Di dalam rumah sakit terakhir di Aleppo Timur : ‘Tidak ada ruang untuk berjalan’

920

Satu-satunya rumah sakit di Timur Aleppo berjuang merawat pasien dengan peralatan yang rusak, kurangnya ruang dan jumlah persediaan medis yang menipis.

Aleppo, Suriah – “Rumah sakit terakhir” di Aleppo timur adalah tempat yang suram. Bangunan sangat ramai dan korban terluka berbaring di seluruh koridor nya. Ceceran darah di lantai, dan baunya – bersama dengan suara jeritan dan tangisan – mengisi udara. Banyak dari daerah di sekitarnya telah hancur.

“Ini sebuah rumah sakit kecil, tapi menerima banyak korban terluka setiap hari, karena ini satu-satunya rumah sakit yang tersisa di kota. Ini menyebabkan munculnya banyak tekanan,” kata Dr Hamza al-Khatib kepada Al Jazeera.

bb32128d0c3e428686164fb1edec2e4d_6

Al-Khatib adalah salah satu dari segelintir dokter yang tersisa di bagian timur yang dikuasai oposisi di Aleppo. Dia mengatakan bahwa rumah sakitnya, yang tidak disebutkan namanya kepada Al Jazeera untuk alasan keamanan, adalah “satu-satunya yang tersisa dan masih berdiri” setelah serangan pemboman besar-besaran oleh jet tempur rezim dan Rusia, yang dimulai pada tanggal 15 November, menghancurkan setidaknya lima rumah sakit lainnya.

“Bangunan rumah sakit telah ditargetkan;.. Tembakan dari pesawat menghantam dua bagian dan menghancurkan satu area. Tapi, alhamdulillah, tidak banyak yang terjadi pada pasien. Dua terbunuh dan beberapa orang lainnya luka-luka,” kata al-Khatib, mengacu pada pemboman baru-baru ini .

Dengan serangan rezim, rumah sakit sedang berjuang untuk memberikan perawatan kepada ratusan korban bom sehari-harinya.

Tantangan rumah sakit sangat banyak, staf medis berjuang dengan peralatan yang rusak, kurangnya ruang untuk pasien terluka dan jumlah persediaan medis yang menipis – belum lagi risiko bahwa rumah sakit juga akan dibom. “Pesawat mengebom daerah sekitar rumah sakit cukup banyak setiap hari, dan kita tidak tahu kapan rumah sakit itu sendiri akan terkena,” kata al-Khatib pada Al Jazeera.

Hudhaifa Dahman adalah asisten medis, dan ia juga melihat situasi memilukan di rumah sakit.

“Sebagian besar pasien berada di lantai. Tidak ada ruang untuk berjalan. Ini pertama kalinya aku melihat hal seperti ini,” kata Dahman, yang telah bekerja di rumah sakit sejak awal revolusi rakyat Suriah melawan rezim Bashar al-Assad pada 2011.

4199cde9b419441d8875ca4eb216f6b9_18

Secara total, ada sembilan rumah sakit di Aleppo timur, di samping pusat layanan medis yang lebih kecil di seluruh daerah. Dalam hal mencari perawatan di tempat lain di Suriah, rezim dan oposisi belum mencapai kesepakatan apakah mungkin bagi yang terluka untuk bisa keluar dari Aleppo Timur.

Krisis medis yang lebih luas mengancam Aleppo timur setelah beberapa rumah sakit ditutup. “Mereka berusaha untuk membangun kembali, tapi aku ragu mereka dapat membangun kembali dengan cepat. Mesin-mesin yang hancur tidak bisa diganti karena pengepungan,” Teresa Sancristoval, seorang koordinator program darurat untuk Doctors Without Borders (MSF) , mengatakan kepada Al Jazeera.

Dengan hanya satu rumah sakit yang berfungsi, pusat layanan medis Aleppo timur akan menjadi lebih penting di masa yang akan datang. Namun menurut Sancristoval, pusat layanan medis tidak memberikan tingkat perawatan seperti rumah sakit.

“Orang-orang dirawat di rumah-rumah. Tapi seperti yang Anda bayangkan, itu tidak sama dengan rumah sakit. Ini adalah tingkat minimum perawatan,” kata Sancristoval. “Korban pemboman perlu perawatan di unit intensif (ICU) dan mesin yang tidak dapat disediakan di ruang kecil.”

Dan masalah ini bukanlah hal yang baru. Rumah sakit timur Aleppo telah menderita akibat serangan udara, kekurangan staf dan perlengkapan dalam satu tahun terakhir.

Pemboman Aleppo timur merupakan bagian dari serangan besar oleh rezim Suriah – dibantu oleh Rusia dan sekutu lainnya – untuk membangun kontrol atas keseluruhan Aleppo, kota terbesar Suriah sebelum perang mengerikan dimulai tahun 2011.

Pada hari Sabtu, rezim mengumumkan merebut kontrol atas distrik Hanano utara, dan oposisi mengakui lini depan mereka runtuh. Serangan intensif terjadi disaat kelompok bantuan memperingatkan Aleppo timur dalam beberapa hari kedepan akan kehabisan makanan. Persediaan bahan bakar menipis, dan musim dingin akan segera datang.

Untuk saat ini, staf rumah sakit bertekad untuk memberikan perawatan 24 jam kepada warga di Aleppo TImur. “Kami bekerja 24 jam,” kata Dahman. “Jika kami mendapatkan istirahat, itu hanya untuk tidur atau makan makanan kecil.”

Al Jazeera

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY