akan menguntungkan Assad

5213

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan hari Rabu bahwa ia khawatir rencana gencatan senjata AS-Rusia hanya akan memberikan keuntungan kepada Bashar al-Assad dan menuduh Barat, Rusia dan Iran hanya berusaha untuk mendahulukan kepentingan mereka sendiri.

Amerika Serikat dan Rusia telah mengumumkan rencana untuk penghentian permusuhan di Suriah yang mulai berlaku hari Sabtu, 27 Februari. Tapi pihak oposisi yang didukung oleh Arab Saudi dan Turki telah menyatakan keraguan tentang rencana tersebut, yang tidak mencantumkan gencatan senjata oleh tentara rezim Suriah dan Rusia terhadap kelompok ISIS dan Al-Nusra.

“Barat, Amerika Serikat, Rusia, Iran, Uni Eropa dan PBB sangat disayangkan tidak berhasil berdiri tegak dalam penghormatan kepada kemanusiaan,” kata Erdogan dalam pidato di Ankara yang disiarkan langsung di televisi.

“Sebaliknya, semua negara-negara ini, karena perhitungan mereka sendiri, telah mengizinkan, langsung atau tidak langsung, pembunuhan hampir setengah juta orang yang tidak bersalah oleh rezim dan pendukungnya,” katanya.

Turki sebagai Anggota NATO, semakin frustrasi dengan tanggapan internasional terhadap perang lima tahun di Suriah, marah oleh intervensi Rusia yang telah berujung keseimbangan kekuasaan dalam mendukung Assad dan dengan dukungan AS kepada milisi Kurdi yang merupakan musuh dan pemberontak bagi Ankara.

Hubungan dengan Moskow jatuh di titik nadir setelah Turki menembak jatuh sebuah jet Rusia dekat perbatasan Suriah November lalu, sementara hubungan dengan Washington juga semakin megalami ketegangan.

Kelompok oposisi Suriah khawatir Rusia akan menggunakan pengecualian dari serangan terhadap militan seperti ISIS sebagai dalih untuk membom mereka. Erdogan mengatakan gencatan senjata juga harus mengecualikan serangan terhadap milisi YPG Kurdi, yang disebut Ankara sebagai kelompok teroris.

“Jika identifikasi atas kelompok oposisi dan kelompok teroris di wilayah tersebut dilakukan oleh Rusia, rezim dan struktur seperti YPG Assad, maka itu merupakan situasi yang suram,” kata Erdogan.

Dia menambahkan: “Jika Daesh (ISIS) dan Al-Nusra tidak termasuk bagian dari gencatan senjata, maka PYD-YPG harus sama dikecualikan dari gencatan senjata karena mereka juga termasuk kelompok teroris.”

Komite Tinggi Negosiasi Suriah (HNC), perwakilan kelompok bersenjata dan lawan politik Assad, mengatakan pada hari Senin bahwa mereka menerima “upaya internasional untuk penghentian permusuhan,” tetapi hanya dengan syarat tuntutan sebelumnya termasuk mengakhiri blokade dan pemboman warga sipil terpenuhi.

Pemimpin HCN mengatakan pada hari Rabu, belum berkomitmen untuk rencana AS-Rusia.

Konflik Kurdi

Sikap Turki pada perang Suriah menjadi semakin jelas dengan pertempuran yang dilancarkan di tenggara Turki terhadap militan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang telah melakukan pemberontakan selama tiga dekade untuk mendapat otonomi Kurdi.

Ankara memandang milisi YPG dan sayap politik PYD, yang telah mendapat dukungan AS dalam memerangi ISIS di Suriah, sebagai kekuatan pemberontak dengan ikatan logistik dan operasional dengan PKK.

Seperti Ankara dan Uni Eropa, Amerika Serikat juga memasukkan PKK dalam daftar kelompok teroris. Tapi AS masih menjadikan YPG sebagai sekutu mereka dan telah mengindikasikan bahwa akan terus bekerja sama dengan YPG.

“Apa yang mereka katakan? PYD dan YPG, mereka melawan ISIS dan itu sebabnya AS mendukung mereka? Itu adalah kebohongan besar, “kata Erdogan. Dia telah berulang kali menyerukan Washington untuk memutuskan siapa sekutunya – Turki atau milisi Kurdi.

Erdogan dan Perdana Menteri Ahmet Davutoglu telah menyampaikan bahwa YPG, bekerja dengan militan Kurdi di Turki, bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri yang menewaskan 29 orang, sebagian besar dari mereka tentara, di ibukota Ankara pekan lalu.

Sebuah laporan DNA menyatakan pelaku utama berasal dari Turki, bukan anggota Kurdi YPG Suriah seperti pernyataan awal pemerintah Turki, tetapi dua sumber keamanan mengatakan kepada Reuters pada Rabu bahwa pelaku memasuki Turki dari Suriah pada Juli 2014 menggunakan ID palsu.

Angkatan bersenjata Turki melancarkan tembakan pada posisi YPG di Suriah utara sehari setelah pemboman Ankara dan melancarkan serangan udara di kamp-kamp PKK di Irak utara, karena pemerintah berjanji bahwa mereka yang menebar teror akan membayar harganya. Washington mendesak Ankara untuk menghentikan penembakan terhadap YPG.

Bentrokan juga masih berlanjut di Turki, di mana kekerasan di tenggara adalah yang terburuk sejak tahun 1990-an. Helikopter militer Turki menewaskan sembilan gerilyawan PKK di dekat perbatasan Suriah, Rabu, kata sumber-sumber keamanan.

Al Arbiya

 

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY