Apakah Rusia benar-benar menyelesaikan misinya di Suriah?

1406

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di U.K, serangan udara Rusia di Suriah membunuh 4.408 orang, termasuk 1.733 warga sipil, antara September 2015 dan Maret 2016.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengejutkan sekutu dan rival nya dengan mengumumkan bahwa ia menarik keluar sebagian besar dari kekuatan tempur nya dari Suriah.

Rusia mengatakan mereka telah memenuhi misi mereka untuk mendukung rezim Assad dan mempersiapkan negosiasi Jenewa dengan memperkuat daya tawar mereka dan mencapai tujuan mereka dalam pertempuran melawan DAESH.

Semua ini masih harus dilihat

Apakah Rusia benar-benar menyelesaikan misi mereka di Suriah atau mereka dipaksa untuk mulai melepaskan diri karena fakta bahwa perekonomian mereka menghadapi kehancuran total karena beban besar dari operasi militer mereka di Timur Tengah? Ini masih harus dilihat.

Yang jelas adalah bahwa Rusia telah menyebabkan pertumpahan darah warga sipil Suriah yang tidak bersalah. Jet tempur mereka, yang seharusnya memburu DAESH, telah aktif tidak hanya membom pasukan oposisi moderat, tetapi juga warga sipil tak berdosa di sekolah-sekolah, taman bermain dan rumah sakit. Tetapi Rusia mengatakan mereka telah menewaskan 2.000 “pemberontak” yang melawan rezim Assad. Mereka mengklaim mereka menghancurkan 200 instalasi minyak yang dioperasikan oleh DAESH dan telah memotong rute pasokan dari Turki.

Tetapi faktanya serangan udara Rusia menewaskan 4.408 orang termasuk 1.733 warga sipil antara September 2015 dan Maret 2016 menurut SOHR. Serangan-serangan ini telah menghancuran pemukiman warga dan membunuh wanita dan anak-anak. Rute pasokan yang mereka mengklaim sebagai rute pasokan teroris sebenranya adalah rute kemanusiaan yang digunakan untuk memberikan bantuan untuk massa yang kelaparan dari Suriah utara.

Jadi, Presiden AS Barack Obama dapat membual bahwa upaya diplomasinya dengan duduk di pinggir lapangan dan membiarkan Rusia terjerat dengan talinya sendiri telah berhasil. Namun, Obama juga harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kelambanan Amerika telah menelan jumlah korban sipil yang besar dan telah memaksa jutaan orang mengungsi dari rumah mereka, membanjiri Turki. Dapatkah Obama tidur tenang dengan prestasinya?

Rusia membual bahwa mereka telah menyelesaikan misi mereka untuk memperkuat posisi Assad, tapi kita masih melihat Rusia ada di pangkalan angkatan laut dan udara mereka di pantai Mediterania dan melihat bagaimana pasukan Assad yang didukung oleh milisi Iran dan Hizbullat mencoba untuk menaklukkan Aleppo dan daerah lain di Suriah utara tanpa dukungan serangan udara Rusia.

Apakah Rusia telah menyerah dengan perilaku keras kepala nya di kancah internasional atau karena persediaan sumber daya yang terbatas untuk meluncurkan kampanye militer baru melawan Ukraina dan kemudian negara-negara Baltik? Ini adalah mimpi buruk tidak hanya untuk Ukraina, tetapi juga untuk Uni Eropa, yang sudah dihancurkan oleh prospek eksodus Suriah baru. Hal ini juga dapat menjadi pukulan bagi Obama, saat ia duduk di Gedung Putih dan bersemangat menunggu hari ketika ia akan menjadi Mr. Mantan Presiden setelah November.

Ataukah Putin sedang mempersiapkan untuk membebaskan Istanbul dari umat Islam dan mengubahnya menjadi sebuah kota Kristen sementara ia mengontrol selat Turki seperti yang dijanjikan kepada sekelompok pemberontak Ukraina baru-baru?

Rusia akan (yang tentu saja jika Putin tulus dan ini bukan salah satu tipuannya nya) meninggalkan pertumpahan darah yang tidak akan pernah dilupakan oleh rakyat Suriah. Untuk Turki, fakta bahwa Rusia meninggalkan Suriah memiliki sedikit makna, karena Rusia masih mempertahankan kehadiran militer mereka di Suriah dan terus mengancam wilayah udara Turki dan membantu teroris Suriah Kurdi.

Daily Sabah

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY