Erdogan : Masjid Al-Aqsa milik semua umat Islam, tidak hanya orang Palestina

889

Presiden Recep Tayyip Erdoğan mengatakan pada hari Ahad bahwa dunia Muslim tidak akan tinggal diam di tengah pelanggaran yang sedang berlangsung di kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Berbicara kepada wartawan pada sebuah konferensi pers di Istanbul Atatürk Airport sebelum menuju ke Arab Saudi, Erdoğan mendesak pasukan keamanan Israel untuk menghindari penggunaan kekerasan dan bertindak sesuai dengan hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar.

“Al-Aqsa bukan hanya milik orang-orang Palestina, namun juga dihormati dan dianggap sebagai tempat suci oleh 1,7 miliar Muslim di seluruh dunia,” kata Presiden Recep Tayyip Erdogan.

“Saat pertemuan puncak Organisasi Kerjasama Islam (OKI), saya mengecam Israel sekali lagi untuk bertindak sesuai dengan peraturan hukum dan nilai-nilai dasar manusia. Saya ingin menggarisbawahi sekali lagi bahwa [Israel] harus menghindari langkah-langkah yang akan semakin meningkatkan ketegangan, “tambahnya.

Erdogan menekankan bahwa “Turki akan terus berusaha untuk membangun perdamaian di wilayah tersebut dan mendukung perjuangan saudara Palestina untuk kebebasan dan keadilan.”

“Kami menganggap sangat tidak tepat bagi saudara-saudara kami untuk mengalami masalah dan tekanan dalam bentuk apapun dan kami sangat sedih dengan insiden terbaru,” katanya.

“Dunia Islam tidak dapat terus saja tidak responsif terhadap pembatasan (akses) Al-Aqsa dan penghinaan terhadap kehormatan umat Islam. Dengan demikian, Turki telah menunjukkan reaksinya dengan sangat jelas,” tambahnya.

Presiden Erdogan mengadakan pembicaraan telepon minggu lalu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Israel Reuven Rivlin mengenai pelanggaran hak-hak rakyat Palestina oleh otoritas Israel. Erdoğan juga berbicara dengan mitranya dari Prancis Emmanuel Macron mengenai masalah ini pada hari Sabtu.

Protes meletus di Yerusalem hari Ahad lalu, setelah pimpinan masjid menyetakan menentang detektor logam yang dipasang setelah serangan senjata pada 14 Juli yang menyebabkan tiga warga Palestina dan dua petugas polisi Israel tewas.

Langkah-langkah tersebut menyebabkan gelombang kemarahan di kalangan orang-orang Palestina, yang meminta segera dilakukan pemindahan detektor. Namun, Israel menolak untuk mundur, mengklaim bahwa detektor tersebut sesuai dengan tindakan pengamanan di tempat-tempat suci lainnya di seluruh dunia.

Israel menduduki Yerusalem Timur selama Perang Timur Tengah 1967. Kemudian mencaplok kota tersebut pada tahun 1980, mengklaim bahwa seluruh Yerusalem sebagai ibukota “abadi” negara Yahudi – sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Daily Sabah

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY