Amnesty International salah sasaran dengan memprioritaskan penderitaan komplotan kudeta

4209

Oleh : Busra Akin Dincer

Pada malam tanggal 15 Juli, 2016, Turki menghadapi upaya kudeta yang tidak biasa yang pernah terjadi dalam sejarah politik dunia. Bagaimana upaya kudeta dimainkan serta perlawanan rakyat telah menghasilkan adegan yang akan terus dibahas dan ditulis selama bertahun-tahun yang akan datang.

Dalam rangka untuk menjelaskan secara utuh, pelanggaran HAM perlu didefinisikan secara akurat dan komprehensif. Itu sebabnya, dengan refleks jurnalistik, kami mulai tidak sabar menunggu laporan yang akan dikeluarkan oleh organisasi hak asasi manusia pada masa setelah upaya kudeta. Malam itu, di Turki – negara dengan lokasi paling sentral di dunia dan yang memiliki tradisi demokrasi yang mapan – warga sipil ditembak oleh tentara pro-kudeta, dilindas hancur di bawah tank dan dihujani dengan peluru dari helikopter.

c82e822073294556aa0bb418b0bdee3e_8

Tidak diragukan lagi, mereka yang melakukan perbuatan keji tidak bisa menjadi anggota dari Angkatan Bersenjata Turki (TSK), yang setia pada prinsip-prinsip pendiri Republik Turki sebagai organisasi yang bertanggung jawab untuk memastikan persatuan dan solidaritas negara dan menjaga demokrasi. Upaya yang brutal tersebut – seperti yang sering disebutkan dalam laporan pemerintah – dilakukan oleh “pengkhianat yang bersembunyi dalam pakaian militer” dan kebiadaban ini mengakibatkan kerugian yang sangat menyakitkan.

Pada titik ini, organisasi hak asasi manusia biasanya dan seharusnya melakukan tugas menyajikan kepada dunia, secara akurat dan dapat diandalkan, laporan tentang penderitaan para korban dan perjuangan penduduk sipil, yang mempertaruhkan hidup mereka. Masyarakat Turki berkeyakinan organisasi hak asasi manusia pasti akan mengeluarkan laporan, yang menyatakan bahwa kudeta militer tersebut benar-benar tidak dapat diterima dan bahwa hak-hak yang paling mendasar dari 80 juta orang telah dilanggar oleh putschists (pendukung kudeta). Namun, tidak ada laporan seperti itu yang dikeluarkan oleh organisasi-organisasi HAM mengenai upaya kudeta yang berlangsung di Turki sejauh ini. Sebaliknya, yang kita temui adalah “ulasan HAM” untuk membela hak-hak para PENJAHAT bukannya menyuarakan penderitaan dari orang yang tidak bersalah.

Amnesty International yang berbasis di London, salah satu organisasi hak asasi manusia terkemuka di dunia, menerbitkan penilaian pertama dari upaya kudeta di situsnya pada 18 Juni. Ulasan, yang diterbitkan dengan judul, “Turki: Hak asasi manusia dalam bahaya setelah upaya kudeta dan tindakan keras berikutnya “, tampaknya telah dipersiapkan dengan tergesa-gesa dan sulit dipahami. Ketika seseorang membaca penilaian ini, jelas bahwa segala sesuatu, dari penangkapan pasca upaya kudeta berkisar pada diskusi tentang berlakunya kembali hukuman mati, yang sedang dibahas. Sementara hal yang paling penting, yang seharusnya disorot, telah dihilangkan, yaitu : Warga sipil yang kehilangan nyawa mereka selama upaya kudeta dan pelanggaran hak-hak yang mereka derita. Hal ini hanya disebutkan secara sepintas dalam satu kalimat, tapi bahkan di sana, kalimat terakhir disebutkan dengan cara berikut: “Mereka yang tewas termasuk 24 orang yang digambarkan oleh pihak berwenang sebagai ‘komplotan kudeta’, beberapa di antaranya dilaporkan digantung dalam kondisi tidak bersenjata dan mencoba untuk menyerah . ”

Fakta bahwa mereka menulis “komplotan kudeta” dalam tanda kutip menunjukkan bahwa mereka tidak menganggap hal ini sangat serius atau bahwa mereka menemukan upaya kudeta dipertanyakan kebenarannya. Mereka berfokus tentang bagaimana 24 komplotan kudeta yang “digantung” dan mengabaikan fakta bahwa diantara warga sipil yang tewas termasuk dua wanita, seorang remaja 15 tahun, atau warga sipil tak bersenjata yang dibantai saat memprotes upaya kudeta di Jembatan Bosphorus.

Amnesty International menyajikan dua artikel di situsnya pada 21 Juli dan 24. Salah satunya berjudul “Turki: Negara darurat tidak harus memutar kembali hak asasi manusia” dan yang lainnya “Turki: Pengawas Independent harus diizinkan untuk mengakses tahanan di tengah tuduhan penyiksaan . “Sekali lagi, penilaian buru-buru dilemparkan keluar, dengan klaim yang didasarkan pada pandangan pengamat independen, menyatakan bahwa Amnesty International telah mencapai” bukti substansial” bahwa tahanan disiksa. Mencatat bahwa mereka berbicara kepada pengacara dan dokter dari tahanan dan salah satu penjaga, Amnesty International, dalam klaim sepihak mereka sendiri, berusaha untuk mengekspos perlakuan tahanan di Turki secara rinci. Penilaian, misalnya, mengatakan sebagai berikut: “Meskipun gambar mengerikan dan video penyiksaan telah disiarkan secara luas di seluruh negeri, pemerintah tetap diam pada penyiksaan tersebut. Gagal untuk mengutuk penganiayaan atau penyiksaan dalam keadaan ini sama saja dengan membiarkan hal itu terjadi. ”

Belum lagi diamnya Amnesty tentang bagaimana komplotan kudeta membantai warga yang tidak bersalah, warga sipil yang melakukan protes damai, upaya untuk mempersiapkan laporan “kredibel” dalam waktu yang singkat dengan tuduhan bahwa tahanan disiksa adalah sesuatu yang harus benar-benar dipertanyakan. Namun, alih-alih membela warga sipil yang haknya dilanggar, Amnesty International melampaui tujuannya dengan bertanya tentang kondisi komplotan kudeta dan menuduh orang-orang Turki dan pemerintah menyiksa mereka adalah sesuatu yang benar-benar tidak dapat diterima.

Penilaian ini tidak berarti apa-apa untuk kami, karena, dalam penerbitan laporan yang bertentangan dengan tujuan dan nilai-nilai dasar, pertama-tama Amnesty International harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini : Apakah kehidupan warga sipil yang dibunuh kurang berharga dari para pelaku kudeta yang masih hidup? Apakah nyawa yang diambil dari para perempuan dan orang-orang muda yang dibunuh, mimpi yang belum direalisasi, rasa sakit dan penderitaan keluarga yang ditinggal tidak berarti apa-apa bagi mereka?

000c8e30-642

h5y2vznde6m3cfkn5ttzdade8vo8j0rc-large

Middle East Monitor

Berikan Tanggapan Anda...

comments

LEAVE A REPLY