Diamnya para pemimpin Islam dan sebuah preseden yang akan diulang di Yerusalem

604

Pendudukan Israel akan mengulangi preseden penutupan Masjid Al-Aqsa dan larangan untuk beribadah di sana, seperti yang terjadi pada hari Jumat, dan akan mengubahnya menjadi respons rutin di masa depan setelah setiap operasi, tidak hanya di Al-Aqsha tapi juga wilayah di sekitarnya. Ini akan terjadi jika penutupan Masjid Al-Aqsa dan larangan sholat Jum’at tidak dihadapkan dengan reaksi seperti saat pertama kali terjadi pada tahun 1969, dan jika tidak ada reaksi kemarahan, baik dari PA maupun negara Arab lainnya, terutama Yordania, yang cukup puas hanya dengan fakta bahwa ia memiliki posisi khusus mengenai Masjid Al-Aqsa sesuai dengan perjanjian damai dengan Israel.

Pendudukan Israel tidak akan memiliki alasan untuk merubah pendekatan agresifnya atau menghentikan tindakannya pada hari Jumat lalu terhadap orang-orang Palestina yang melakukan sholat Jum’at di jalan-jalan dan di luar Masjid Al-Aqsa dan di luar tembok Kota Tua, kecuali hal tersebut segera mendapat reaksi kemarahan dan tekanan dari negara-negara Arab dan internasional.

Penting untuk dicatat di sini bahwa eskalasi pendudukan dan penutupan Masjid Al-Aqsha berlalu tanpa kemarahan Otoritas Palestina. Kantor berita Palestina tersebut juga menyoroti sebuah pernyataan yang dibuat oleh Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menolak operasi tersebut dan menuntut pembukaan Masjid Al-Aqsa. Seolah-olah hal tersebut sudah cukup untuk memenuhi kewajibannya sebagai presiden Otorita Palestina dan sebagai seseorang yang seharusnya membela setiap inci tanah Palestina, juga kesucian dan ibukotanya.

Terlebih lagi, posisi Yordania, atau kekurangannya, dan telah berbicara bahwa telah melakukan banyak pembicaraan antara pemerintah Yordania dan Israel untuk membuka kembali Masjid Al-Aqsa, dan bahkan menerima prinsip komunikasi sampai sekarang, kenyataannya hanya memberi pendudukan lampu hijau; Mengatakan apa yang dilakukannya itu mungkin dan perlu didiskusikan dan bukan sebuah garis merah.

Yerusalem akan selalu menjadi penghalang atau duri dalam penyelesaian damai antara PA dan Israel, dan antara Israel dan negara-negara dan rezim-rezim Arab lainnya, kecuali jika Israel melakukan penaruikan sepenuhnya dari pemukiman ini di bagian timur kota yang diduduki sejak 1967.

Bahkan jika pemerintah Arab menandatangani “kesepakatan abad ini” dan menerima sebuah penyelesaian dengan pendudukan, semakin jelas menunjukkan keadaan Palestina yang terdistorsi yang demiliterisasi dan kehilangan kedaulatan. Orang-orang Palestina dan orang-orang Arab lainnya tidak akan menerima kesepakatan ini atau penyelesaian yang menyimpang, dan bahkan jika Abbas dan rekan-rekannya mendesak hal ini, Abu Dis tidak akan menjadi alternatif bagi kota Yerusalem.

Middle East Monitor

 

 

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY