Bocah Lelaki Rohingya Berusia 7 Tahun Menggendong Saudara Perempuannya Untuk Mencapai Bangladesh

81

Yosar Hossein (7 tahun), seorang bocah lelaki Muslim Rohingya berjuang melebihi kapasitas usianya saat ia berjalan menyusuri jalanan berlumpur dan banjir untuk mencapai Bangladesh,melarikan diri dari kejahatan rezim Myanmar, dengan membawa serta adik bayinya di punggungnya. Ia berjalan tanpa menggunakan alas kaki dan masih mengenakan seragam sekolahnya, anak berusia 7 tahun itu termasuk satu di antara lebih dari setengah juta Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di negara Myanmar dimana hampir dua pertiga Muslim Rohingya yang terpaksa mengungsi itu masih berusia kanak-kanak.

“Dia sangat berat,” kata Yosar mengacu ke berat badan adiknya. Ia dan adiknya telah kehilangan ayahnya, rumahnya dan kampung halamannya dalam waktu dua minggu terakhir ini.

“Kurasa aku tidak sanggup menggendongnya sepanjang jalan.” lanjut Yosar.

Muslim Rohingya yang terpaksa melarikan diri dari negara mayoritas beragama Budha, Myanmar, telah dilihat secara nyata dalam beberapa dasawarsa ini. Hal ini telah menyebabkan wilayah perbatasan Bangladesh diliputi oleh kota-kota penuh tenda pengungsi yang secara umum bisa dikatakan tidak layak huni.

Peningkatan kekejaman di negara bagian Rakhine dimulai pada tanggal 25 Agustus lalu, ketika militer Myanmar melakukan serangkaian serangan brutal terhadap minoritas Muslim di negara tersebut. Militer Myanmar mengklaim bahwa serangan ini adalah respon mereka terhadap aksi dari anggota kelompok militan Rohingya.

Tentara Myanmar dan sekumpulan massa Budha mulai membunuh, menjarah dan membakar desa-desa tempat domisili Muslim Rohingya.

Ibu Yosar, Firoza Begum, mengatakan bahwa rumah mereka di kota Rathedaung diserang sesaat sebelum fajar. Mereka mendengar ledakan keras dan menyaksikan api melalap hampir semua harta yang mereka miliki.

Ayah Yosar ditembak mati saat keluarga mereka mencoba melarikan diri. Tapi ibu dan tiga adiknya berhasil melarikan diri.

Yosar berjalan kaki selama enam hari, bersama dua bibi dan beberapa orang sepupunya.Mereka terpaksa memakan apa pun yang bisa mereka temukan, hanya sangat sedikit beristirahat, hingga mereka tiba di tepi Sungai Naf (perbatasan Myanmar-Bangladesh). Mereka menumpang ke dalam perahu kayu yang penuh sesak dan menuju ke Bangladesh. Tetapi perjalanannya mereka tidak berakhir disana.

Keluarga tersebut melanjutkan perjalanan yang berat itu pada hari lainnya masih dengan berjalan kaki, di dalam becak dan menumpang di belakang truk. Yosar masih mengenakan pakaian sekolah hijau dan putih yang dia kenakan saat melarikan diri dari Myanmar.

Akhirnya, pada tanggal 2 Oktober, Yosar dan keluarganya berhasil sampai di rumah seorang kerabat mereka di Bangladesh. Dia berhasil menggendong adik perempuannya sepanjang jalan.

Khaleej Times

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY